ARCANA DOMUS

KIN DOUTZEN
Chapter #3

BAB 3 :: Manisan petaka

Luna tersentak. Napasnya terputus-putus, seolah paru-parunya aru saja dipompa keluar dari kedalaman air yang pekat. Jantungnya berdenyut hebat, menghantam tulang rusuknya dengan ritme yang kacau.

Dingin.

Kulit lehernya masih terasa perih, menyisakan sensasi dari sentuhan jari-jari tulang yang melingkar di sana beberapa detik yang lalu.

Ia mengerjapkan mata berkali-kali. Gelap. Namun bukan kegelapan pekat yang menelan segalanya seperti di meja makan tadi. Ini adalah kegelapan kamar tidur yang terasa akrab untuknya.

Pandangannya menatap jendela yang diterpa oleh cahaya bulan, Sinarnya menyelinap masuk melalui celah gorden, membentuk garis-garis perak di atas selimut katun berwarna biru muda yang menyelimuti tubuhnya.

Luna bangkit terduduk, tangannya bergetar hebat saat meraba lehernya sendiri. Kosong. Tidak ada tangan. Tidak ada bau bangkai. Hanya ada aroma melati dari pengharum ruangan gantung yang bergoyang pelan terkena embusan angin dari celah jendela– yang seingat Luna sudah ditutup rapat.

“Hanya mimpi…” bisiknya pada kesunyian yang terasa lebih dingin. Suaranya bahkan terdengar asing, pecah, dan sedikit kering.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghapus bayangan wajah Brian yang robek dan tatapan Ayah yang bergeser. Bagaimana munhkin otak manusia bisa menciptakan horor sejahat itu terhadap orang-orang yang paling dicintainya? Luna merutuki dirinya sendiri.

Barangkali rasa bersalahnya karena meninggalkan mereka selama bertahun-tahun telah menjelma menjadi monster alam bawah sadarnya yang kini balik menyerangnya.

Luna kini meninggalkan tempat tidurnya yang empuk. Lantai yang diinjaknya terasa begitu dingin, namun kokoh. Ia melangkah menuju arah jendela yang tirainya sedikit bergoyang, menyibaknya sedikit untuk melihat keadaan di luar sana.

Di luar, halaman rumah tampak asri. Pohon Jambu yang dahulu ia tanam bersama sang Ayah masih berdiri teduh, daun-daunnya berkialu terkena embun. Semuanya tampak normal.

Semuanya tampak…Sehat.

Ia berbalik, menatap sekeliling kamarnya. Meja rias dengan cermin kecil di atasnya tampak serasi, rak buku yang penuh dengan novel-novel masa remajanya masih utuh, dan pandangannya beralih ke sebuah foto kecil di samping parfum kesayangannya. Luna mengambil foto itu dengan pikiran yang sedikit buram.

Di dalam foto itu, ia berdiri di antara Brian dan Bianca yang mengenakan seragam SMA. Mereka bertiga tampak bahagia dengan tawa yang hangat.

“Aku sudah pulang,” gumam Luna, Seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa realita yang indah inilah yang benar, sementara kejadian di meja makan hanyalah sisa-sisa trauma perjalanan.

Tiba-tiba, pintu kamarnya berderit terbuka perlahan.

Luna membeku. Ia menoleh dengan waspada, ototnya menegang dan debaran jantungnya mulai terdengar tidak beraturan. Entah dari apa, Ia siap untuk berlari. Namun, yang muncul dari balik pintu bukanlah monster, melainkan sosok kecil yang mengenakan piyama bergambar dinosaurus.

“Kak Luna? Kakak belum tidur?”

Itu adalah Brian. Wajahnya utuh. Matanya bulat dan jernih, memantulkan cahaya rembulan. Tidak ada luka, tidak ada kulit sepucat mayat. Terlihat ia memeluk sebuah bantal guling dengan erat, tampak sedikit malu-malu berdiri diambang pintu.

“Brian… kamu buat kakak kaget,” Luna menghembuskan napasnya lega yang panjang. Ia meletakkan foto itu kembali dan menghampiri adiknya.

“Aku tidak bisa tidur,” Bisik Brian. Ia masuk ke kamar Luna, langkahnya nyaris tidak terdengar di atas lantai kayu. “Aku bermimpi kakak pergi lagi. Aku mencari kakak ke seluruh rumah, tapi semua pintu terkunci. Aku takut, kak.”

Hati Luna serasa diremas. Ada rasa bersalah yang menjalar dingin ke dadanya, yang selama ini ia tekan akhirnya kembali ke permukaan, namun kali ini dalam bentuk kasih sayang yang meluap. Ia berlutut di depan Brian, menyamai tinggi adiknya, lalu memegang kedua bahu kecil itu. Rasanya nyata. Hangat, padat, dan hidup.

“Kakak disini, Brian. Kakak tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Kakak janji,” Luna berkata dengan nada yang paling meyakinkan yang bisa ia buat.

Brian menunduk, memainkan ujung bantal gulingnya. “Janji? Ayah bilang orang dewasa tidak suka berjanji hanya supaya anak kecil diam, tapi setelah itu mereka akan lupa begitu saja.”

Lihat selengkapnya