Perpustakaan keluarga France adalah sebuah labirin yang terbuat dari aroma kayu jati tua dan janji-janji yang tidak akan pernah diepati. Ruangan itu terletak di sayap paling sunyi dari rumah, di mana cahaya matahari bisa masuk melalui jendela-jendela tinggi dengan motif patri yang pecah-pecah, menciptakan lantai yang dipenuhi oleh mozaik warna-warni. Bagi Luna, melangkah ke sini adalah cara yang tepat untuk melupakan bau tanah yang sesekali tercium dari dapur.
Di tengah ruangan yang dikelilingi rak buku setinggi langit-langit, ada Bianca yang sedang berdiri di tangga kayu yang bisa digeser. Ia tampak seperti peri buku yang terjebak di dalam hutan kertas. Gaun rajutnya yang berwarna putih gading tampak bersinar dan berkiau, serasi dengan debu-debu halus yang menari di udara seolah-olah itu adalah pengganti dari keberadaan serbuk peri dalam dongeng.
"Kak Luna, lihatlah,"
Suara Bianca begitu merdu, seperti melodi yang lahir diantara harapan Luna yang abadi namun terasa canggung. Suara itu lembut dan menggema di antara ribuan jilid buku, "Di sini, aku memiliki semua dunia yang tidak pernah bisa aku sentuh."
Luna mendekat dengan senyuman hangat yang terajut di wajahnya, tangannya terulur menyentuh punggung buku-buku tebal bersampul kulit itu. "Kau selalu mencintai tempat ini lebih dari siapapun, Bianca,"
Bianca terkekeh pelan, kakinya meraba anak tangga dengan pasti untuk turun dari tangga, gerakannya seringan kapas. Di tangannya, ia membawa turun sebuah buku yang sangat tebal, mungkin lebih dari seribu halaman, dengan judul berlapis emas yang sudah sedikit pudar di beberapa sudutnya. Buku itu memiliki judul dengan motif 'embos' di sana, bertuliskan; The Great Escape.
"Aku sedang mengoleksi buku-buku tentang perjalanan jauh, kak," ujar Bianca, matanya berbinar dengan cara yang tidak biasa, seperti terlalu terang, seolah ada api yang siap membakar kapan saja di balik retina yang Luna ingat teduh itu. "Eropa, Pegunungan Alpen, Pesisir Amalfi...Aku sudahh membaca semuanya berkali-kali. Aku sudah tahu di mana aku akan tinggal, di mana aku akan meminum kopi di pagi hari, dan bahasa apa yang akan kugunakan untuk menyapa orang asing."
Bianca dengan senyumnya yang masih hangat dan ceria itu menarik tangan Luna dengan begitu antusias. Menyusuri setiap rak-rak buku yang tampaknya tak ada ujungnya. Setiap langkah mereka mengetuk lantai yang dilapisi oleh permadani tebal dan mewah, karpet itu juga terasa begitu empuk, seolah-olah dunia kuar yang bising tidak pernah ada.
"Nahh, ini adalah buku kesayanganku, kak," Bianca menunjukkan sebuah buku ensiklopedia tentang navigasi laut. "Ayah bilang, jika aku cukup rajin membaca, suatu hari dia kan membelikanku tiket pesawat ke mana pun aku mau. Dia bilang, keluarga kita akan pergi bersama-sama. Kakak, Ayah, Ibu, aku, dan Brian. Kita akan terbang melintasi samudera, meninggalkan rumah tua ini selamanya."
Luna tersenyum, meski ada sesuatu yang menusuk di dadanya. "Ayah memang selalu menjanikan hal-hal yang besar."
"Bukan hanya janji, kak! Lihat!" Bianca membuka buku itu dengan antusias. Di dalamnya, terselip puluhan brosur wisata yang sudah menguning dan beberapa sketsa buatan tangan tentang koper-koper yang sudah dipak rapi. "Aku sudah menyiapkan semuanya di dalam kepalaku. Setiap kata di buku ini adalah jembatan bagiku unuk keluar dari sini."
Suasana terasa begiu hangat dan intim. Sinar matahari sore membungkus mereka dalam pelukan yang hangat. Bianca terus berceloteh, memamerkan buku-buku tebal tentang geografi, arsitektur dunia, filosofi kebebasan. Ian tampak begitu hidup, begitu penuh harapan.
Untuk sesaat, Luna benar-benar percaya bahwa Bianca baik-baik sana. Bahwa tragedi yang ia ingat hanyalah sisa-sisa dari paranoia hidupya yang keras di kota.
Namun, tak lama, saat Luna merai sebuahh buku berjudul 'Rusia' yang ditunjukkan Bianca, sesuatu terjadi.
Jemarinya tidka merasakan kulit sampul buku yang halus. Sebaliknya, ia merasakan seperti menyentuh permukaan yang basah dan licin, seperti kulit yang baru saja dikuliti dengan hati-hati.
Luna menarik tangannya dengan cepat, namun penglihatannya mendadak bergetar. Sinar matahari emas yang tadinya indah tiba-tiba berubah menjadi abu-abu pucat, seperti cahaya di dalam kamar mayat. Debu yang menari di udara kini tampak seperti butiran abu sisa pembakaran.
"Bianca?" suara Luna menciut.
Bianca masih tersenyum, tapi senyumnya tidak lagi sampai ke mata. Bahkan sorot matanya kini seolah menceritakan sesuatu yang janggal. Sambil tersenyum, gadis itu membuka sebuah buku tebal lainnya, kali ini tentang 'Hutan-Hutan Jerman'.
Bianca masih tersenyum, tapi senyumnya tidak lagi sampai ke mata. Senyum itu mengandung sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah oleh Luna.
"Buku ini berat sekali, Kak. Kau tahu kenapa?" Bianca ertanya, suaranya kini terdengar lebih berat, seolah-olah tersumbat oleh sesuatu yang sangat kental dan berlendir.