ARCANA DOMUS

KIN DOUTZEN
Chapter #5

BAB 5 :: Dongeng Sebelum Tidur

"Kak Luna?" suara Brian kecil, seolah-olah takut getaran suaranya akan meruntuhkan dinding yang ada di sekitarnya.


Luna tersentak, kala suara adik laki-lakinya yang merayap di pendengarannya datang dengan tiba-tiba. Ia terkejut dan refleks melihat ke sekelilingnya. Kejadian sebelumnya seolah tidak nyata, seperti ada yang terpotong, ia mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelumnya, tapi Luna seolah tidak menemukan ingatan yang tepat. Hingga kakinya berhenti tepat di pintu adik bungsunya.


Semuanya seolah memiliki tabir yang yang tidak mudah ia singkap. Saat ingin mengakui bahwa itu hanyalah halusinasi yang berat, kegelapan di perpustakaan itu seolah-olah mengejeknya dan terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi. Dan itu terus menerus masih menghantuinya, menempel di kulit Luna, seperti jelaga yang yang sulit dibasuh.


Matanya kembali jatuh pada pintu kamar Brian yang memiliki nuansa yang lebih hangat dari ruangan lainnya. Di sana, cahaya hangat berwarna jingga merembes dari celah pintu, menawarkan perlindungan sementara dari kegilaan yang baru saja terjadi.


"Kakak dari mana?" tanya Brian yang menatapnya polos.


Luna memaksakan senyum aling manis yang ia miliki. Ia berjalan mendekati Brian, mengelus kepala belakang Brian lembut dan berjongkok di dahapan Brian, "Tidak ada, ayo masuk."


Luna mendorong pintu itu pelan. Aroma di dalam sini berbeda—bau bedak bayi, kayu manis, dan kapur barus yang menenangkan. Brian berjalan dan menaiki ranjang tidur miliknya, sedangkan Luna pergi ke sudut ruangan yang dipenuhi oleh banyak buku itu.


Luna mengambil satu dari banyaknya buku bersampul yang menarik perhatiannya itu. Ia kembali menoleh ke adiknya yang sudah memeluk bantal tidurnya dangan erat. Matanya seolah menatap jauh ke luar jendela yang menampilkan kegelapan malam Jakarta yang tak berujung.


Ia berjalan menghampiri Brian, duduk di sisi kasur yang empuk yang terasa begitu nyata. Tidak ada buku yang berubah menjaid daging di sini, hanya ada sprei yang bergampar planet dan tumpukan mainan robot di sisi ranjang lainnya.


"Maaf yaa kakak terlambat, Brian. Tadi... Kakak terjebak sedikit di perpustakaan," Luna mengusap rambut adiknya. Testur rambut itu alus, tidak berminyak, tidak berbau tannah. Luna bernapas lega. "Kau sendiri dari mana? kenapa belum tidur?"


Brian menggeleng, "Aku menunggu dongengnya. Kakak janji tadi siang."


Luna tertegun sejenak, mengingat- ingat lagi, janji mana yang ia utarakan pada adik bungsunya itu, Kemudian ia mengangguk perlahan. Ia menarik napasnya dalam mencoba menstabilkan debar jantungnya. "Baiklah. Sebuah dongeng untuk penguasa planet Purbakala. Mau dengar cerita tentang apa? atau mau yang ini?" tawarnya sambil mengangkat buku di dalam genggamannya.

"Tidak mau itu," ucap Brian melihat buku di genggaman Luna, "Brian mau dengar tentang burung yang punya sayap dari kaca."

Luna menahan napas sejenak, ia teringat akan Bianca dan keheningannya yang tajam, namun ia segera menepis bayangan itu. Ia berdeham, mulai memilin kata-kata dengan nada rendah yang menenangkan, nada yang dulu sering ibu gunakan sebelum dunia mereka hancur.


Lihat selengkapnya