Pada mulanya, tidak ada apa pun kecuali keheningan yang melahirkan suara pertama. Suara itu bukan kata, bukan nyanyian, melainkan detak jantung yang memutuskan untuk berdetak setelah keabadian yang sunyi. Detak itu bergema melintasi ketiadaan, dan di dalam gemanya, mereka terbangun.
Mereka tidak tahu dari mana mereka berasal. Mereka tidak tahu mengapa mereka ada. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka adalah, dan di dalam keberadaan mereka, ada kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa apa pun yang akan pernah diciptakan oleh makhluk fana. Kekuatan itu berputar di dalam diri mereka seperti galaksi yang baru lahir, membara, mencari bentuk.
Mereka menyebut diri mereka Eternal Cards.
Jumlah mereka tidak banyak dan tidak sedikit—cukup untuk membentuk sebuah dek yang takdirnya belum ditulis. Masing-masing dari mereka membawa esensi yang berbeda: ada yang membawa api yang tidak bisa dipadamkan, ada yang membawa air yang mengingat setiap arus yang pernah mengalir, ada yang membawa tanah yang menyimpan tulang-belulang waktu, ada yang membawa angin yang membawa bisikan dari masa depan. Dan ada satu di antara mereka yang membawa sesuatu yang tidak bisa dinamai. Sesuatu yang bukan terang, bukan gelap, bukan ada, bukan tiada. Sesuatu yang bahkan Eternal Cards lainnya tidak berani menyentuhnya dengan kesadaran mereka.
Ia adalah Kael'rith. Eternal Card of Void.
Dan di dalam dadanya, ada kehampaan yang menunggu untuk diisi.
***
Para Eternal Cards tidak diciptakan untuk berdiam diri. Kekuatan yang mengalir di dalam diri mereka adalah kekuatan yang menuntut ekspresi, seperti sungai yang menuntut muara. Maka, ketika mereka telah cukup memahami siapa diri mereka, mereka melakukan apa yang dilakukan oleh semua pencipta sebelum dan sesudah mereka: mereka membangun sebuah dunia.
Dunia itu tidak lahir dalam semalam. Ia lahir melalui perdebatan yang berlangsung selama berabad-abad—meskipun kata "abad" belum memiliki makna saat itu. Beberapa Eternal ingin dunia yang terbakar oleh api. Beberapa ingin dunia yang tenggelam dalam lautan. Beberapa ingin dunia yang membeku dalam es abadi. Mereka berdebat, mereka bertikai, dan untuk pertama kalinya, mereka mengenal konflik.
Namun pada akhirnya, mereka mencapai kesepakatan. Dunia tidak akan dikuasai oleh satu elemen. Dunia akan menjadi tempat di mana semua elemen hidup berdampingan, saling menyeimbangkan, saling mengisi. Dunia akan memiliki empat pilar yang menopangnya, dan keempat pilar itu akan dinamai sesuai dengan suit yang mereka ciptakan: Diamond, Heart, Clover, dan Spade.
Diamond akan menjadi fondasi—bumi yang kokoh, gunung yang menjulang, tanah yang memberi kehidupan.
Heart akan menjadi aliran—air yang menghidupi, lautan yang menyimpan misteri, sungai yang menghubungkan.
Clover akan menjadi napas—angin yang membawa perubahan, badai yang membersihkan, embusan yang menumbuhkan.
Dan Spade… Spade akan menjadi ujung tombak. Bukan elemen, melainkan kekuatan yang membuat semua elemen bergerak. Kehendak. Ambisi. Konflik. Spade akan menjadi suit yang paling ditakuti dan paling dihormati, karena tanpa Spade, dunia akan menjadi taman yang statis—indah, tapi mati.
Keempat suit ini diukir ke dalam jalinan realitas dunia yang sedang dibangun. Eternal Cards menuangkan sebagian dari esensi mereka ke dalam ciptaan ini, mengikatkan diri mereka pada takdir dunia yang akan datang. Mereka tahu bahwa setiap retakan di dunia akan mereka rasakan. Setiap kehancuran akan menggema di dalam tulang-tulang kosmis mereka. Tapi mereka juga tahu bahwa setiap kehidupan yang tumbuh, setiap bunga yang mekar, setiap tawa yang akan lahir dari makhluk-makhluk yang akan menghuni dunia ini—semua itu akan menjadi milik mereka juga.
Dunia itu mereka beri nama Cardian.