Aula itu terlalu besar untuk seorang anak berusia tujuh tahun.
Itulah hal pertama yang Gita sadari ketika ia melangkah masuk. Langit-langitnya menjulang begitu tinggi sampai lampu-lampu kristal yang bergelantungan tampak seperti bintang-bintang yang terperangkap. Lantainya terbuat dari marmer hitam yang memantulkan bayangan siapa pun yang berjalan di atasnya, membuat setiap langkah terasa seperti berjalan di atas permukaan danau yang membeku. Dindingnya dihiasi ukiran-ukiran yang menceritakan kisah penciptaan dunia—kisah yang sudah Gita dengar ratusan kali, tapi tidak pernah benar-benar ia pahami.
Di ujung aula, empat singgasana kecil berjajar. Itu bukan singgasana untuk raja atau ratu. Itu adalah singgasana untuk sesuatu yang lebih tinggi, lebih langka, lebih menakutkan.
Untuk Ace. Dan salah satunya akan menjadi miliknya.
Gita menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menyembunyikan getaran yang tidak bisa ia kendalikan. Ia tidak ingin siapa pun melihat bahwa ia takut. Orang-orang sudah cukup banyak menatapnya dengan aneh—tatapan yang terlalu lama, bisikan-bisikan yang berhenti ketika ia mendekat, senyum yang tidak pernah mencapai mata. Ia tidak mengerti apa artinya semua itu. Yang ia tahu, ia berbeda. Dan menjadi berbeda, di dunia yang dibangun di atas keseimbangan, adalah sesuatu yang tidak nyaman.
"Hari yang besar."
Suara itu datang dari sampingnya. Gita menoleh dan mendapati Fenrith Duskthorn berdiri di sana, tangannya bersilang di dada, matanya menatap aula yang sama. Rambut peraknya—aneh untuk anak seusianya—berkilau di bawah cahaya lampu kristal. Ia tampak tenang, seperti biasa. Terlalu tenang untuk anak laki-laki yang akan memikul salah satu beban terbesar di dunia.
"Kau tidak gugup?" tanya Gita, benci pada dirinya sendiri karena suaranya sedikit bergetar. Fenrith mengangkat bahu.
"Ayahku bilang, Ace tidak punya kemewahan untuk gugup."
"Ayahku tidak bilang apa-apa," gumam Gita.
Itu tidak sepenuhnya benar. Ayahnya—atau setidaknya, pria yang seharusnya menjadi ayahnya—tidak pernah mengatakan apa pun padanya. Karena ia tidak pernah ada. Gita hanya tahu namanya: Kael'rith. Hanya itu. Ibunya, Umbraeth, juga jarang berbicara. Ketika ia berbicara, kata-katanya selalu pendek, dingin, seperti angin yang berembus dari tempat yang tidak pernah disentuh matahari.
Fenrith memandangnya, dan untuk sesaat, sesuatu berkilat di matanya—sesuatu yang mungkin adalah pengertian, atau mungkin hanya pantulan lampu kristal. "Kau akan baik-baik saja, Gita."
Gita ingin bertanya bagaimana ia bisa begitu yakin. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, dua sosok lain bergabung dengan mereka.
Grace Duskthorn—adik Fenrith—berjalan dengan langkah ringan yang sama sekali tidak mencerminkan gravitasi acara ini. Rambut hijaunya yang seperti lumut tergerai di bahu, dan di wajahnya ada senyum yang selalu membuat Gita bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa secerah itu. Di belakangnya, Shin Vaelthorn mengikuti dengan langkah hati-hati, seolah-olah setiap ubin yang ia injak bisa meledak kapan saja. Rambut merahnya mencolok di antara mereka berempat, seperti percikan api yang tidak bisa disembunyikan.
"Kita benar-benar akan menjadi Ace," kata Grace, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada yang lain, "aku tidak percaya."
"Aku juga tidak percaya," jawab Shin datar. "Tapi lebih ke arah tidak percaya kenapa aku yang dipilih."
Gita hampir tersenyum. Hampir.
***
Upacara dimulai tanpa kemeriahan. Tidak ada musik. Tidak ada kerumunan. Hanya empat anak yang berdiri di depan empat singgasana kecil, dan di hadapan mereka, berjajar di balkon yang melingkari aula, para Archcards—makhluk-makhluk yang dibentuk langsung oleh Eternal Cards untuk menjadi perantara antara langit ketujuh dan dunia Cardian. Wajah mereka tertutup tudung, tubuh mereka memancarkan cahaya redup dengan warna yang berbeda-beda. Mereka tidak berbicara. Mereka hanya menunggu.
Chronaris melangkah maju. Eternal Card of Time tidak terlihat seperti yang Gita bayangkan. Ia tidak tua, tidak berjubah hitam, tidak membawa sabit. Ia tampak seperti pria paruh baya dengan rambut perak yang jatuh ke bahu dan mata yang warnanya berubah-ubah—kadang biru, kadang emas, kadang abu-abu seperti langit sebelum hujan. Ketika ia berbicara, suaranya terdengar seperti suara yang datang dari segala arah sekaligus.
"Hari ini, keseimbangan dunia Cardian diperkuat lagi."
Kata-katanya menggantung di udara, berat dan lambat, seperti tetesan air yang jatuh ke permukaan kolam yang sunyi.
"Sejak awal waktu, Eternal Cards telah menjaga keseimbangan melalui empat pilar. Diamond. Heart. Clover. Spade. Setiap generasi, empat jiwa dipilih untuk menjadi ujung tombak pilar-pilar ini. Empat jiwa yang akan memikul beban yang tidak bisa dipikul oleh manusia biasa. Empat jiwa yang akan menjadi Ace."