Arcanaeum: The Wild Cards

Fiqih Tamir
Chapter #3

The Grand Cards

     Pelantikan para Ace adalah awal, bukan akhir. Dunia Cardian tidak bisa berdiri hanya di atas empat pundak, meskipun pundak-pundak itu dipilih oleh para Eternal sendiri. Sebuah dek membutuhkan lebih dari sekadar kartu tertinggi. Ia membutuhkan kartu-kartu yang berdiri di antara Ace dan rakyat jelata—kartu-kartu yang memerintah, memutuskan, dan kadang-kadang, berkorban.


     Mereka adalah Grand Cards: delapan jiwa yang dipilih untuk menjadi King dan Queen dari setiap suit. Mereka bukan Ace. Mereka tidak membawa kekuatan elemental yang menggetarkan tanah dan membelah lautan. Tapi di pundak mereka, roda pemerintahan berputar. Di tangan mereka, hukum ditegakkan. Di hati mereka, keseimbangan dijaga—atau dihancurkan.


     Pelantikan mereka dilakukan tiga hari setelah para Ace menerima tanda mereka. Aula yang sama. Lampu kristal yang sama. Tapi jumlah saksi kali ini jauh lebih banyak. Para bangsawan dari seluruh penjuru Cardian memenuhi balkon-balkon yang melingkari aula. Mereka datang dari kerajaan Diamond yang bertembok batu, dari kepulauan Heart yang terapung di atas lautan, dari padang rumput Clover yang tak berujung, dan dari benteng-benteng Spade yang berdiri di perbatasan-perbatasan liar. Mereka datang untuk melihat siapa yang akan memimpin mereka.


     Mereka tidak datang untuk Gita. Tapi Gita ada di sana, berdiri di antara Fenrith dan Grace, menyaksikan semuanya dari balkon khusus yang disediakan untuk para Ace. Tanda Spade di punggung tangannya masih berdenyut pelan. Ia belum terbiasa dengan sensasi itu-seperti ada sesuatu yang hidup di bawah kulitnya, menunggu untuk dipanggil.


***


     Prosesi dimulai. Delapan nama dipanggil satu per satu oleh para Archcards yang suaranya menggema tanpa sumber. Setiap nama adalah sebuah takdir. Setiap langkah menuju singgasana adalah sebuah sumpah yang belum diucapkan. Untuk Diamond, nama pertama yang dipanggil adalah Freylen Duskthorn.


     Ia melangkah maju, dan aula seketika menjadi lebih tenang. Bukan karena ia menakutkan. Sebaliknya, justru karena ia memancarkan sesuatu yang langka di dunia yang mulai mengenal intrik dan perebutan kekuasaan: ketulusan. Rambut cokelatnya yang tebal disisir rapi, dan di bahunya, jubah warna tanah—warna Diamond—jatuh dengan anggun. Ia bukan laki-laki yang tinggi, tapi caranya berjalan membuatnya tampak seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan.


     Di samping Gita, Fenrith menegakkan punggungnya. Grace menyenggol lengan kakaknya pelan. "Ayah terlihat gugup," bisiknya.

     "Kau salah," jawab Fenrith tanpa menoleh. "Ayah tidak pernah gugup."


     Fionyx Duskthorn dipanggil setelahnya. Ratu dari Diamond. Ibu dari Fenrith dan Grace. Ia berjalan dengan langkah yang lebih ringan dari suaminya, tapi ada ketajaman di matanya yang menunjukkan bahwa ia melihat lebih banyak daripada yang ia tunjukkan. Rambutnya yang hitam legam dikepang ke belakang, dan di lehernya, sebuah liontin kecil berbentuk wajik bergelayut-hadiah dari suaminya, berpuluh-puluh tahun yang lalu, ketika mereka belum menjadi siapa-siapa.


     Ketika ia berdiri di samping Freylen, ia menyentuh lengan suaminya. Hanya sebentar. Hanya sekilas. Tapi di sentuhan itu, ada seluruh dunia yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

     "King dan Queen of Diamond," suara Chronaris menggema. "Kalian akan memerintah bumi. Setiap batu yang menopang dunia ini, setiap gunung yang menjulang, setiap tanah yang menumbuhkan kehidupan—semuanya adalah tanggung jawab kalian. Apakah kalian menerima beban ini?"

     "Kami menerima," jawab mereka bersamaan. Cahaya cokelat menyelimuti mereka, dan dua tanda wajik muncul—di punggung tangan Freylen, dan di punggung tangan Fionyx. Tanda itu lebih sederhana dari tanda Ace, tapi tetap bersinar dengan janji yang kokoh. Fionyx menunduk sedikit, rambutnya menutupi wajahnya. Tidak ada yang melihat bibirnya bergerak, membisikkan sesuatu yang hanya didengarnya sendiri:


     "Dunia ini terlalu tenang. Seperti sebelum badai."


***


     Untuk Heart, nama yang dipanggil selanjutnya membawa serta beban sejarah dan sepasang mata yang menyala seperti bara.


     Reysha Velkaris.


     Ia melangkah maju, dan aula merasakan gravitasinya sebelum ia bahkan membuka mulut. Darah Aldric, manusia pertama yang diciptakan para Eternal, mengalir di nadinya. Itu adalah darah tertua di Cardian, darah yang menyaksikan dunia ini lahir dari ketiadaan. Tapi Reysha tidak membawa warisan itu seperti jubah yang memberatkan. Ia membawanya seperti pedang yang diasah—siap digunakan, siap ditegakkan. Tubuhnya tinggi dan tegap, dengan bahu yang lebar dan rahang yang kokoh. Rambut hitam legamnya dipotong pendek, rapi, tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Matanya berwarna perak-bukan abu-abu, melainkan perak sungguhan, seperti logam cair yang membeku. Ketika ia berjalan melewati barisan bangsawan, beberapa dari mereka tanpa sadar menundukkan kepala lebih dalam.


     Di balkon, Shin Vaelthorn memperhatikan dengan tatapan yang sulit dibaca. "Dia terlihat seperti seseorang yang tidak pernah kalah," gumamnya.

     "Dia memang tidak pernah kalah," jawab suara di belakangnya.


     Lumira Vaelthorn melangkah ke depan, meninggalkan tempatnya di antara para calon Grand Cards yang belum dipanggil. Rambut merahnya-merah yang sama dengan rambut adiknya, Shin—tergerai di bahu, dan di matanya ada api yang sama yang membara di darah keluarga Vaelthorn. Tapi ada sesuatu yang lebih tenang dalam dirinya, lebih terkendali. Jika Shin adalah api yang menyambar-nyambar, Lumira adalah api perapian di malam musim dingin: hangat, stabil, dan tahu kapan harus membesar. Ia dipanggil setelah Reysha.

Lihat selengkapnya