Sore yang begitu terik, semua anak SMA nusantara bergegas pulang dan terlihat wajah mereka ada yang kelelahan dan ada juga yang sangat senang, mereka semua saling berbincang dengan teman-temannya, pulang sekolah adalah hal yang sangat mereka tunggu-tunggu. Akan tetapi ada seorang anak yang sedang berjalan sendiri, berjalan meilihat langkah kakinya, ia tak berani memandang kedepan seolah sedang menghindar dari tatapan semua orang.
"Entah sejak kapan aku tak memiliki semangat untuk menjalani hidup." gumamnya dalam hati.
"Edwar!!" suara teriak seorang lelaki dari belakang.
"Jangan memanggilku, berikan aku waktu untuk diriku sendiri" gumamnya kembali dalam hati sambil terus berjalan dan mengabaikan panggilan itu.
"Woi! Gendut!" suara yang sama meneriaki Edwar.
Edwar hanya terus berjalan tak memerdulikan panggilan siapapun. Hingga seseorang yang memanggilnya itu berlari pelan kearahnya. "Apa kamu tidak punya telinga?" ucapnya sambil merangkul edwar dengan keras.
"Aku tidak suka di abaikan, dan kau berani sekali mengabaikanku."
"Apa yang kau mau dariku lagi, Rio?" tanyanya dengan lirih
"Hahaha... banyak yang ingin aku lakukan dengamu"
"Apa kau belum puas membuatku seperti ini?" ucapnya dengan nada yang mulai bergelombang menahan rasa sedih.
Rio menatap Edwar dengan senyuman tipis dan wajahnya seolah menggambarkan ingin menjahili Edwar kembali. "Tubuhmu itu memang cocok untuk aku jahili." Rio menjambak rambutnya kebelakang dengan keras sehingga keringat di wajah menciprat ke udara.