"Entah kenapa aku masih ingin sekolah? Entah tujuan apa yang harus aku gapai di sekolah?" Edwar bertanya kepada dirinya yang berjalan ke arah sekolah.
Edwar berjalan dengan tatapan yang sudah menyerah pada dunianya, langkah yang begitu pelan dan pandangan yang selalu melihat kebawah, sesekali menarik nafas panjang."Aku benar-benar sudah hampir muak dengan semua ini," gumamnya dalam hati. Edwar mendengarkan suara anak kecil yang berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Ibu, Ayah. Aku berangkat sekolah dulu ya." anak kecil itu melambaikan tangan dan berlari bahagia
"Iya, anakku. Kamu yang semangat belajarnya dan hati-hati dijalan ya." teriak ibunya namun lembut terdengar.
"Kapan terakhir aku berpamitan kepada Ibu, ya?" gumamnya dalam hati dan mengingat setiap kali teriakan ibunya yang sangat keras, tamparan yang tanpa ada belas kasihan, bentakan yang seolah pedang menancap ketubuh Edwar tanpa ragu.
Tak berapa lama. Edwar sampai disekolah, belum sampai di depan gerbang, tiga orang menarik tangannya membuat Edwar kaget, Edwar ditarik ke hutan disebelah sekolah.
"Berat banget!" ucap Eza, seorang anak kepala sekolah yang selalu berprestasi, namun Eza berprestasi bukan karena ia pintar, namun setiap ada lomba akademi pasti ada kecurangan di dalamnya.
"Iya nih, dasar gendut." ucap Reza sepupunya Eza.
"Nah, iket dia kepohon ini" ucap Rio yang tertawa.
Edwar sama sekali tidak melawan, ia sudah pasrah dengan apa yang mereka lakukan terhadapanya, Edwar hanya bisa menundukkan kepala dan sudah mulai putus asa dengan semua yang terjadi pada dirinya.
"Nah, iket yang kenceng." ucap Rio.
"Setelah di iket ayo buka celananya, dan bajunya, tapi jangan dilepas dari badannya."
"Sebentar aku mau ikat tangannya, biar tidak bisa ia lepaskan."
"Kapan aku menghilang dari dunia ini? Aku sudah muak dengan kehidupan sampah seperti ini, aku benar-benar sudah muak, aku sudah tidak peduli dengan siapapun." gumam Edwar yang semakin dalam.
Edwar membiarkan tiga orang itu mengikat dirinya, karena ia sudah tau, kalau ia melawan, dia dipukul dan semakin mereka seenaknya, dan Edwar sudah tau bahwa dia tidak akan bisa lepas dari gangguan mereka bertiga, selama satu tahun ini ia diperlakukan lebih buruk dari binatang.
"Ayo kita foto dan masukkan ke sosmed." ucap Reza sambil membuka handphone dan diikuti oleh mereka berdua.
Edwar melirik kearah mereka berdua dengan tatapan kebencian dan air mata berkaca-kaca, seolah ada kemarahan yang sudah mengumpul dan akan siap meledak. Rio melihat tatapan itu dan maju perlahan sambil menarik rambut Edwar dengan keras.
"Apa yang kau lihat? Tatapan kau seperti ingin melawan." ucap Rio dengan tegas dan membentak, Rio memukul pipi Edwar dengan keras, bibir Edwar pecah dan berdarah.
"Aku benar-benar sudah muak dengan semua ini, setiap hari aku di perlakukan seperti ini, aku ingin sekali melawan mereka bertiga, aku ingin... aku ingin sekali..." Namun niat itu hilang disaat Eza mulai memukul perut Edwar dengan keras.
Bel masuk berbunyi. Reza, Eza dan Rio tertawa dan meninggalkan Edwar sendirian terikat di pohon, dan mereka masuk kesekolah, tatapan kebencian itu semakin pekat, Edwar mulai memberontak namun tali itu sangat kuat dan akhirnya di pasrah kembali.
Bel istirahat berbunyi, Tak ada satu orang pun yang mau menolong, malah sebaliknya mereka malah mengambil handphone dan mengambil gambarku yang sedang terikat, suara perutku berbunyi. Rio dan Reza datang dengan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... dia masih disana rupanya."
"Lepaskan aku, Rio."