Matahari yang sangat menyilaukan membuat Edwar terbangun, Edwar duduk dan merasakan rumput di telapak tangannya, wajah Edwar yang disapu oleh angin membuat kepalanya menoleh ke sebuah hamparan rumput yang sangat luas.
"Aku dimana?" tanyanya sambil melihat tangan. ia mengingat kejadian di dalam goa. "Aku seharunya di dalam goa?" ucapnya kaget dan berdiri melihat sekeliling. "Apa aku sudah mati?" gumamnya sambil menarik nafasnya. Edwar melihat ke bawah, hendak memastikan dirinya sendiri, betapa kagetnya dia setelah melihat tubuhnya.
"Apa yang terjadi pada tubuhku? Apa yang sebenarnya terjadi?" tubuh Edwar seolah gumpalan asap namun terang. "Apa aku benar-benar sudah mati?" ucapnya sekalu lagi.
"Kau tidak mati, Edwar. Kau berada di dunia lain." Seorang gadis yang berjalan dengan pelan, seolah sedang membelah angin yang berada disekelilingnya.
"Dunia... Dunia lain?" tanya Edwar untuk memastikan.
"Benar, ini adalah alam yang aku buat untuk mengundang seorang yang sangat penting bagiku." suaranya lembut namun tegas.
"Penting?" gumamnya sambil menundukkan kepala, Edwar memikirkan kehidupan yang lalu. "Apa yang penting dari seorang pecundang sepertiku?" kalimat yang keluar dari mulut Edwar yang sangat lemah dan merasa dirinya tidak penting.
"Mungkin di dunia kamu sebelumnya, kau mengira bahwa dirimu sampah," gadis itu menyentuh dagu Edwar dan tidak membiarkannya menunduk. "Tapi di dunia ini, kau adalah hal penting untuk dunia ini." gadis itu tak membiarkan Edwar menundukkan kepalanya. "Kau adalah orang yang selalu aku perhatiakan selama kau ada di duniamu itu, dan aku memanggilmu ke dunia ini karena aku tidak sanggup melihatmu menderita terus-menerus."
"Menderita, ya?" Gumamnya dan ingin menunduk.
"Tegakkan kepalamu, aku tak ingin melihatmu bersedih atas penderitaan yang sudah berlalu. Sekarang kau sudah berada di Nusaraya." ucap gadis itu dengan tegas, bola mata yang berwarna merah gelap disebalah kiri dan bola mata berwarna biru disebelah kanan, warna bola mata yang berbeda tapi memancarkan harapan yang sangat pasti.
"Nusaraya?" tanyanya pelan.
"Nusaraya adalah dunia penyihir, kesatria pedang, pemanah, dan lain-lain."
"Hubungannya denganku apa?" tanyanya sekali lagi.
"Pertanyaan bagus," gadis itu berjalan mengelilingi Edwar. "Aku ingin kau menjadi penyihir yang bisa di andalkan, membantu seseorang, menyatukan sebuah perpecahan, dan kembali menerima dirimu."
"Pada akhirnya, aku akan menjadi pionmu?" ucap pelan Edwar.
"Hahaha... Pion? tidak... tidak. Aku tidak ingin menjadikanmu pionku, yang aku inginkan darimu adalah hatimu, kebaikanmu, dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak bisa menjelaskan, aku tak pandai merangkai kata. Tapi pada intinya adalah aku tidak ingin kau menderita di dunia lamamu, maka dari itu aku memanggilmu lewat sihir yang aku persiapkan sejak lama."
"Jadi aku hanya melakukan yang terbaik?"