"Saat ini aku berumur 5 tahun, aku sudah belajar berpedang dengan ayahku benama Nico. dia adalah ayah yang sangat tegas dalam latihan. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua ini, dan aku ingin mengubah takdirku yang sebagai pecundang menjadi orang yang berguna, namun..."
"Edwar!" teriak tegas ayaku yang melesat ke arahku.
Edwar yang sedang latihan berpedang dengan ayahnya, ia menangkis serangan ayahnya dengan pedang kayu yang di buat oleh ayahnya, sedangan ayahnya begitu kuat dan pergerakannya sangat cepat. "Ayah, kita ini sedang latihan, bisa tidak pelan-pelan." keluhan Edwar yang kewalahan menangkis serangan ayahnya.
"Teruslah bergerak, dan jangan biarkan celah sedikitpun terlihat," ucapnya sambil terus menyerangku dengan pedang kayu. "Diluar sana lebih berbahaya, lihat mataku dan amati pergerakanku."
"Ayah aku ini masih kecil, tidak bisa mengikuti ritme pergerakanmu."
"Kau harus mempelajarinya."
"Ketegasan ayahku, aku akui memang bagus tapi kelemahannya dia tidak bisa mengajarkan anaknya dengan lembut, dia menyamaratakan aku dengan monster yang sering ia tebas di hutan." Keluh Edwar yang selalu terucap saat latihan.
Tak lama pedang yang Edwar gunakan untuk menangkis, melayang terbang ke atas oleh tebasan ayah yang begitu kuat. "Sudah cukup untuk hari ini, ayo kita istirahat." ucap ayahku dengan tatapan sedikit kecewa.
"Ayah, jangan menatapku seolah aku sudah bisa berpedang. Aku masih anak-anak dan kita belajar baru dua bulan."
"Hmmm... kau ini sebenarnya anak siapa sih, berpanah tidak bisa, berpedang tidak mahir, jadi apa yang ada di dirimu."
"Aku masih butuh belajar ayah, Jangan berfikiran aku itu bisa mempelajari dengan cepat." jawabku sambil menatap langit.
Nico duduk disampingnya dan berkata dengan lembut "Ayah dulu bisa menguasai berpedang hanya dua bulan saja."
"Dua bulan?" Edwar kaget mendengarkan kehebatan ayahnya.
"Dua bulan dari mana? Kamu itu belajar berpedang dan mahir selama satu tahun dan di umur sepuluh tahun? ucap ibuku keluar dari rumah dan membawa makanan.
"Dasar tukang kibul." ucap Edwar dengan spontan.