Siang itu memancakan aura yang sangat jahat, Segerombolan serigala berekor tiga muncul didepan desa. Semua yang mendengar ucapan Ellis kaget dan seolah untuk pertama kalinya serigala berekor tiga memasuki perdesaan, "Kenapa mereka menuju desa ini? habitat meraka sangat jauh disini." ucap kepala desa yang sedang memegang pedangnya.
"Ayo, serang mereka sebelum masuk ke perdesaan." Teriak Nico
Semua pria yang memakai pedang untuk menyerang berlari melesat dengan kecepatan penuh, dan wanita yang ahli panah berada di belakang dan dibelakangnya ada penyihir yang siap memberikan dukungan yang di perlukan, para pasukan pedang yang di pimpin Nico bergerak dengan kecepatan penuh. Serigala itu keluar dari hutan, ukuran tubuh serigala itu setinggi orang dewasa. salah satu serigala itu melolong dengan kuat, memberhentikan langkah pendekar pedang.
Setelah lolongan itu selesai, dan pendekar pedang hendak melanjutkan pergerakannya, muncul sepuluh serigala berekor tiga di belakang serigala yang selesai melolong. "Jangan berhenti, ayo sedang!" Teriak Nico yang keras dan membakar semangat pendekar pedang lainnya.
Edwar yang melihat semua itu, kagum dengan ayahnya dan Edwar mendengar teriakan ibunya "Semua pemanah bersiaplah! Bidik keatas! Serang!" anak panah itu mulai melesat dengan jumlah banyak.
"Menjauh!" Teriak Nico yang mendengar suara anak panah yang melesat. "Perhatikan posisi kalian semua!" pendekar pedang yang mendengarkan komando dari Nico langsung bergerak, saat anak panah banyak mengenai punggung serigala itu, para pendekar pedang mulai menyerang mereka denga pedangnya.
Alfa dari serigala itu melihat kelompoknya banyak yang terluka, dan melihat ke arah Nico. Serigala itu seolah mendesis dan menunjukkan gigi tajamnya, Alfa serigala berlari menuju Nico yang sedang menyerang serigala lainnya.
Serigala itu mengeluarkan cakar tajamnya dan hendak menghantam Nico dengan cakar besar.
Ting!!
Suara cakar beradu dengan pedang Nico "Hmm... Licik sekali kau ya. Kau kira aku tidak waspada dengan keberadaanmu."
"Sekarang!" ucap salah satu penyihir.
"Demi nafas api, berikanlah kami kekuatan api yang dahsyar, Bola Api!" kumpulan bola api melesat ke arah Nico dan Alfa yang masih mengadu kekuatan.
Nico menyadari bola api itu dan menendang perut Serigala itu dengan keras dan menjauh dari Alfa. Bola api itu menghantam area disekitar Alfa, membuat asap pekat. Nico memperhatikan kebulan asap itu dengan tajam, saat asap itu perlahan menghilang, alfa itu juga menghilang, "Apa? dimana Alfa itu?" Nico memperhatikan sekeliling, pemanah dan penyihir memperhatikan kemana Alfa itu menghilang.
Edwar yang berada dirumah berteriak "Ibu... Serigala besar itu menuju kerumah kita, lihat kearah samping." Semuanya melihat kearah samping dan langsung menembakkan anak panah, akan tetapi semuanya meleset, Nico langsung berlari sekuat tenaga.
"Ellis!! dia menuju kerumah..."
Edwar melihat mata serigala itu langsung menyadari bahwa Alfa serigala itu tidak menuju para pemanah dan penyihir di depan rumah, Alfa itu mengicar dirinya yang sedang bersembunyi di dalam rumah. "Ellis, dia menuju kerumah, dia melihat Edwar."