Arcane Nusaraya

Baggas Prakhaza
Chapter #6

Ayah, Aku menyayangimu.

"Saat kejadian serigala berekor tiga menyerang desaku, aku untuk pertama kalinya aku menggunakan sihir, semua penyihir di desa selalu berdatangan ke rumahku dan sering bertanya 'Kenapa kamu bisa menggunakan sihir?' dan 'Kau menggunakan sihir tanpa rapal?' Pertanyaan yang aku sendiri bingung menjawabnya. Ayah dan Ibuku juga kebingungan." Gumamku.

Pada siang hari Edwar berlatih kembali dengan ayahnya, akan tetapi Nico semakin meningkatkan seranganya, ekspresinya terlihat sangat serius dan seolah berlatih dengan emosi yang tidak stabil. "Ayah, latihannya bisa pelan-pelan tidak, aku tidak bisa mengikuti ritmemu?" ucap Edwar sambil menangkis serangan ayahnya sesekali hampir mengenai Edwar di bagian perut.

"Kenapa? Kenapa?" Ujarnya dengan tekanan sambil menyerang Edwar.

"Sepertinya aku tau kenapa ayah latihannya sangat brutal dengan aku sekarang." Gumam Edwar sambil menangkis serangan ayahnya.

"Kenapa kau menjadi penyihir? Kenapa kau tidak menjadi kesatria pedang atau ahli panah? sebenarnya kau ini anak siapa?"

Ellis mendengarkan ucapan Nico, ia mengelurkan busur yang bisa muncul langsung dari tanganya dan menarik busur itu tanpa ragu dan melepaskannya, Nico menangkis serangan itu dan melihat Ellis marah dengan mata berkaca-kaca.

"Apa maksud pertanyaanmu itu." Suara Ellis yang bergetar membuat Nico merasa bersalah.

"Bergitulah kalau tidak menjaga lisan saat emosi." Gumam Edwar sambil menurunkan pedang kayunya.

"Aku tidak bermaksud begitu, Sayang?" Ucap Nico yang merasa bersalah dan berjalan untuk menjelaskan ucapannya akan tetapi Ellis masuk kerumah dengan air mata membasahi pipinya.

"Aduh... ayah. aku tak ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian, jangan seret aku ke dalam sengsaraan lagi." Gumam Edwar yang memandangi langit dan mulai berfikir tentang, "Tapi kenapa..." Edwar berhenti berbicara dalam hati dan mengingat ucapan Aghitna tentang orang tuanya "Dia itu tidak tau aturan dunia Nusaraya ini, ya?"

"Yasudah... jangan terlalu diambil pusing, lebih baik aku keluar rumah melihat sekitar, soalnya aku belum pernah sekali pun keluar." Gumam Edwar. Setelah ia melangkah melompati pagar dengan tersenyum, tak lama ekspresi senyum itu berubah menjadi ketakutan, ia melihat kedepan dan membayangkan dirinya keluar rumah di dunia yang lama, melihat semua orang menatapnya dengan meintimidasi, suara-suara yang muncul di kepala Edwar mulai bermunculan, "Sampah... dasar gendut... kau tak layak ada disini... siapa juga yang mau berteman dengan si gendut bau itu." Edwar menoleh ke arah samping kiri, sosok dirinya dulu berada tepat disampingnya berkata "Jika bukan karena diriku yang lemah, aku tidak akan dikucilkan seperti ini." Edwar menoleh ke arah samping kanan, orang-orang yang merundung Edwar dulu berwujud hitam dengan mata kemerahan dan mereka berkata sambil menertawakan Edwar "Dasar bodoh... Hahaha dasar gendut... siapa juga yang ingin menolongmu... tidak ada tempat untuk orang sepertimu... bodoh... bodoh... gendut... bodoh..." Edwar menoleh lagi melihat kedirinya yang dulu, "Kenapa semuanya memperlakukan aku lebih buruk dari sampah? Salah aku apa?" Edwar yang semakin takut memegang kepalanya, orang-orang yang merundungnya mulai mendekat ke arahnya dan menarik tubuh Edwar dengan kuat dan sosok Edwar yang dulu juga mendekat ke arahku dan memegang tangan Edwar.

"Maafkan aku, sayang bukan itu maksudku, aku hanya terbawa emosi saja" ucap Nico di dalam rumah yang sedang menjelaskan kepada Ellis.

Lihat selengkapnya