Arcane Nusaraya

Baggas Prakhaza
Chapter #7

Sedikit untuk Sebuah Tekad

Di belakang rumah, Ellis dan Edwar sedang latihan dengan serius, Ellis mengajari Edwar dengan lembut "Nah, saat kamu menarik tali busur ini, kamu harus tenang, ya." Ellis mengajari sembari merangkul Edwar dari belakang, "Mata kamu harus fokus pada target jerami itu." ucap Ellis sambil mengarahkan tangan Edwar dengan sangat pelan. Edwar hanya mengangguk dan wajahnya sangat serius.

Edwar melepaskan anak panahnya dan membuat anak panah itu melesat mengenai target dengan tepat sasaran, "Kamu hebat anakkku, aduh ibu jadi tambah sayang deh sama, kamu." ucap Ellis sambil mencubit pipi Edwar.

"Cih, itu saja ayah juga bisa." Ejek ayahnya dengan eksperesi cemberutnya.

"Jangan dengarkan ayahmu, dia sedang cemburu." bisik Ellis ke telinga Edwar.

Edwar tiba-tiba memiliki ide untuk menjahili ayahnya, "Ibuu..." ucapnya memelas dan melanjutkan dengan lebih memelas. "Tangan aku sakit, karena menarik tali busur dengan kuat."

"Cih, segitu aja sakit, dasar anak lemah." Ejek ayahnya sambil cemberut.

"Bagian mana yang sakit, sayang? Aduh, apakah ibu melatihmu dengan keras?" Tanya Ellis khawatir.

"Bukan, ini karena aku yang lemah, kata ayah tadi begitu." Edwar melirik ayahnya dengan mengangkat kedua alisnya dan tersenyum licik.

"Jangan dengarkan dia, sini ibu obati rasa sakitnya." Ucap Ellis sambil meniup-niup dan mengelus jari yang Edwar.

Saat jari Edwar di obati dan di elus oleh ibunya, Edwar malah menoleh ke arah ayahnya dengan senyum licik dan menggoyangkan alis sebelah kiri, seolah mengejek ayahnya yang sangat cemburuan. Nico yang berada di dekat pintu belakang rumah, mulai mengeluh juga "Sayang, aku habis berlatih sendirian dan bahuku pegal-pegal dan sakit-sakit."

Ellis menoleh dan menjawab dengan singkat dan cepat, "Itu karena dirimu tidak pemanasan." Dan kembali mengurus Edwar.

Edwar membuat gestur wajah tertawa tanpa ada suara ke arah ayahnya, setelah Ellis sudah selelsai mengobati tangan Edwar, Edwar langsung memeluk ibunya dengan erat, "Terimakasih ya, ibu. kalau tidak ada ibu, aku tidak tau harus bagaimana. Aku sayang ibu." Lilia yang mendengar itu langsung membalas pelukan Edwar dengan erat dan berkata "Iya, ibu sangat menyayangi kamu juga." mendengarkan kata Ellis dan di dengarkan oleh Nico, Edwar langsung melihat ke Nico, Edwar menjulurkan lidah dan mengejek ayahnya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

Nico yang tidak terima di ejek oleh Edwar, Nico memukul kepalanya dengan keras "Aduh, kau kenapa sih ayah?" ucap Edwar sambil mengelus kepalanya dan melepaskan pelukkan dengan Ellis. Ellis yang mengetahui menyingsingkan lengan baju kearah Nico dan memukul kepala Nico dengan keras. Edwar melihat Nico dipukul juga dan mengelus kepalanya, membuat Edwar berdiri dan tertawa terbahak-bahak "Hahaha... tau rasanya, kan? Makanya jangan mukul aku seenaknya."

Nico yang masih mengelus kepalanya dan mendengarkan tawa anaknya, ia semakin kesal dan berdiri, Nico hendak berdiri dan ingin memberikan pelajaran, akan tetapi Ellis berdiri dan menghadapi Nico, "Apa kamu mau menghajar anak kita?" wajah Ellis yang terlihat marah. "Tapi dia yang duluan?" ucap merengut Nico.

"Apa yang dilakukan Edwar kepadamu?" Tanya tegas Ellis.

"Ya... Ya itu..." gengsi Nico yang sangat tinggi sulit baginya mengakui bahwa dia cemburu dengan anaknya sendiri.

"Dengan anak sendiri, kok cemburu sih? aku panas-panasin sedikit aja, langsung terbakar asmara, hahaha..." Edwar yang masih mengejek Nico dengan rasa bahagia karena berhasil menjahili Nico.

Lihat selengkapnya