Nico yang baru pulang dari serikat untuk mencari guru sihir privat dengan wajah yang sedikit murung, Nico membuka pintu dan nadanya tidak bersemangat seperti biasanya, "Aku pulang..." istrinya yang sedang memasak mendengar suara Nico yang sedikit murung.
"Apa yang terjadi, Sayang?" Tanya Ellis yang menghampiri Nico.
"Tidak ada yang mau mengajarkan anak kita." Nico duduk di meja makan dan tubuhnya sangat lemas, seolah sedang putus asa.
"Tidak ada, Kenapa?" Tanya lagi, kali ini Ellis duduk dan menggengam tangan Nico.
"Mereka mengatakan bahwa, anak kita tidak pantas di ajarkan oleh mereka dan rata-rata itu yang mereka bilang." Nico melirik ke arah Edwar yang sedang bermain dengan air dengan kekuatan sihirnya.
"Begitu ya, sayang sekali." Ucap Ellis sambil memandangi Edwar juga, dan ia baru teringat akan satuhal. "Bagaimana kalau kita masukan Edwar ke akademi sihir di tengah kota?"
"Akademi sihir..." Edwar yang mendengarkan obrolan ayah dan ibunya yang akan memasukan Edwar ke akademi langsung berdiri dengan mata ketakutan.
"Ide yang bagus, kamu memang pintar, Sayang." Nico ikut Antusias dan bersemangat mendengarkan ide dari Ellis.
"Akademi..." ucap Edwar yang sangat kecil dan ia menunduk kan kepalanya dan mengingat dulu bagaimana semua orang memperlakukannya di dunia lamanya.
"Iya, kan? Biar Edwar berkembang dengan cepat disana." ucap Ellis yang matanya berbinar-binar.
"Edwar, bagaima..." Nico menoleh lagi ke Edwar dan melihat wajah Edwar yang tidak merasakan hal yang sama dengan Nico dan Ellis.
"Sepertinya tidak usah sampai masuk akademi, deh." Jawab Edwar yang terlihat senyumannya dipaksakan. "Aku belajar sendiri saja."
"Oh begitu... Sayang ayo ke kamar kita diskusi dulu." Nico dengan wajah serius meraih tangan Ellis.
Edwar langsung keluar rumah dan berjalan hingga ke pagar yang terbuat dari batu yang di susun, Edwar yang memiliki trauma yang sangat dalam di sekolah dan dia mendengarkan bahwa ia akan dimasukkan ke Akademi sihir, jantungnya yang mulai berdebar kencang seolah menolak semua hal yang berbau dengan sosial dan akademi.
"Tapi jika aku tolak dan terus berjalan di tempat, aku sama seperti aku yang dulu, aku sudah berjanji akan melangkah maju walaupun melawan ketakutanku." Edwar yang kembali meyakinkan dirinya sendiri.