"Pecundang ya! kata-kata yang sering dilontarkan oleh semua orang di dunia lamaku, apakah aku tidak ada bedanya antara diriku yang dulu dengan yang sekarang?" Gumam Edwar dalam hati.
"Jika tidak ada ketakutan pada dirimu, kamu akan menjadi orang yang sombong dan akan celaka, akan tetapi jika kamu melawan rasa takutmu, kamu akan belajar dan menemukan keindahan di dalam rasa takut yang kamu kalahkan, sekarang kakek ingin bertanya padamu?"
"Apa?" ucap Edwar nyaris tidak terdengar.
"Disaat tidak ada penerangan di rumahmu dan itu sangat gelap, kamu takut tidak?"
"Tidak..." Jawab Edwar dengan pelan.
"Kenapa?" Tanya kakek itu.
"Karena aku sudah tau itu rumahku dan letak barang-barangnya." jawab Edwar dengan lembut.
"Betul, sekarang coba bayangkan kamu berada di dalam Goa dan kamu tersesat disana, kamu takut, tidak?"
"Aku akan takut" Jawab Edwar yang kembali menunduk.
"Apa kamu akan tetap disana tidak mencari jalan keluar karena rasa takutmu?" tanya kakek itu kembali.
Edwar tidak bisa menjawab dan hanya diam menatap punggung kakek itu.
"Edwar, kalau kamu tidak keluar dari Goa itu kamu akan mati deiserang monster atau mati kelaparan, jika kamu mencari jalan keluar ada dua hal yang akan terjadi, kamu akan bahagia menemukan jalan atau kamu mati diserang monster dengan mengalahkan rasa takut dan sedang berjuang, mana yang lebih baik?"
"Melawan rasa takut." saat Edwar menjawab, ada sesuatu yang terbakar dalam hatinya, tangannya menggenggam dengan kuat.
"Ucapakan kakek ini benar, jika aku tidak berjuang apa bedanya aku yang dulu dengan aku yang sekarang, okeh pelan-pelan saja dan tetap melangkah kedepan, aku akan membuktikan bahwa aku bisa melawan rasa takutku." sebuah semangat dan tekat mulai terukir di hatinya.