Arcane Nusaraya

Baggas Prakhaza
Chapter #12

Ujian Pertama

"Hei! Anak baru, aku tidak akan berbelas kasihan ya." Ujar Leo dengan kesombongannya.

Arena mulai sunyi, pandangan yang ada di tribun mulai berfokus pada ujian masuk akademi, Edwar yang berdiri dengan tangan kosong, mencoba menenangkan dan menatap Lio dengan serius. Lio mulai mengaktifkan sihirnya dengan membaca mantra.

"Aku akan memulai duluan, anak baru." teriak Lio yang sangat tegas. "Dengan hantaman batu runcing, hapuskanlah jiwa yang tidak kau inginkan, Melesatlah!"

Tiga batu runcing berputar dengan cepat dan melesat ke arah Edwar, dentuman dan debu akibat serangan Lio memenuhi area Edwar berdiri, "Cih! segini aja nih..." Ujarnya meremehkan.

Semua orang melihat ke arah debu dan hantaman yang sangat keras, saat debu itu mulai hilang, bayangan dua pedang kecil melesat ke arah Lio dengan cepat, yang membuat Lio sontak menghindar, "Apa? pedang dari tanah?" Lio melihat pergerakan yang cepat keluar dari debu itu.

"Terlalu cepat untuk merayakan." teriak Edwar yang sudah berada di sisi lain Arena.

"Sejak kapan kau ada disana?"

"Sejak kau sibuk meremehkan seseorang yang tidak kau kenal." Jawab Edwar yang berdiri dengan tenang.

Tidak ada goresan yang menyentuh jubah Edwar dan pakaiannya. Edwar menatap mata Lio dengan serius dan melakukan lari dengan zig-zag agar tidak bisa di baca oleh Lio. Bagi seorang penyihir, pergerakan itu sangat menjadi kelemahan terbesar, karena penyihir berfokus pada posisi belakang untuk melindungi dan sesekali menyerang.

Edwar membentangkan tangan kanannya dan api muncul bola api muncul di telapak tangannya. saat bola api itu melesat, Lio menghindar dan membaca arah tembakan bola api itu dengan mudah, "Hanya ini..." saat belum selesai Lio berbicara, Edwar sudah ada di belakangnya.

Edwar menghantam punggung Lio dengan sihir angin yang berpusar di tangannya, Lio terkena hantaman angin itu dan membuat Lio terhempas ke sudut Arena, akan tetapi Lio bisa menyeimbangkan tubuhnya dan bersiap merapal mantra. Lio tidak melihat keberadaan Edwar diposisi sebelumnya, "Kau mencariku?" Tanya Edwar yang sudah melompat tinggi.

Lio mendangak ke atas dan melihat peluru batu dengan jumlah yang banyak berputar dengan cepat dan menghasilkan peluru runcing itu memerah seperti terbakar. "Peluru batu api!" Peluru batu api itu melesat dengan cepat, Lio menghindar berlari mengelilingi Arena itu, akan tetapi Peluru itu seolah tidak ada habisnya.

Saat Peluru itu berhenti menghujani Lio, Lio mengetahui posisi Edwar yang hendak turun dari atas. "Rasakan ini!" Sebuah bola api besar melesat ke arah Edwar, Edwar dengan cepat mengayunkan tangannya dan membentuk tumpukan tanah menuju kakinya dan berpisak di kaki Edwar, Edwar melompat menjauhi bola api itu.

Pertarungan mereka sangat luar biasa, Lio bertahan dan berusaha mengetahui posisi Edwar selanjutnya dengan ekspresi wajah yang sudah menunjukkan kelelahan dan daya sihirnya yang telah habis, Lio mulai mengaktifkan penambahan daya sihirnya, Edwar yang melihat itu tidak membiarkan Lio melakukan sihir penambah daya sihir.

Lihat selengkapnya