"Aku yang dulu sangat takut untuk berkenalan dengan orang lain, sangat taku menatap mata orang lain dan sangat taku untuk pergi ke sekolah. Tapi pada hari ini aku berhasil maju satu langkah dalam hidupku, aku tidak takut untuk bekenalan, aku sudah tidak menundukkan kepalaku saat berjalan dan Lio kini menjadi teman pertamaku." Ucapku dalam hati dan tersenyum kepada Lio.
Maria yang melihat aku berjabat tangan dengan Lio berkata "Lio, bantu adikku untuk berkembang ya. Aku mengandalkanmu." Maria sangat memperhatikan Edwar yang sudah ia anggap adiknya sendiri.
"Edwar, selamat kamu menjadi murid unggul, semua biaya dan semua jam pelajaran kau boleh tidak masuk, dan kau bebas meneliti sihir yang ingin kau teliti." Ujar Majin yang tersenyum bangga padaku, semuanya bertepuk tangan.
"Eh kamu hebat juga ya..." Ucap Nela mendekati Edwar.
"Aku minta maaf telah meremhkanmu." Salah satu teman Edwar berambut merah pendek yang menundukkan kepalanya, ia mengangkat tangannya dan ingin berjabat tangan. "Perkenalkan nama aku Mely, aku pendekar pedang."
"Aku Helma..." Ujarnya dengan memiringkan kepalanya dengan rambut hijau.
"Aku Anto..." Lelaki yang bertubuh kekar membawa tameng dan pedang.
"Salam kenal semuanya, Aku Edwar, mohon bantuan untuk kedepannya." Sedikit tersenyum karena masih canggung.
"Tidak usah canggung begitu, kita sekarang teman satu perjuangan, tanyakan jika ada pertanyaan dan ceritakan apa yang harus kamu ceritakan, jangan memendam semuanya sendiri ya." Ujar Leo.
"Apakah ini yang namanya teman?" Ujarku sambil melihat mereka tersenyum padaku. "Apa ini rasanya di dukung?" aku melihat ke arah Maria yang tersenyum padaku, "Mereka tidak melihatku seperti orang yang menjijikkan, tapi mereka melihatku seperti seorang teman," aku mendangak ke atas, "Aghitna, terimakasih telah memanggilku ke dunia ini."
Aghitna yang mendengar kata hati Edwar, terlihat dari pipinya yang sudah basah akan air matanya, jari jemarinya ingin menggapai Edwar dan menyentuh air yang ada disumur seolah sedang menyentuh lembut wajah Edwar.
"Oiya, Edwar. Aku lupa bilang sesuatu," Ucap Majin, "Di akademi Nusaraya ini, tidak hanya ada penyihir, ada juga pemanah, kesatria pedang, dan lain-lain. Dulu disekolah ini memang di khususkan untuk penyihir tapi aku merubahnya agar semua orang bisa belajar dengan kemampuan masing-masing. jadi untuk hari ini..." ujarnya sambil melihat ku dengan tenang, "Hari ini, Lio dan teman-teman akan memperkenalkanmu sekolah ini, jadi nikmatilah. mohon bantuannya ya, Ketua Osis..." Ucapnya sambil berjalan keluar dari arena akademi.
"Ayo Edwar, aku akan memperkenalkan semuanya padamu hari ini."
Edwar berhenti melangkah dan menoleh ke belakang menatap Maria, Edwar tersenyum lembut dan mengedipkan matanya seolah berkata berterimakasih kepada Maria, Maria yang merasakan itu matanya berkaca-kaca. Maria tahu bahwa Edwar adalah anak yang sangat tertutup pada dunia sama dengan dirinya yang dulu.
Edwar menarik nafas dalam-dalam dan sepenuhnya berbalik ke arah Maria, ia melangkah dengan cepat namun lembut ke arah Maria, Edwar menabrak tubuh Maria yang sangat tinggi dan besar, Maria yang kaget dan melihat Edwar yang sedang memeluk tubuhnya. "Kakak... terimakasih."
Maria yang mendengar kata 'Terimakasih' dan memanggil Maria dengan 'Kakak' ia tau perasaan Edwar tanpa Edwar bercerita apa yang ia takuti dan membuatnya tertutup pada dunia, Maria membalas pelukkan Edwar dengan tulus.
Saat Edwar melihat wajah Maria, Maria sekilas melihat wajah adiknya yang tersenyum padanya, Maria dulu memiliki adik bernama Marvin, Maria meraih wajah Edwar dan ia berlutut, wajah mereka kini sejajar, "Berjuanglah, Seberat apapun perjalanannya, melangkah terus, jika kamu takut aku ada di belakangmu, aku takkan pernah meninggalkanmu, Edwar."
Edwar dan Lio melangkah keluar dari arena akademi, Maria melihat punggung Edwar dan punggung itu berubah menjadi punggung adiknya yang berpetualang meninggalkan desa dengan wajah tesenyum. Maria mulai terseduh menangis karena ia merasa Edwar sangat mirip dengan Adiknya, "Marvin, apa kamu berengkarnasi menjadi Edwar?" Ujar Maria yang mendangak ke atas dan air matanya turun membasahi pipinya. Maria mengingat masa-masa dia bersama adiknya.
Matahari pagi menyinari halaman rumah yang cukup luas. Embun masih menempel pada rerumputan, sementara suara burung terdengar dari pepohonan di sekitar pagar kayu. Di tengah halaman, dua orang berdiri saling berhadapan dengan pedang kayu di tangan masing-masing.
Maria, sang kakak, berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh. Rambutnya diikat ke belakang, sementara tatapannya tertuju tajam pada adiknya. Di hadapannya, Marvin menggenggam pedang kayu dengan kedua tangan. Wajahnya terlihat serius, meskipun senyum kecil masih tersungging di bibirnya.
Maria mengangkat pedangnya.