Pertarungan Marvin dan Maria sangatlah cepat, Marvin sangat senang disaat dilatih oleh Maria, karena Maria sangat tegas dan Marvin ingin mengalahkan kakaknya dengan kemampuan yang di ajarkan Maria selama ini.
Maria menghindari yang pertama dengan memiringkan tubuh. Serangan kedua ditahannya menggunakan sisi pedang kayu, tetapi Marvin tidak berhenti. Ia mengubah arah serangan, memutar tubuh, lalu mengayunkan pedangnya ke arah bahu kiri Maria.
WUSSH!
Maria melompat mundur tepat pada waktunya, ujung pedang Marvin hanya menyapu udara. Keduanya terdiam selama satu detik.
Kemudian Maria tersenyum lebar.
“Nah, begitu baru adikku!”
Marvin mengangkat dagunya dengan bangga. “Aku sudah bilang akan menang.”
“Jangan terburu-buru merayakan kemenangan.”
Maria merendahkan posisi tubuhnya. Kali ini, ekspresinya berubah serius. Ia menggenggam pedang kayunya dengan kedua tangan, lalu menempatkan salah satu kaki sedikit ke belakang.
Marvin langsung menyadari perubahan itu.
Kuda-kuda Kakak...
Ia pernah melihat posisi tersebut berkali-kali. Maria biasanya menggunakannya ketika ingin mengakhiri latihan dengan satu rangkaian serangan cepat.
Marvin menelan ludah.
“Kakak, jangan bilang kau mau menggunakan teknik itu lagi.”
Maria memiringkan kepalanya.
“Kenapa? Takut?”
“Siapa yang takut?!”
“Bagus. Kalau begitu, bertahanlah!”
Maria menerjang.
DUK!
Tanah bergetar ringan ketika kakinya menghentak permukaan halaman. Tubuhnya melesat maju, pedang kayunya menyambar dari arah atas.
Marvin menangkis.
TAK!
Namun, sebelum ia sempat membalas, Maria memutar pergelangan tangannya dan mengubah arah serangan.
TAK! TAK!
Marvin mundur sambil menangkis dua serangan berikutnya. Ia memiringkan pedang, mengalihkan satu tebasan, lalu berputar untuk menghindari serangan yang mengarah ke pinggangnya.
WUSSH!
Serangan itu meleset.
Marvin memanfaatkan celah tersebut untuk melancarkan serangan balasan.
“Dapat kau!”
Pedangnya meluncur cepat ke arah bahu Maria.
Namun, Maria justru melangkah mendekat.
Marvin membelalak.
Sebelum ia sempat mengubah arah pedangnya, Maria memiringkan senjatanya dan mengaitkan sisi pedang kayu Marvin. Dengan gerakan memutar yang terukur, ia mendorong senjata itu keluar dari garis serangan, lalu mengetukkan ujung pedangnya ke dada Marvin.