Pagi hari dibelakang restoran saat karyawan sudah mulai menata diri, Shafa nampak sedang bersandar disebuah bangku tepat didepan kebun miliknya, menikmati secangkir teh hangat dan terang bulan sambil menatap salju dari sebalik jendela kaca.
"Sudah dua bulan aku melakukan ini semua dan sekarang restoranku tercatat memiliki biaya reservasi yang paling tinggi, orang-orang berebut makan ditempat ini tapi tak pernah kulihat keberadaanmu. Keinginanku hanya memasak didapur kecil didalam sebuah rumah lalu mengantarkan makanan untukmu, mungkin dengan beberapa anak kita disekitarnya. Aku hanya ingin jadi ibu," pikir Shafa sambil membersihkan madu dari mulutnya.
"Shafa!!, jaket seragamnya sudah jadi," teriak Rasha yang tiba-tiba masuk ke kebun dan menunjukkan jaket barunya.
"Oh ya, waah bagus mbak," ucap Shafa.
"Nih, kita pakai kapan-kapan kalau ada kunjungan," ucap Rasha.
"Iya, tadi malam ada undangan menuju Reksanara," ucap Shafa.
"Wooh bagus, lebih baik kita datang," ucap Rasha.
"Mbak, apa cara hidupku selama ini salah," tanya Shafa.
"Gimana maksudmu Shafa, kenapa tiba-tiba bertanya begitu," ucap Rasha.
"Kau tau, aku kadang merasa aku terlalu nyaman hidup dibalik bayangan orang lain, sedangkan kau lihat sendiri Bhudevi mengukir sendiri dunianya dan sekarang kami menuai hasilnya, aku di buang dan dia berjaya," ucap Shafa.
"Hhh Shafa, kau berbeda dengan Salsa, berbeda pula denganku, semua orang berbeda, tujuan kita berbeda maka tentu jalannya akan berbeda pula, membandingkan apa yang bisa kau lakukan dengan apa yang bisa dilakukan orang lain adalah hal yang bodoh, kita hanya perlu memberikan apa yang bisa kita lakukan untuk saling memberi manfaat dan sesedikit mungkin mudharat, kau sudah melakukan apa yang kau bisa kok, lagian kenapa kalau Salsa menjadi Ishvari, dia pantas mendapatkan hal itu, kontribusinya pada negaranya sangatlah besar dan positif," ucap Rasha.
"Dulu, Reksanara adalah negara yang pertama kali menyatakan perang pada Jonggring Saloka dan aku sendiri mengikutinya, membayangkan bahwa sebuah negara yang baru berdiri bisa bertahan dari gempuran sebuah negara adidaya adalah hal yang hampir mustahil dan yang lebih mengejutkan kami menang tapi sekarang aku dibuang, aku merasa tak pantas menemui Bhudevi," ucap Shafa.
"Kurasa memang sulit melihat orang lain yang pernah kita tertawakan sekarang berdiri lebih kokoh dari kita, 25 Desember adalah hari penobatannya, tinggal menghitung hari, tapi ya, kalau kau mau menemui cintamu, kau harus kesana. Ini penobatan Ishvara pertama semenjak Maheshwara naik takhta dan juga bentuk adaptasi terhadap baru yang jauh lebih cepat, kehadirannya hampir tak bisa dipungkiri, kalau benar engkau rindu telan dulu egomu," ucap Rasha.
"Iya mbak," ucap Shafa.
...
Pagi hari telah tiba dan disaat yang sama tiba-tiba Shafa menyaksikan Huda datang menuju restorannya yang baru akan buka.
"Meja reservasi pertama untuk hari ini," ucap Huda sambil menunjukkan kartu reservasinya.
"Anda buru-buru sekali tuan, kalau memang anda datang jam segini gausah reservasi, sebentar, tunggu" sahut Zahra yang tertawa kecil.
"Aku sudah lapar," ucap Huda.
"Sebentar tuan, kami masih bersiap, masih 30 menit lagi baru buka," ucap Rasha.
"Memangnya gak bisa makan sekarang, ahh," ucap Huda.
"Hhhh anak ini, cuma wujudnya yang berubah," pikir Shifa.