Kamis, 25 Desember 2014. Shafa melangkahkan kakinya keluar dari vimana menuju sebuah jalan setapak penuh salju. Dihadapannya adalah sebuah benteng batu yang dijaga puluhan patriot dan tepat dibelakangnya keempat sahabatnya melangkah keluar dengan gaun mereka. Tak lama kemudian Rafi keluar membawa Agam dan Heri.
"Kau sudah bawa catatan kan Heri," ucap Agam.
"Aman aja itu," ucap Heri.
"Kudengar manisan disini enak," ucap Agam.
"Lancar banget cari informasi tentang makanan," ucap Rafi.
"Oiya dong, kami mau memakmurkan restoran," ucap Heri.
"Apa kata kalian lah, yang penting jangan terlalu rusuh saat makan, ini acara resmi," ucap Rafi.
"Siap bos," sahut Agam dan Heri.
Saat itu para penjaga segera mengenali mereka dan segera membukakan gerbang benteng dimana kedelapan orang itu dibiarkan menyaksikan istana besar Reksanara dimana mereka melangkah masuk ke wilayah keraton menggunakan sebuah gondola. Ditengah salju yang turun itu Shafa memperhatikan dengan jelas hamparan bangunan pencakar yang mereka lewati dengan cepat hingga akhirnya mereka sampai disebuah kastil dari batu pualam dimana gondola itu akhirnya masuk dan menempati sebuah perhentian didekat beberapa kolam air panas.
"Jadi ini kompleks istana Sumeru," ucap Rasha begitu menginjakkan kakinya.
"Iya kakak, selamat datang dirumah baruku," ucap seorang pemuda yang menyambut mereka.
"Rio!?, kau ngapain disini," tanya Shafa pada pemuda itu.
"Dia sedang dekat dengan Prithvi," ucap Rasha.
"Terimakasih sudah menjelaskan kak. Hai Shafa, lama tak jumpa, bagaimana kabarmu," ucap Rio.
"Baik," ucap Shafa.
"Senang bisa bertemu lagi denganmu, tak kusangka akan secepat ini engkau bangkit Shafa, oiya, ikuti aku, aku akan mengantar kalian," ucap Rio sebelum berjalan menyusuri lorong istana diikuti kedelapan orang itu.
"Jadi kau benar-benar sudah berhasil menguasai wilayah ini," ucap Rasha.
"Mereka nampaknya suka dengan makanan instan dan bergizi tinggi, makanan kaleng kita bisa bersaing dengan baik disini," ucap Rio.
"Meski begitu, membuat sebuah bisnis bisa cukup besar untuk menguasai sebuah negara itu cukup gila," ucap Rasha.
"Tentu tidak kak, kita sudah tidak berperang dengan senjata sekarang, tapi dengan sumberdaya, tak perlu banyak korban jiwa tapi kontrolnya sangat luar biasa, disini aku juga bertanggungjawab pada beberapa anak perusahaan Kailash yang lain dan hasilnya kontrol penuh atas sebuah wilayah," ucap Rio.
"Bukan tidak banyak korban jiwa Rio, tapi lebih sedikit yang terlacak," ucap Rafi.
"Hahaha, tak perlu membeberkan hal itu Rafi, tak perlu banyak yang mengerti apa yang kita lakukan," ucap Rio.
"Bagaimana menurutmu, revolusi pasar yang terjadi sekarang," ucap Rafi.
"Bagaimana mengatakannya ya, ini mungkin jauh dari kata sempurna tapi aku cukup bisa menikmatinya, konsep tatanan Dunia yang diprakarsai oleh Maheshwara adalah Dunia untuk pemenang saja, saat semua orang bisa menghimpun sumber daya dengan cepat maka tantangannya adalah banyak dari mereka yang memiliki moral agak kacau, beberapa kali aku perlu bersih-bersih," ucap Rio.
"Tapi bukannya ini lebih baik dari sebelumnya Rio, Ihsan pasti membangun Dunia ini menjadi lebih baik," ucap Shafa.
"Kau terlalu memujanya Shafa, hapus dulu obsesimu itu, dia itu juga manusia dan sebaik apapun niatnya, sebenar apapun alasannya pasti akan ada kerusakan yang ditimbulkan oleh keputusannya, apalagi dia seorang Raja umat manusia, efek dari tindakannya pasti jauh lebih mengerikan dari yang kau pikirkan, yang dia lakukan adalah membuat semua orang bisa kaya dengan sangat cepat tapi kau harusnya paham, harta akan membuat manusia menunjukkan sifat aslinya, membantunya untuk mewujudkan definisi kebahagiaannya, sayangnya wujud kebahagiaan manusia berbeda-beda, hasilnya akan ada beberapa orang yang memulai gesekan dimana-mana, konflik kecil yang terjadi atas ketidakpuasan dan sekarang mereka punya cukup sumberdaya untuk mengekspresikan ketidakpuasannya dan haruskah aku memberitahumu kalau tak semua orang punya kontrol atas nafsunya," ucap Rio.
"Tapi ini lebih baik dari sebelumnya bukan," ucap Shafa.
"Lebih baik bukan kata yang tepat untuk mendeskripsikannya, mungkin lebih tepat disebut lebih menantang," ucap Rio.
"Maksudmu bagaimana sebenarnya," sahut Shafa.