"Oh dewi, rungokeno tembang kangen iki...," tulis Ihsan dalam lembaran lontar sebelum terhenti seketika tangannya saat bulan mengintip dari jendela keratonnya.
Saat itu Ihsan hanya terdiam sejenak, membiarkan cahaya rembulan memeluknya sebelum akhirnya dia meneguk sisa kuah rawon buatan ibundanya yang sudah dingin. Sebuah hela napas terdengar dari bibirnya saat rasa cemas mulai menyusupi dirinya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang, aku tidak merasa surat saja akan cukup untuk mengobati lukanya, aku harus datang ke sana, tapi kapan," gumam Ihsan.
Saat itu sang Maheshwara akhirnya berdiri dari takhta batunya, menyusuri keraton Suralaya sambil mematikan lilin satu persatu dengan tangannya. Dilihatnya ruangan demi ruangan yang sudah mulai kosong dari aktivitas hingga akhirnya sampailah dia didapur istana yang masih menyala memperlihatkan beberapa abdinya yang sedang menggunakan dapur untuk membuat kudapan mereka malam itu.
"Kalian belum tidur," tanya Ihsan.
"Eh Prabhu, belum, kami jaga malam sekarang," ucap salah seorang abdinya.
"Bagaimana keadaan malam ini pak Anas," sahut Ihsan.
"Gak gimana-gimana Prabhu, situasi aman," sahut abdi bernama Anas tadi.
"Baguslah, terimakasih sudah mau membantu disini pak," ucap Ihsan.
"Sama-sama Prabhu, justru engkau yang kayaknya kenapa-kenapa, ada apa Prabhu, kok sedih, kau merindukan Dewi kembali," ucap Anas.
"Iya pak, bahkan di keraton seindah ini semua terasa hampa tanpanya, aku memang kurang bersyukur," ucap Ihsan.
"Itu bukan kurang bersyukur Prabhu, kangen mah kangen aja," sahut abdi lain bernama Andre dari belakang.
"Eh Ndre, aduuh kau ini," ucap Anas.
"Hanya kalian berdua yang bertahan dari dharmayudha ya, maaf ya," ucap Ihsan.
"Iya Prabhu, hanya tinggal kita berdua abdimu yang bertahan dari sebelum dharmayudha, sisanya sudah berada di keraton yang lebih indah," ucap Anas.
"Alah Prabhu, gausah bawa-bawa mereka lah, jadi sedih lagi nanti, eh ini ada sumping sama pisang goreng, panjenengan mau atau tidak, mumpung masih hangat nih," ucap Andre.
"Boleh," sahut Ihsan.
"Kopinya udah jadi belum Ndre," ucap Anas.
"Sabar lek, jek digodok banyune," sahut Andre.
"Iyo iyo, mak takon," ucap Anas.
"Tumut cangkruk nggih bapak-bapak," ucap Ihsan sambil duduk disana mengambil pisang goreng.
"Heh, rokok e dipateni Ndre," ucap Anas.
"Pripun Prabhu, boleh linting," ucap Andre.