Pertarungan berlanjut dan saat itu Shifa sedang mengayunkan kapaknya pada Mahishasura bebarengan dengan merambatnya tanda Yogi ke seluruh tubuhnya yang menghitamkan kulitnya sekaligus melipatgandakan kekuatannya. Dengan begitu Shifa segera menembakkan darah dari bola matanya dan membiarkan tubuhnya beregenerasi lebih cepat lagi. Dalam perubahannya itu juga Shifa mulai mengeluarkan puluhan jarum penuh racun yang segera dia tembakkan untuk melumpuhkan Mahishasura. Namun didepan wajahnya sendiri Mahishasura kembali bergerak.
"Mereka semua punya level regenerasi yang merepotkan, ditembak berapa kalipun mereka dengan jarum racun mereka tetap takkan mati, hanya akan butuh waktu untuk mendapatkan level imunitas baru, nampaknya ini akan jadi pertempuran yang sangat lama apalagi Shafa sedang begitu, mana orang itu kayaknya mulai bisa memojokkan Rafi, kalau Rafi kalah sebelum kami menyelesaikan monster ini maka semuanya bisa gawat," pikir Shifa sambil menghela napas panjang lalu memasang posisi bertarung.
Tepat saat itu Mahishasura terlihat mulai tersenyum saat dirinya juga memasang posisi bertarung saat tiba-tiba dari atas ada tembakan sinar gamma dari Dhumralochana yang harus ditahan Shifa hingga matanya hancur namun itu tak menghalangi Shifa untuk menerjang Mahishasura yang mulai menumbuhkan sepasang sayap dan tanduk serta cakar di tangan dan kakinya untuk mulai menyerang Shifa yang saat itu memfokuskan diri untuk menggunakan indera penciumannya untuk mendaratkan pukulan dan tendangan keras ketubuh Mahishasura yang jauh lebih keras dari baja. Dalam pertarungan itulah tubuh Mahishasura mulai berubah-ubah tanpa henti dan dalam sekejap puluhan sengat pari mendarat ketubuh Shifa diikuti dengan mulut Mahishasura yang membesar dan segera berusaha menerkam Shifa dengan rahang penuh gigi hiu. Saat itu Shifa segera memukul balik Mahishasura dan tanpa ampun mengeluarkan puluhan tangan untuk membombardirnya hanya untuk menerima tembakan termonuklir dari mulut Dhumralochana. Tepat setelah itulah sabit besar milik Munda melayang ke lehernya yang untungnya saat itu Rasha sempat menghempaskan Munda dengan tendangan angin sebelum akhirnya Shifa kembali pulih dari luka bakarnya dan membuka lagi kedua matanya.
"Kita hanya bisa menahan mereka dengan daya hancur sekecil ini, pertarungan ini nampaknya akan sangat lama," ucap Rasha.
"Sekar dan Zahra juga ditahan oleh dua raksasa itu," ucap Shifa.
"Kalau saja Shafa tidak sedang galau begitu mungkin pertarungan bisa lebih singkat dan aku bisa membantu Rafi mengalahkan pria bertopeng itu," ucap Rasha.
"Haaah, aku juga bingung dengannya, kita hajar saja mereka sampai kita puas hehehe," sahut Shifa sebelum bergerak maju menuju para monster yang segera menghajarnya.
Melihat itu Rasha segera mengikuti dengan beberapa tembakan meriam angin sambil melesat dengan kecepatan tinggi untuk menghajar monster-monster yang menyerang Shifa dengan serangan cepat meski beberapa kali hal itu justru memfasilitasi pembelahan diri Raktabija.
Sementara hal itu terjadi Sekar dan Zahra terlibat pertempuran sengit dengan Shumba dan Nishumba yang mulai menggunakan tembakan astra untuk memojokkan kedua gadis itu.
"Oi Sekar, katamu kau bisa menahan dua monster ini sendirian saat menghadapi Raktabija, kenapa sekarang malah kita yang dipojokkan," ucap Zahra.
"Aku tidak ingat mereka bisa menggunakan astra, mungkin waktu itu mereka memang belum serius, kemampuan yang mereka gunakan juga banyak yang belum pernah kulihat," ucap Sekar sambil membuat puluhan senjata untuk menyerang Shumba Nishumba.
"Mungkin dugaanmu bahwa ada orang yang mengirim mereka itu benar adanya," ucap Zahra sambil menyebar serpihan kristal cahaya yang dia kendalikan untuk menyerang kedua monster itu.
Tak berselang lama kristal cahaya menyebar ke seluruh tempat dan segera mengikat Shumba dan Nishumba sebelum kemudian Sekar membuka langit membiarkan cahaya merasuki kristal milik Zahra yang segera mengamplifikasi sinar itu berkali-kali hingga akhirnya teriakan keras Shumba Nishumba terdengar. Tanpa menunggu waktu lama Sekar juga segera menyusun zirah mekaniknya dan maju membawa puluhan drone elektrik untuk menyengat lawannya sebelum menyambar keduanya dengan halilintar bertubi-tubi hingga mata keduanya memutih. Namun bukannya berhenti keduanya justru semakin mengamuk, Shumba terlihat mulai membesar sementara Nishumba terlihat mulai menyusun persenjataan untuk menyerang balik Sekar.
Dalam kekacauan itu Shafa menyaksikan teman-temannya berjuang untuk menang melawan gempuran para monster itu sementara dirinya hanya terbaring lemas. Emosinya akhirnya mulai tercampur aduk dan pikirannya mulai teralihkan dari kegalauannya.
"Apa yang kulakukan sekarang, ah benar juga aku sedang menunggu ajalku saja, mereka akan menang juga nanti," pikir Shafa sebelum akhirnya sekilas memori kembali terputar dikepalanya.
...
"Ngapain Shafa," sapa Ihsan pada Shafa yang waktu itu sedang beristirahat.