"Aku tidak mau tau lagi, kalau aku memang harus hidup sebagai pembunuh maka jadilah, aku akan selalu menjadi bayanganmu oh Maheshwara, berkuasalah atas Dunia ini dan aku akan menjadi teror dibaliknya, bimbing mereka menuju cahaya saat aku membuat kegelapan begitu mengerikan bagi mereka," pikir Shafa yang mulai menyeringai saat menghajar Shumba Nishumba.
Hahahahahahahahaaaaa!!!!!!.
Suara tawa Shafa akhirnya menggema dimedan laga memperlihatkan sisi liarnya saat kemudian Dhumralochana mencoba menembakkan radiasi kewajahnya namun Shafa justru menatap Dhumralochana tepat diwajahnya sambil memanifestasikan avatarnya untuk menembus serangan itu dan meninju monster dihadapannya hingga terlempar menghantam bebatuan. Disaat bersamaan sebuah sulur ditembakkan Munda dan menancap diperut Shafa yang seketika mulai membusuk tapi dengan cepat Shafa memotongnya dan mencabut benda itu dari tubuhnya yang segera pulih dan kemudian terus memanas saat kemudian Shafa bergerak menuju Munda dan membelah dua makhluk itu sambil terus memanaskan atmosfer hingga mulai terbentuk lelehan magma dibawah kaki Shafa yang mulai memanggil seluruh persenjataannya. Saat itu juga Chanda coba menggerakkan bumi dengan tangannya, memerangkap Shafa dalam sebuah bola batu sebelum memanggil puluhan asteroid untuk menghantam tempat itu namun yang dia lakukan hanya mengundang murka sang dewi yang segera menjebol batu itu dari dalam dan kemudian menghantam Chanda dengan trisula miliknya. Tak lama kemudian datanglah salah satu bagian Raktabija menyerang Shafa yang juga segera coba menahan sang monster dan mulai bertukar serangan dengannya. Dalam momen itulah Shafa mulai menyadari apa yang terjadi, dia mulai merasakan kejanggalan yang ada pada ketujuh monster yang mereka hadapi, bukan karena regenerasi mengerikan mereka atau kemampuan unik yang mereka miliki namun struktur energi mereka yang dia kenali namun dalam pertarungan ganasnya dengan Raktabija, Shafa tak sempat mengingat struktur unik energi lawannya dan akhirnya terkena pukulan dipipinya. Sesaat kemudian Shumba kembali dan menghantam Shafa dari belakang dengan kekuatannya yang menakjubkan. Tepat setelah itulah Nishumba juga datang dengan zirah mekanik yang baru disusunnya dan segera menghempaskan Shafa sebelum kemudian melempar agneyastra kearah Shafa dan seketika meledak hingga membentuk awan jamur yang memecah angkasa. Tepat setelah itu Mahishasura terlihat kembali bermetamorfosis dan segera menyingkirkan Shifa sebelum melesat kearah Shafa meski hal itu tak dibiarkan terjadi oleh Rasha yang segera membuat ratusan tebasan angin yang segera membuat makhluk itu terjatuh penuh luka kembali kehadapan Shifa yang meninjunya sekuat tenaga kearah Shafa sambil mengejar makhluk itu sebelum akhirnya tepat dihadapan Shifa kembali muncul sebuah pilar api yang sekaligus mulai menguapkan lautan, membawa badai keseluruh wilayah tempat mereka berdiri. Pada akhirnya Shafa datang menikam Mahishasura dari belakang sebelum Shifa menebasnya dengan kapaknya.
"Akhirnya kau memutuskan untuk bertarung juga," ucap Shifa.
"Maaf, kurasa aku tidak jadi mendaftar menjadi kadavermu," ucap Shafa.
"Dasar plin-plan, tapi gaapa, untuk ini aku suka, ini lebih baik daripada melihat orang depresi," ucap Shifa sembari bersiap untuk kembali bertarung.
Saat itu perlahan Mahishasura kembali bangkit dari kepalanya, meregenerasi seluruh tubuhnya sebelum menyerang keduanya yang kemudian secara bersamaan menghempaskannya menjauh sebelum kemudian Shafa melepaskan lebih banyak api yang segera disambut Shifa dengan membuat banyak air untuk kemudian mereka satukan untuk membuat ledakan uap air yang menggelapkan medan tempur. Tak lama kemudian dari dalam uap panas itu terlihat kilatan merah dari manunetra Shafa dan kilatan ungu jeevanetra Shifa yang terlihat memburu para monster itu. Hal ini segera disambut dengan meriah oleh Rasha yang segera melesat keseluruh medan tempur, melemparkan para monster itu kearah Shafa dan Shifa yang bergerak tanpa henti untuk menghajar mereka. Sebuah tinju dari Shafa segera melayang menghantam rahang Shumba saat Shafa mengoyak zirah Nishumba. Disaat yang bersamaan Sekar kembali masuk, menyusun beberapa meriam basilika yang segera dia tembakkan berkali-kali kearah para monster yang sudah diberikan tanda oleh Zahra sebelum akhirnya Zahra mengkonsentrasikan energinya untuk membuat cakram cahaya dan mulai mengiris lawan-lawan mereka dengannya.
Dalam kebingungan itu Raktabija kembali tumbuh, mengadaptasikan dirinya dengan keadaan dan mulai bergerak menyerang Sekar yang saat itu tanpa ragu segera membuat analisis gerakan musuh dengan lensa zirahnya dan mulai membuat upaya untuk menangkal serangan Raktabija meski disaat yang sama Nishumba mengarahkan meriam kearahnya yang tepat saat ditembakkan segera ditahan olah Shifa sambil terus beregenerasi.
"Kau tak apa-apa kan Shifa," teriak Zahra.