"Opo kui cok," seru Agam.
"Apa lagi, sekarang kita perlu menghubungi bala bantuan, situasinya gawat disini, eh kenapa ini," sahut Heri sambil mendaki gunung.
"Mungkin itu sebabnya, lihat mbak Shafa disana," ucap Agam saat kabut menebal dan menunjuk kearah medan tempur.
"Maaak, apa lagi ini, ayo cepet, telpon konco, iso mati ki," teriak Heri.
"Dadi kui, Mahakali," pikir Agam saat melihat dengan jelas wujud Shafa diatas lautan yang mendidih.
Sementara itu dimedan tempur Shafa yang sudah kehilangan akal sehat mulai memainkan kedua pedangnya sambil tersenyum lebar di wujud Mahakali yang kelam sambil mulai melihat-lihat musuhnya sebelum akhirnya Raktabija membuka serangan dengan meninju Shafa tepat diwajahnya hingga menghantam samudra. Dengan merasakan serangan itu Shafa akhirnya memahami siapa musuhnya dan segera memulihkan rahangnya yang hancur sebelum bergerak ke permukaan lalu kembali mencari Raktabija sebelum akhirnya melihat Raktabija menyeringai kearahnya dan kemudian membelah diri untuk mulai menyerbu Shafa yang segera berbalik menyerang dengan menembakkan tebasan api dari pedangnya yang segera menyayat tubuh musuhnya itu sebelum akhirnya Shafa bergerak maju menikam Raktabija dengan pedangnya sebelum kemudian membelah makhluk itu menjadi dua. Namun begitu hal itu terjadi sebuah tikaman dari tangan dari tubuh Raktabija lainnya memanjang menembus dada Shafa dengan jantung sang dewi yang masih berdetak sebelum kembali menarik tangan itu dan memakan jantung ditangannya hanya untuk kemudian mulai terbakar tubuhnya akibat darah Shafa yang teramat panas dan membuat sisa tubuh Raktabija lainnya mulai kembali waspada pada Shafa yang sudah berlubang dadanya itu dan benar saja, tak menunggu waktu lama kepala Shafa kembali bergerak saat lubang didadanya mulai pulih dan kembali berdetak dengan jantung baru sebelum kemudian menyerang monster dihadapannya sendirian. Tanpa ragu Shafa memulai serangan dengan tangan kosong untuk menghadapi Raktabija sambil perlahan mengadaptasi pola pertarungan musuhnya dan mulai bisa mendaratkan beberapa pukulan meski dia juga harus babak belur dihajar puluhan tubuh Raktabija dan mendorong regenerasi yang dimiliki Shafa sampai ke batasnya.
Melihat hal yang ada dihadapannya Mahishasura tak tinggal diam, insting membunuhnya ditambah dengan dendam yang membekas dalam tubuhnya membuatnya bergerak maju memburu Shafa yang saat itu bertukar serangan dengan ganas melawan Raktabija. Tanpa menunggu waktu lama senjata keluar dari tangan Mahishasura dan tanpa basa-basi segera digunakan untuk memberikan serangan-serangan jarak jauh pada Shafa sementara Raktabija terus menyerang Shafa dari jarak dekat hingga akhirnya Shafa terpental jauh menghantam pegunungan sebelum kemudian kembali bangkit dengan tubuh berantakan sambil perlahan memulihkan semuanya dan mencabuti ranting yang terselip di rongga dagingnya. Tak lama kemudian Raktabija dan Mahishasura kembali bergerak maju menuju Shafa yang saat itu juga menyambut serangan mereka dengan ayunan keras kalaratri. Tak berselang lama suara tawa dan raungan mulai menggema dari tempat pertempuran Shafa, membuat burung-burung beterbangan bersamaan dengan ledakan demi ledakan yang kadang diiringi bagian tubuh para petarung dan makhluk hidup disekitarnya yang harus terkena imbasnya.
"Oi, Shifa, Sekar, kau yakin membiarkan Shafa bertarung dalam keadaan seperti itu adalah hal yang baik," tanya Zahra sambil melemparkan pilar-pilar cahaya.
"Kita juga sedang berusaha memancing pertempuran kearah Shafa," sahut Shifa sambil mencekik Dhumralochana dan membantingnya kearah Shumba.