Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #57

Bhasmayoni

Pagi telah tiba dan Ihsan akhirnya keluar dari mihrabnya dan segera bersiap untuk bertugas. Dicopotlah jubah indahnya dan segera dia gantungkan sebelum dia keluar dengan pakaian sederhana sebelum dia berjalan menuju keratonnya. Langkah demi langkah dia lewati dengan pelan sebelum tepat digerbang keraton dia berhenti sejenak lalu menoleh kebelakang, menyaksikan masjid agung yang dia bangun dan rekaman memorinya berputar kembali dan melihat dengan jelas ditangga keluar masjid yang dulunya masih musholla keraton itu wanita yang disayanginya sedang sibuk merapikan mukena dan dengan tergesa-gesa berdiri sebelum berjalan kearahnya.

"Shafa...," gumam Ihsan sebelum kembali berjalan menuju keratonnya.

...

Disaat yang sama tawa Shafa semakin keras saat dirinya terus menerus memulihkan lukanya sambil menghujamkan serangan bertubi-tubi pada Raktabija dan Mahishasura meski sama seperti dirinya, kedua makhluk itu terus menerus pulih dan berbalik menyerang Shafa hingga timbul banyak luka. Namun akal sehat Shafa telah larut dalam gejolak adrenalin dan justru membuatnya semakin buas seiring dengan luka yang diterimanya. Dalam keadaannya yang seperti itu Shafa menghujamkan pedangnya kearah Raktabija dan kloningannya tanpa berpikir bahwa mereka hanya akan beregenerasi dan justru menggandakan diri dengan serangan itu. Saat itu seiring dengan tebasan panas Shafa yang semakin ganas, tetesan darah Raktabija mulai berjatuhan bah hujan dan mulai berubah lagi menjadi kloningan Raktabija yang kini memenuhi medan laga. Kesal karena keadaan yang justru semakin parah, Shafa mulai semakin liar, serangan yang dilancarkan olehnya kini semakin beragam hingga akhirnya dalam keadaan hilang akal itulah Shafa menerkam Raktabija dengan tangannya, mencengkeram tubuhnya sebelum akhirnya menggigit leher Raktabija dengan keras lalu mengoyaknya dan kemudian menelannya. Dalam keadaan itu Raktabija ditangannya yang masih sadar berusaha berontak tapi rahang dan gigi-gigi Shafa semakin kuat mengoyaknya dan memakannya hidup-hidup hingga gemelutuk suara tulang yang hancur terdengar dengan jelas dari mulut Shafa yang penuh dengan darah yang saat itu masih menetes menjadi puluhan Raktabija. Dalam keadaan itulah Shifa datang, membanting tubuh Munda kearah kloningan Raktabija yang masih tumbuh dan membuat mereka membusuk sementara Shifa sendiri melepaskan tangannya yang segera pulih setelah itu.

"Sejauh ini akalnya sirna, aku lebih baik tidak terlalu sering berada disekitarnya," pikir Shifa saat menyaksikan Shafa yang penuh darah.

...

Kala dharmayudha.

"Jadi kenapa kita perlu memancing Shafa keluar," tanya Shifa waktu itu.

"Kau seharusnya sadar Shifa, temanmu itu adalah aset yang sangat vital bagi tentara Harasena," ucap Alim sambil menata strategi.

Lihat selengkapnya