Matahari mulai meninggi dan Munda telah dilempar menuju Shafa yang saat itu berkali-kali menghujamkan kalaratri ketubuh monster itu hingga pada akhirnya bukannya berhasil menghabisi targetnya justru membuat pedangnya berkarat. Melihat hal itu Shafa segera menyarungkan kalaratri, memperbaiki pedang itu dengan energinya sebelum menghajar Munda dengan tangannya. Tak berselang lama tangan Shafa turut membusuk yang segera dimanfaatkan Munda untuk menendang dagu Shafa hingga terpental. Tak lama kemudian Munda kembali menyerang bersama puluhan klon Raktabija namun saat itulah avatar Shafa muncul, menghantam puluhan makhluk yang mencoba mendekatinya sebelum digunakan Shafa untuk mencengkram tubuh Munda yang masih saja bisa membusukkan avatar Shafa yang merupakan konstruksi energi tapi kali ini sang Mahakali tak berhenti, avatarnya segera mewujud sempurna dan kembali mencekik Munda dan tanpa ragu dipanaskannya energi miliknya itu dan dimunculkan api hitam yang kemudian semuanya dipusatkan ke cengkeraman avatar miliknya hingga akhirnya raungan keras dari Munda memenuhi medan laga saat tubuhnya hangus dihadapan Mahakali yang murka.
"Dia benar-benar menghancurkan makhluk abadi itu," gumam Zahra yang memperhatikan dari kejauhan sambil terus menyerang.
Tak lama kemudian tangan avatar Shafa yang membusuk menyerpih menyisakan abu Munda yang jatuh ketanah sebelum Shafa sendiri melenyapkan seluruh avatarnya dan kembali mengangkat pedang kembarnya sambil mulai tertawa diatas abu Munda.
"Dan itu dia, satu akhirnya tumbang juga," ucap Shifa.
"Yep, kita tinggal menemukan cara untuk mengantarkan yang lain padanya dan mungkin juga menemukan cara untuk selamat darinya," ucap Sekar.
"Hahahahahahahahaaaaaaaaaa...."
Tawa Shafa semakin keras terdengar hingga akhirnya robek juga mulutnya sebelum akhirnya dia menatap kembali kearah tentara Raktabija dan memulihkan mulutnya lalu mulai memburu dan memangsa mereka.
...
Sementara itu ditempat lain, dua lelaki terlihat mencoba memasuki medan tempur meski ada orang lain yang menghalangi mereka. Merekalah Akhmad dan Rafa, ayahanda dan kakak tertua Shafa yang mencoba menghentikan pertempuran.
"Kenapa kau menghalangi kami Daksa!!," teriak Rafa sambil mencoba menembakkan beberapa panah api namun orang dihadapannya dengan mudah menepisnya dengan sebuah tembok air.
"Tolong jangan mengganggu pertempuran ini, semua ini untuk penebusan dosa Shri Nareshwari," ucap orang dihadapan mereka itu.
"Oh Sundara Chakravarthy, putriku hanya akan menyakiti dirinya dan orang-orang disekitarnya dengan keadaannya yang sekarang, aku hanya ingin menyadarkannya saja," ucap Akhmad.
"Ini pasti akal-akalanmu sajakan pak Gifar, ini hanya ide gilamu untuk festival film kan, kau sudah kehabisan ide sampai merancang kematian saudariku didalam sana, kau memang manusia yang tak punya hati, hanya demi membuat film besar dengan mendokumentasikan perjuangan hidup dan mati orang lain, kau bahkan tak mau menunjukkan wujud aslimu dasar pengecut, kau memang tidak bertalenta," teriak Rafa sebelum melemparkan lagi tombak apinya yang kali ini ditahan oleh Daksa dengan tembok kaca.
"Kalau itu berarti aku bisa menunaikan tugasku maka aku rasa tidak masalah," ucap orang bernama Gifar itu.
"Kalau begitu aku juga hanya menjalankan tugasku selaku seorang ayah," ucap Akhmad sebelum memanifestasikan avatarnya.
"Huff, aku juga tidak paham kenapa ujian ini harus tiba, kenapa tak langsung kau maafkan saja dia o Maheshwara," pikir Gifar sebelum menyerang balik menggunakan puluhan boneka es.
...
Disaat yang sama dimedan pertempuran, langit mulai diaduk oleh Rasha dengan angin kencang sebelum kemudian dibakar oleh Rafi hingga langit membara sebelum kemudian Rafi menghujani medan tempur dengan bola api. Melihat medan tempur dibumihanguskan Damar hanya tersenyum dibalik topengnya sebelum dengan cepat bergerak menyusuri medan laga menuju samudra dan memasukinya dan mulai menyaksikan ikan-ikan yang mulai mati karena lautan yang mendidih tetapi bukan itu tujuannya melainkan untuk berenang dengan senyap dibawah lautan untuk membingungkan Rafi dan Rasha.
"Kenapa energinya sulit sekali untuk dibaca, orang ini seperti tak punya sedikitpun energi kecuali berkas panas tubuh dan sekarang dia justru memasuki air saat aku memanaskan udara," gumam Rafi.
"Aku tidak mengerti, aku juga punya maharaga tapi aku juga tak tau kalau boon ini bisa digunakan sampai sekelas itu," ucap Rasha.
Tepat setelah itulah Rafi dan Rasha mulai memasang kuda-kuda, tepat saat dari sisi lain ada sambaran api hitam dan raungan ganas dari Shafa.
"Mbak, kau coba bantu mereka sebentar, aku akan menahan orang ini, periksa keadaan mereka," teriak Rafi sebelum melesat maju menuju lautan.