"Kalian benar-benar gigih, bukannya aku sudah bilang tidak akan terjadi apapun pada Prajnaparamita," ucap Gifar sembari melepaskan beberapa ular besar dari tangannya.
"Mana bisa aku percaya Prajapati, yang kutau kalian berencana menyingkirkan putriku," sahut Akhmad sambil menembakkan bola-bola magma dengan tinjunya.
"Hhh, kalian sudah lelah, bisakah kalian berhenti menyerang," ucap Gifar sembari memblokir serangan Akhmad.
"Heisssh, melawan mahamaharathi memang tidak masuk akal, bagaimana sebenarnya cara untuk menerobos ke arena, dia seperti tak punya celah," pikir Rafa sambil merangsek maju.
"Hmm, aku seharusnya membawa satelit bhuta kemari agar bisa membaca pikiran dan statistik kekuatan mereka, akan berbahaya kalau aku sampai tak sengaja membuat mereka kolaps, Maheshwara bisa melenyapkan diriku," pikir Gifar sembari menahan serangan demi serangan Akhmad dan Rafa.
...
"Kenapa tidak ayah saja yang berangkat kesana nak," tanya Adam di aula keraton Sumeru.
"Aku belum paham betul tentang politik negara, bisakah engkau menggantikan diriku sebentar ayah, tolong," tanya Salsa.
"Tidakkah kau berpikir tindakanmu ini berbahaya nak," tanya Adam.
"Tenang saja ayah, ada Rio kok," ucap Salsa.
"Kau tau siapa yang bisa berada disana untuk menghentikan dirimu nak, tidak ada kesempatan bagi kalian untuk menang melawannya," ucap Adam.
"Itu kalau kami bertarung ayah, kalau kami bertarung kami akan kalah, kami berangkat dulu," sahut Salsa sebelum mencium tangan ayahnya dan bergerak menuju vimananya.
"Tolong jaga putriku Akasha Deva," ucap Adam lirih.
"Untuk kali ini aku tidak bisa menjamin itu bapak, akan kucoba bicara pada temanku itu, do'akan kami," sahut Rio sebelum menyusul Salsa.
Sementara itu dari belakang Adam hanya menyaksikan vimana mulai berderu dengan kekhawatiran yang terlihat dengan begitu jelas diwajahnya.