"Splat."
Darah Chanda terpercik dari sarung tangan Rasha yang kemudian mengambil kepala Chanda dan membawanya meninggalkan tubuhnya yang jatuh ketanah.
"Memang harus dibunuh Shafa rupanya, kasian sekali, hidup gak jelas matipun susah," ucap Rasha saat menenteng kepala Chanda sambil terus mengiris lehernya secara berkala.
"BLAAAAARRR."
Saat Rasha sedang bergerak menuju Shafa itulah sebuah ledakan keras diikuti pijaran bara api meledak dari ujung cakrawala dan membumbung tinggi ke angkasa bersama samudra yang menguap tanpa sisa. Tepat setelah ledakan tadi batuan panas mulai berjatuhan dari angkasa bersama dengan percikan cahaya kebiruan yang bergerak kearahnya. Rasha yang kebingungan segera mempercepat langkahnya menuju Shafa sebelum melemparkan kepala Chanda itu kearah Shafa dan saat itulah kobaran cahaya biru tadi meledak dan mulai membakar tentara Raktabija yang pada akhirnya memberi waktu pada Shafa untuk menerkam dan menghabisi Chanda yang tinggal kepala itu.
"Hanya bisa dimusnahkan oleh adikku ya, nona Kaumari," suara pertanyaan terdengar dari samping Rasha yang segera menengok dan melihat kobaran biru tadi yang perlahan mengecil memperlihatkan Rafa muncul darinya.
"Ya, begitulah Mainaka, mungkinkah yang membuat ledakan tadi ayahandamu, tuan Himavan, bagaimana bisa sampai seperti itu," sahut Rasha.
"Hhh biasalah, calon menantu kesayangannya berulah lagi, emang kadang kurang ajar anak itu, mau nikah aja heboh begini, wes cocok padahal, garek rabi, malah bikin masalah, kan tinggal diajak ngobrol sambil ngopi bareng kalau udah nikah kayak aku," sahut Rafa sembari menghunuskan pedangnya.
"Emangnya bakal selalu seperti itu mas," tanya Rasha.
"Ya nggak, tapi kan seenggaknya bisa dibicarakan dulu, namanya keluarga kan pasti lebih sering ngobrol, lebih sedikit salah paham, gak semuanya harus sempurna toh, yang penting mau saling mengerti, lagu juga bukan reff semua isinya, tapi dengan begitu jadi enak didengarnya," ucap Rafa sambil menyalakan api di pedangnya dan mulai bergerak menyerang tentara Raktabija.
"Kok bisa aku bisa dapat panduan berkeluarga disaat seperti ini, kadang Dunia memang gak ketebak," gumam Rasha sebelum menyalakan kembali gelang-gelang tempurnya dan segera melesat menuju Mahishasura.
...
Disisi lain arena pertarungan.
"Maaf ya Shifa, kurasa aku hanya merepotkan kalian," ucap Zahra saat menyaksikan Shumba dan Nishumba kembali bangkit.
"Tenang saja mbak, bagaimana keadaannya Sekar," sahut Shifa.
"Entahlah, aku merasa agak kurang nyaman melihat makhluk-makhluk ini terus-menerus bangkit, ledakan yang dibuat mbak Zahra tadi seperti tidak ada efeknya, nampaknya benar mereka hanya bisa mati ditangan Shafa," ucap Sekar.
"Ya, wajar saja kalau begitu, pertarungan kali ini memang direncanakan Maheshwara," pikir Shifa.
"Berarti kita harus menyeret mereka ke Mahakali, kayak daur ulang rongsokan aja," ucap Shifa.
"Kau nampaknya tau sesuatu tentang kejadian ini If, tapi kalau kau sudah berjanji untuk merahasiakannya yasudah tak masalah, kejadian ini memang aneh, aku masih selamat dan ikut bertarung sekarang juga aneh, mereka hanya mati ditangan Shafa juga aneh, ledakan barusan juga aneh, menurutmu kenapa pak Akhmad dan mas Rafa juga sampai datang kemari, kenapa hanya mas Rafa yang sampai kemari membantu kita, siapa yang dihadapi pak Akhmad disana," ucap Sekar sambil menyusun senjata untuk menahan kedua raksasa dihadapan mereka.