"Kembalilah padaku Prajnaparamita."
Suara Ihsan memenuhi angkasa dan turun ke medan laga, merasuk melewati telinga Shafa dan turun ke hatinya, seketika itu juga senyum merekah dibibirnya dan terbuka lebar matanya saat perlahan napas dia tarik dalam-dalam dan hembuskan dengan pelan seraya menerjang Shumba dan Nishumba. Kedua pedang sang dewi terangkat saat kedua rakshasa itu juga mulai memadatkan wujud mereka hingga tubuh kolosal mereka menyusut. Saat itu Shumba segera menyambut serangan Shafa dengan hantaman gadanya yang saat itu coba Shafa tahan meski masih membuatnya terpental kebelakang. Disaat itulah Nishumba juga turut menyusut dan dengan mengandalkan kemampuannya untuk membuat senjata Nishumba segera melemparkan puluhan tombak yang saat itu juga ditepis oleh Shafa dengan pedangnya sembari perlahan mendarat dan kemudian lanjut menepis tombak demi tombak Nishumba seraya terus bergerak, berputar-putar dalam tarian perangnya membiarkan kalaratri berkobar ditangannya. Seiring dengan tarian itulah kalaratri semakin membara dan tanpa ragu Shafa akhirnya melepaskan tebasan jarak jauh untuk mengacaukan pandangan musuh sembari mempercepat langkahnya. Disaat bersamaan Shumba juga bergerak maju menyambut serangan Shafa dilengkapi gada miliknya serta zirah dan tameng yang barusan dibuat Nishumba untuknya. Menyadari bahwa akan sangat sulit untuk mengimbangi kekuatan Shumba dalam keadaan dirinya yang masih belum sepenuhnya pulih, Shafa menerjang Shumba dari sisi tubuh sang rakshasa menggunakan rantai panjang kalaratri untuk memberikan tebasan-tebasan panas dari arah yang tak bisa diduga musuhnya itu tetapi dari sisi lain Nishumba melemparkan bom kepunggung Shafa yang untungnya sempat menahan meski tetap saja dampak serangan itu berhasil mendorong Shafa tepat kearah Shumba yang segera menghantamkan gadanya hingga menggetarkan zirah tempur Shafa yang terhempas ke angkasa.
"Aku tidak bisa bertarung seperti ini, aku tak boleh ceroboh dalam bergerak, aku tak boleh bertarung serampangan. Anak-anakku kelak akan mencontoh diriku, kalau mereka menyaksikan ibu mereka bertarung seperti ini mereka juga akan ceroboh, aku ingin anak-anakku kelak bisa menerjang semua tantangan tapi bukan menghampiri kematian, aku harus ajarkan mereka untuk mengejar kemenangan meski kadang kemenangan berlari lebih cepat dari yang bisa dibayangkan dan untuk itu tak boleh ada langkah bodoh dalam tindakan mereka karena itulah aku yang harus memulainya. Adalah hal yang bodoh untuk mengajarkan sesuatu yang tak pernah kulakukan," gumam Shafa sebelum menyalakan api dikakinya untuk bergerak di udara.
Segera Shafa menggunakan nyala api dikakinya untuk bermanuver di angkasa sembari mulai memanjangkan rantai dari kalaratri sebelum kemudian menggunakannya untuk menyerang Shumba yang saat itu juga melesat kearahnya namun kali ini Shafa tak lagi menyambut serangan Shumba secara langsung melainkan menggunakan pedangnya untuk membantu manuvernya sembari mengumpulkan energi di mulutnya. Saat itu Shumba yang geram segera meluncur mengejar Shafa hanya untuk kemudian terhenti saat Shafa menembakkan asap panas dari mulutnya yang juga membantu Shafa meluncur semakin cepat kearah Nishumba. Saat itu Nishumba juga terlihat bersiap, senjata demi senjata dibuatnya lalu diluncurkannya tepat kearah Shafa yang saat itu memilih untuk menghindar sambil sesekali menepis serangan itu. Saat itu dari belakang Shumba kembali maju, beradu serangan sekali lagi dengan Shafa yang saat itu lebih berfokus untuk menghalau dengan mengayunkan kalaratri jauh dari dirinya untuk menepis serangan dengan bilah dan rantainya. Sambil beradu serangan itulah mulut Shafa mulai membacakan mantra yang membuat medan laga kembali memanas saat tiba-tiba dari arah belakang Nishumba juga merapalkan sinar brahmastra. Dalam keadaan itu mantra Shafa sudah selesai dan akhirnya sebuah proyektil api muncul membentuk agneyastra diujung jarinya yang kemudian dia segera bidik Nishumba dengannya. Tepat sebelum brahmastra selesai dimanifestasikan, agneyastra Shafa meluncur dari jarinya kearah dada Nishumba yang baru akan melepaskan tombak brahmastra. Saat itu Nishumba masih sempat untuk mengadu brahmastra dengan agneyastra namun kemahiran Shafa menggunakan agneyastra membuat brahmastra Nishumba takluk dan meledak bersama agneyastra tepat didepan muka Nishumba dan meremukkan seluruh senjatanya, menghempaskan Nishumba dalam keadaan sekarat dan penuh luka.