"Lama tak jumpa Shafa, bagaimana kabarmu," ucap Ihsan.
"Aku baik-baik saja Ihsan, bagaimana kabarmu," ucap Shafa.
"Aku juga masih sehat, maafkan aku baru mengurus permasalahan kita sekarang ya," sahut Ihsan seraya menyerap kembali kalasena.
"Kau sibuk mengurus banyak orang, kalau engkau mendahulukan diriku juga bukan hal yang benar," ucap Shafa.
"Terimakasih karena sudah coba memahami. Pak Damar, kau bisa hentikan pertarungannya," ucap Ihsan seraya melepas pelukannya dan menggandeng tangan Shafa.
"Siap Prabhu," sahut Damar yang sudah babak belur dihajar Rio seraya melepas topengnya dan menghentikan gerakan dharmasena dan mengembalikannya pada Narayana.
"Shafa, engkau sudah menyelesaikan ujian dariku, sekarang apa yang engkau minta dariku," ucap Ihsan.
"Engkaulah keinginanku dan untuk itu banyak orang yang telah membantuku, jadi kumohon kebijaksanaan darimu," ucap Shafa.
"Baiklah, tunggu disini," ucap Ihsan sembari mendudukkan Shafa.
Setelah mendudukkan Shafa, Ihsan berjalan kearah para pejuang yang berada disana. Pertama dia langkahkan kakinya menuju pak Damar.
"Baiklah bapak Damarwulan, engkaulah yang memikul beban besar untuk menyelenggarakan ujian ini, memikul dharmasena dan bertarung melawan Dwijananda, Akashadev dan calon menantumu sendiri bukanlah hal yang mudah, apa yang engkau minta dariku," ucap Ihsan.
"Entahlah nak, bisa dibangkitkan untuk hidup dizamanmu sudah merupakan berkah bagiku, aku belum tau apa yang kuinginkan," ucap Damar.
"Eee itu bukan hal yang ingin kudengar, aku sedikit memaksa disini," ucap Ihsan.
"Hahaha, baiklah kalau engkau memaksa, sebenarnya aku agak kurang suka kalau putraku berperang tanpa mengajak ayahnya ini, memangnya dia pikir aku sudah renta, bagaimana menurutmu agar aku bisa diajak berperang oleh putraku," ucap Damar.
"Permintaanmu agak berat juga pak Damar, bisa berperang bersama Kartikeya bukanlah hal yang mudah, dia menuntut koordinasi yang baik dengan pasukannya, kau harus bisa mendengarkannya di medan tempur meski dia putramu sendiri, tak ada berkah dariku yang bisa memastikan dirimu cukup kompeten untuk berperang bersama Kartikeya, itu bergantung dari usahamu tapi aku bisa memberikanmu sedikit bantuan untuk mencapainya, kumohon terimalah dan kuasailah senjata ini maka mungkin engkau akan bisa bertarung bersama Kartikeya di medan laga," ucap Ihsan seraya mengeluarkan seberkas energinya yang meluap keseluruh mata angin sebelum akhirnya dia padatkan menjadi sebuah anak panah dengan ujung bulan sabit.
"Sungguh murah hatimu wahai pashupati, kuterima pashupatastra dan nasehat darimu, semoga engkau selalu diberkahi," ucap Damar seraya menerima anak panah itu.
"Do'a dan jasamu lebih berarti bagiku," sahut Ihsan seraya berjalan kearah Rio.
"Hsssh datang juga kau pantek, beraninya kau membuatku menghajar pak Damar, mau ngasih apa kau," ucap Rio.
"Hmmh, apalah, kau juga gak kuajak sebenarnya, ngapain sih kau gabung Mariono, dah minta apa kau," ucap Ihsan.
"Sumeru didekat sini, riuh banget acara cari jodohmu ini. Mana aku gaada yang mau kuminta pulak, kita juga udah satu perusahaan, kau mau kasih apalah Ihsan yang menurutmu bisa membantu," ucap Rio.
"Hmm pengalengan ikan ya, berarti mungkin meningkatkan produktivitas laut, ah gini ajalah, kau kukasih alga yang punya produktivitas lumayan tinggi dari tempatku tapi hati-hati ya, agak bahaya kalau tidak dikontrol," ucap Ihsan sambil mengeluarkan sebuah botol kecil berisi air berwarna kehijauan yang dia berikan pada Rio.
"Menarik, alga dari Suralaya, ini akan menantang, kau gak kasih yang terlalu eksplosif kan pertumbuhannya," ucap Rio.
"Aku pilih yang nutrisinya lumayan tinggi, harusnya kau bisalah mengatur pertumbuhan alga dari Suralaya dan ya ini juga bukan yang punya ledakan populasi rata-rata, harusnya aman lah untuk ekspansi," ucap Ihsan.
"Okelah, terimakasih bro, eh nanti kalau udah mau nikah aku ikut nyebar undangan ya," ucap Rio.
"Boleeeh, tunggu aja," ucap Ihsan.
"Ya, kutunggu, terimakasih ya," ucap Rio.