Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #68

Satamaya Gandharvagita

"Hubungi yang lain Yusuf, ini mungkin akan agak alot," ucap Alim yang saat itu berdiri di lereng gunung tepat didepan sebuah gerbang.

"Kita berempat tak cukup ya, hhh kenapa pakai ketahuan sih," ucap Yusuf sembari membuka gawainya.

"Kita harus melunakkan hati seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya, prosesnya akan agak panjang," ucap Alim seraya membunyikan lonceng rumah itu.

"Mau bagaimana lagi, inilah cara terbaik untuk menenangkan hati adik kita itu, jalannya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan kadang terlalu kasar, terakhir kali kita mencoba menghentikannya malah pecah harihara yudha," ucap Steve.

"Sungguh bodoh kita berpikir bisa mengalahkannya waktu itu tapi apa yang kita hadapi sekarang juga bukan sesuatu yang mudah," ucap Lintang sembari menyaksikan seorang wanita membuka pintu rumah itu dan menatap tajam mereka.

"Bolehkah kami masuk ibunda Mainavati," ucap Alim.

"Katakan apa kepentingan kalian semua hingga harus datang kemari," ucap wanita itu.

"Mohon maaf ibunda, mungkin tidak baik kalau kita bicara terhalang gerbang seperti ini, izinkanlah kami masuk dahulu," ucap Alim.

"Baiklah, kalian boleh masuk," ucap wanita tadi sembari kembali memasuki rumahnya dan menyiapkan suguhan.

"Kau bawa hadiahnya kan Yusuf," tanya Alim.

"Aman," ucap Yusuf sembari menunjukkan sebuah bingkisan.

Disaat itu juga Alim membuka gerbang itu dan segera berjalan menuju pintu dan masuk bersama ketiga saudaranya, begitu dia membuka pintu dua anak kecil segera menyambut mereka dengan makanan.

"Maaf, suamiku belum pulang, apa yang kalian ingin bicarakan," ucap wanita tadi.

"Kami ingin bicara denganmu ibunda Rani, ini tentang putri sulungmu dan saudara kami," ucap Alim.

"Anak itu lagi, tak bisakah kalian berhenti membicarakannya, kami tak lagi ingin berurusan dengannya," ucap wanita bernama Rani itu.

"Sayangnya untuk sekarang akan sulit membicarakan banyak hal tanpa campur tangannya," ucap Yusuf sembari memberikan bingkisan tadi.

"Ya, kalianlah yang memecah belah keluargaku dan sekarang kalian ingin ambil putriku juga, kau pikir putriku itu apa!?, persembahan untuk Mahadewa!?," ucap Rani dengan nada yang mulai naik.

"Baiklah, mungkin kita bisa membincangkan hal lain, mungkin evaluasi masa kepemimpinan, tapi sebelumnya bolehkah kami duduk dulu," ucap Alim.

"Baiklah, duduk dulu," sahut Rani sembari menyuguhkan kopi pada mereka.

"Ini memang akan agak alot," pikir Yusuf sembari duduk.

...

Disaat bersamaan di medan tempur seusai pesta daging, vimana Ihsan akhirnya tiba dan Anas langsung terlihat begitu pintu terbuka.

"Baiklah, ayo naik," ucap Ihsan begitu pintu pushpaka vimana miliknya terbuka.

Lihat selengkapnya