Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #70

Restu

Berkas sinar surya merambat dari ujung cakrawala menusuk bola mata sang ibunda Prajnaparamita yang akhirnya terbuka untuk menyaksikan putrinya sedang memijat kakinya sebelum akhirnya pandangannya berputar sekali lagi untuk menyaksikan senyum lembut Shangkara.

"Kenapa belum pergi juga engkau dari sini," ucap Rani sembari memposisikan dirinya untuk duduk berhadapan dengan Shangkara.

"Aku sedang memohon restumu ibu tapi sebelum itu, engkau belum melaksanakan ibadah shubuhmu ibu," ucap Ihsan sembari menyerahkan kendi air kecil.

"Sudah terlambat ya," gumam Rani saat menyaksikan mentari perlahan muncul.

"Engkau sedang tak sadarkan diri tadi ibu. Bersegeralah ibu, sucikan dirimu dan menghadaplah pada-Nya," ucap Ihsan seraya mengangkat kendi air tadi.

"Baiklah nak," sahut Rani sembari menengadahkan tangannya.

Melihat itu Ihsan segera menuang air dari kendi tadi dan membiarkan Rani bersuci dengannya sebelum akhirnya bergerak menuju mihrabnya. Sementara itu Ihsan menunggu diluar ditemani Shafa dan keluarganya.

"Kau yakin aku yang layak untukmu Ihsan, kami bahkan tak menyambutmu dengan baik," ucap Shafa.

Mendengar hal itu Ihsan hanya menatap hangat Shafa sebelum akhirnya memalingkan lagi pandangannya menuju gerbang yang masih terbuka. Melihat itu Shafa hanya bisa terdiam, menundukkan kepalanya seraya melirik rumahnya sendiri menunggu ibundanya keluar dari pintu.

Matahari akhirnya naik dan pagipun tiba saat Rani keluar dari rumahnya dan menyaksikan Ihsan yang masih bersila perlahan mengarahkan pandangannya tepat kematanya.

"Kenapa anak ini masih disitu, kenapa dia masih kukuh untuk meminta restuku, kenapa pula semua orang itu mengikutinya, apa yang dilakukan anak ini sebenarnya," pikir Rani seraya perlahan melangkah maju.

Dalam langkahnya itulah Rani perlahan memandangi dengan cermat tamu-tamunya dan dia menyaksikan kedua anaknya yang masih kecil bermain dengan Alim dan Yusuf, suaminya yang sedang berbincang dengan Steve dan kedua putranya yang sudah dewasa sedang berlatih bersama Lintang. Tak lama dia memperluas lagi pandangannya dan menyaksikan Rio dan Salsa yang sedang membicarakan bisnis mereka pada Anas, para putri yang sedang bermain di tamannya. Rani menghela napas panjang sebelum menggulirkan bola matanya lagi untuk menyaksikan bermacam rupa manusia yang dibawa Ihsan dari Suralaya mulai bercengkerama dan membaur dengan tetangga-tetangganya, hari itu juga matanya disuguhkan dengan bermacam pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, mulai dari para gandharva yang terlihat antusias bermain bola dengan tetangganya, para apsara yang mengajari sekumpulan perempuan untuk bersolek, para rakshasa yang belajar bertukang, para pisacha yang bermain dengan anak-anak, para bhoota yang bertukar sajak dan hal-hal lain yang tidak terlintas dalam benaknya mengenai manusia-manusia unik itu. Pemandangan itu jugalah yang perlahan memudarkan ketakutannya sebelum akhirnya dia pandang lagi Ihsan dengan heran.

"Bagaimana kau mengumpulkan orang-orang aneh ini nak," ucap Rani.

"Heh!?, gimana maksudnya ibu," ucap Ihsan.

"Gimana caranya kau menemukan orang-orang ini dan bagaimana caramu bisa memahami mereka," ucap Rani.

"Ya, gimana ya bu, aku sering keliling-keliling dan kadang ketemu aja dengan mereka," ucap Ihsan.

Lihat selengkapnya