"Kita sampai, eh kenapa kau dek," ucap Rafa sembari mendaratkan vimananya.
"Gapapa mas," sahut Shafa yang masih berkaca-kaca.
"Kau apain dia sayang," ucap Rafa.
"Hanya bicara beberapa fakta saja," sahut Asri.
"Pantas saja Tuhan belum memberikan kita ujian keturunan, mulutmu pedes gitu," ucap Rafa.
"Gaada hubungannya ya mas, belum berhasil aja," ucap Asri.
"Gimana caranya berhasil kalau aku jadi gak mood gini, kurang-kurangi lah," ucap Rafa.
"Memangnya terapinya belum berhasil mas," tanya Shafa.
"Kayaknya bukan masalah terapi deh Shafa," ucap Rafa.
"Hmm, yang sabar ya mbak, nanti dapat kok," ucap Shafa.
"Urus saja urusanmu dek," ucap Asri seraya memasuki rumah.
"Kenapa lagi dia, maaf ya Shafa, mbakmu itu emang agak tajem omongannya," ucap Rafa.
"Mungkin mbak Asri stress karena terapinya gagal lagi, semangat ya mas, pasti bisa kok," ucap Shafa.
"Makasih ya dek, yaudah, sekarang bersiaplah dulu," ucap Rafa.
Anggukan lembut terlihat dari wajah Shafa yang juga segera berjalan memasuki rumahnya. Segera setelah memasuki rumah dia berjalan menuju kamarnya dan terbelalak matanya menyaksikan ibunya sedang memilah-milah bajunya.
"Ibu, mau engkau apakan baju-baju itu, bukannya itu pemberian kangmas," ucap Shafa saat menyaksikan ibunya memasukkan baju-baju lamanya ke sebuah karung.
"Mau dibakar," sahut Rani.
"Jangan lah bu, nanti kangmas Ihsan marah," ucap Shafa.
"Udah membiasakan manggil kangmas kamu ya. Hmm kangmasmu itu yang minta baju-baju lamamu itu dibakar saja, ibu barusan bicara dengannya, nih," ucap Rani sembari memutar pesan-pesan suaranya dengan Ihsan.
"Hah!?, kan bisa diberikan orang saja," ucap Shafa sambil mendengar rekaman telfon itu.
Mendengar itu Rani hanya diam dan terus memutarkan pesan selanjutnya.
"Ah sudah habis, gimana Shafa, masih ada pertanyaan. Sejujurnya awalnya ibu juga ingin memberikan saja baju-bajumu ke orang yang butuh tapi alasan Ihsan ini masuk akal juga, ibu juga baru tau," tanya Rani.