Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #75

Gang Rinpoche

"Gang Rinpoche ya, inikah yang akan jadi gerbang utama menuju prosesi pernikahan, kalian meriasnya dengan indah, terimakasih sudah mau mengantar kami ya," ucap seorang pemuda sembari memandangi gerbang menuju puncak Kailash itu.

"Benar mas Bagas, gerbang inilah yang akan kami gunakan tapi saya izin ya mas, mau lanjut menata pernikahan," ucap Andre.

"Silahkan pak, maaf juga merepotkan," ucap pemuda bernama Bagas tadi.

"Tidak masalah mas," sahut Andre sebelum akhirnya segera mulai mengerjakan persiapan pesta lagi.

"Bagaimana pak Arya, ini nampaknya masih sangat awal untuk datang," ucap Bagas.

"Aku memang ada urusan dengan Nareshwara, sekalian mau lihat persiapan saja, ternyata sudah sampai sejauh ini," ucap pria disebelahnya yang bernama Arya.

"Tidakkah aneh bagimu untuk menghormati kami, murid-muridmu sendiri," ucap Bagas.

"Tidak juga, kalian memang layak mendapatkan apa yang kalian usahakan, lagipula kalian juga masih menganggapku guru, itu sudah lebih dari cukup," ucap Arya sembari memasuki Gang Rinpoche.

Bagas saat itu hanya sanggup diam mendengar perkataan gurunya sebelum akhirnya juga turut memasuki gerbang utama Kailash itu dan mulai melangkahkan kakinya setapak demi setapak mendaki Kailash yang kian lama kian tinggi dan mendapati rumah Shangkara itu sibuk dengan berbagai persiapan untuk pesta pernikahan Ihsan dan Shafa yang akan berlangsung delapan hari dari saat dia melangkahkan kakinya untuk mendaki Kailash dan akhirnya merasakan dinginnya salju perlahan berganti dengan hangat dari tanah yang subur ditumbuhi berbagai macam vegetasi. Saat itulah Bagas memusatkan pandangannya kedepan untuk menyaksikan fajar menyapu barisan bangunan yang riuh dengan kegiatan disebalik pepohonan rindang.

"Inilah dia, keraton Suralaya yang terus tumbuh," gumam Bagas seraya melompat ke pohon tertinggi untuk menyaksikan dengan jelas kompleks keraton Suralaya yang terus dibangun selayaknya Kailash yang juga terus tumbuh.

"Sampai juga engkau disini Nara," ucap Rio yang barusan keluar dari keraton.

"Kau bisa merasakan keberadaanku ya," ucap Bagas.

"Ihsan yang merasakan keberadaanmu, dia memberitahuku kau sedang datang kemari bersama pak Arya, bagaimana kabarmu Bagas," ucap Rio.

"Baik," ucap Bagas.

"Kau mau coba berduel sebentar denganku," ucap Rio sambil memanggil busur panah dan bajranya.

"Boleh saja," ucap Bagas seraya mengeluarkan pedangnya.

Tak lama kemudian sebuah awan kelabu segera menyelimuti keduanya dan tanpa lama sebuah kubah terbentuk membungkus keduanya dalam arena saat keduanya mulai melangkahkan kakinya untuk saling unjuk gigi.

...

"Kau yang melakukan itu Prabhu," tanya Arya.

"Aku sebenarnya ingin melihat mereka bertanding tapi kali ini para warga Suralaya sedang fokus mempersiapkan pernikahanku, rasanya akan tidak sopan kalau kubiarkan ada kegaduhan disekitar keraton saat mereka sedang bekerja untukku. Oiya pak Arya, dari laporanmu nampaknya Sahasradwipa masih kurang bisa memeratakan pembangunan ya dan eee panggil Ihsan saja, aku merasa aneh kalau kau memanggilku Prabhu," ucap Ihsan.

Lihat selengkapnya