"Delapan hari lagi ya," gumam Shafa sambil meletakkan piring-piring kembali ke raknya.
Seusai merapikan dapur, Shafa segera berjalan menuju kamarnya untuk menyaksikan lagi kesepuluh pusaka yang dia susun dengan rapi didalam sebuah kotak kaca. Setelah itu Shafa memandangi lagi kedua tangannya dan mengingat kembali seluruh kegilaan yang pernah dia lakukan dengan kedua tangan itu.
"Dengan tangan inilah aku akan mendidik anak-anakku kelak. Tangan seorang pembunuh ini akan jadi tangan yang merawat masa depan, tangan yang akan mencontohkan cara menjadi ibu adalah tangan dari seorang wanita yang pernah mengacaukan segalanya tapi sekarang aku tak bisa mundur. Pertanyaannya sekarang bukan apakah aku sanggup atau tidak melakukannya tapi apa yang harus kulakukan untuk melakukannya, apa yang bisa kuajarkan pada anak-anakku nanti sedangkan keahlian kedua tangan ini hanya memotong dan membakar, apakah memasak dan bertarung saja cukup, kurasa butuh lebih dari itu, bahkan untuk menggunakan senjata saja aku tidak maksimal dari kesepuluh pusakaku hanya dua yang sering kugunakan, ini buruk, aku belum merasa layak untuk menjadi ibu," pikir Shafa sebelum akhirnya mengambil sarung tangannya dan memakainya sebelum berjalan keluar dari kamarnya.
Dalam keadaan rapi Shafa berjalan keluar menuju dapur untuk membuat secangkir kopi dan pisang goreng sebelum membawanya berjalan keluar memandangi halaman rumah tempatnya tumbuh besar. Sambil menyaksikan rumahnya itu Shafa perlahan menyaksikan bayangan kakak dan saudaranya yang masih kecil berlarian bersama ayahnya sementara dirinya bermain bersama ibunya. Tak lama kemudian dipandanginya lereng pegunungan yang penuh dengan riuh kehidupan itu, sebuah metropolitan kecil yang tumbuh bersamanya sebelum akhirnya dia mengingat lagi ayah dan ibunya yang membangun tempat itu dari yang sebelumnya sepi dan dingin menjadi sebuah daerah yang ramai dan sejuk. Setelah itulah Shafa baru melihat beberapa tetangganya melakukan kegiatan sehari-hari mereka. Sambil menggigit pisang goreng ditangannya dia mulai menyadari bahwa tempatnya tumbuh itu kini semakin ramai semenjak lamaran yang datang padanya dan kemudian menyaksikan para pebisnis Kailash yang berseliweran didekat rumahnya. Tak lama kemudian sebuah vimana kecil terlihat melayang menuju rumahnya sebelum akhirnya mendarat dan akhirnya muncullah Shifa dan Sekar dari dalamnya.
"Heeei Shafa!!, Assalamu'alaikum," seru Shifa dari luar gerbang.
"Waalaikumsalam Shifa, gimana kabar kalian," sahut Shafa sembari berjalan untuk membukakan gerbang.
"Ehehehe, baik, eh aku ada hadiah untukmu, sebentar ya," ucap Shifa sembari mengeluarkan sesuatu dari vimana.
"Eh?, apa ini," ucap Shafa.
"Itu tiramisu," ucap Shifa.
"Owh, kalian sudah bisa membuat banyak makanan sekarang," ucap Shafa sembari mencicipi tiramisu itu.
"Bagaimana, enak!?," tanya Shifa.
"Enak kok, ayo masuk," ajak Shafa.
"Oke," ucap Shifa.
"Eh Shafa, bagaimana persiapanmu, sudah delapan hari lagi loh," tanya Sekar.
"Gaun dan perhiasanku lagi dibuat, katanya juga sedang dibuatkan parfum dan juga lagi mencari perias yang cocok," ucap Shafa.
"Hooh, banyak sekali yang harus mereka lakukan," ucap Sekar.
"Entahlah, aku juga tidak paham kenapa seribet ini," ucap Shafa.
"Yang sabar ya Shafa, memang begitu rasanya hidup di keraton," ucap Shifa.
"Kan aku juga pernah tinggal disana," ucap Shafa sambil memposisikan dirinya untuk duduk dan mempersilahkan kedua sahabatnya duduk juga.
"Agak beda nampaknya, dulu kan kau cuma kepala dapur keraton," ucap Sekar.
"Eeeh iya sih," sahut Shafa.
"Oiya Shafa, kita jalan-jalan dulu bagaimana, mumpung masih ada waktu," ajak Shifa.
"Iyah, ke mana gitu," ucap Sekar.
"Hmm bagaimana ya, sebentar aku izin dulu," ucap Shafa sebelum akhirnya masuk kedalam rumahnya.
...
Tak lama Shafa keluar lagi dengan senyum kecil dan jaket panjang serta sebuah tas kecil ditangannya.