"Kau bisa melukis juga," tanya Alim ditengah teriknya mentari.
"Sedikit-sedikit lah cak, eh gimana ikannya tadi," sahut Ihsan.
"Enak kok, lagi ngelukis siapa kau," tanya Alim.
"Siapa lagi cak," sahut Ihsan.
"Hahaha, lagi seneng-senenge rek, gak pakai foto atau bagaimana buat contoh," tanya Alim.
"Nggak ah, udah terlalu jelas," ucap Ihsan.
"Udah beberapa kali engkau melukis potret wajahnya dan sekarang kau mau mencoba hanya dengan imajinasimu," ucap Alim.
"Namanya udah mau bersama cak, pasti kebayang-bayang," sahut Ihsan dengan senyum cerah terpancar dari wajahnya.
...
Disaat yang sama di Arunavati. Shafa terlihat sedang berada disebuah kemah militer bersama Sekar dan Shifa.
"Kau yakin mau mengundurkan diri dari kepala vishkanya sekarang," tanya seorang perempuan.
"Ada yang lebih pantas dariku bu Rina," sahut Sekar.
"Rasha tidak mau nak, katanya pola birokrasinya aneh," sahut Rina, wanita tadi.
"Urusan itu bisa dia bicarakan dengan Skanda secara langsung, malah bisa jadi dia akan menjadi pimpinan apsara ratrisena, dia yang paling mumpuni dalam pertarungan dan yang paling teliti dalam membaca keadaan, aku juga sangat sering berbicara dengannya untuk berbagai keputusan selama menjadi Savitri," ucap Sekar.
"Hhh baiklah, padahal dulu kalianlah yang berlatih paling keras diantara seluruh vishkanya, tanggung jawab kalian untuk membina keluarga dengan bagian dari Pancamurti memang tak bisa dikesampingkan ya," ucap Rina.
"Benar bu," ucap Sekar.
"Tapi Kaumari juga akan mendampingi seorang Pancamurti juga, akan merepotkan kalau dia juga turun," ucap Rina.
"Aku sudah berbicara dengannya terlebih dahulu dan menjadi bagian dari vishkanya adalah salah satu caranya untuk menolong Skanda menjalankan tugasnya, saya rasa kalau dia menjadi pemimpin vishkanya akan sangat bagus," ucap Sekar sembari menancapkan pedang komando vishkanya ketanah.
"Apa tak perlu upacara pergantian," ucap Rina.
"Itu akan sangat membosankan bagi Kaumari," ucap Sekar.
"Sekar, memang upacaranya begitu, ikuti saja," ucap Shafa dari belakang.