Surup-surup cahaya merambat menerobos rerumputan menuju kedua tangan Ihsan yang saat itu sedang mengerjakan lembar demi lembar dokumen sambil menikmati durian dan kopi. Fajar pun usai dan langit perlahan membiru saat Ihsan menuntaskan dokumennya dan perlahan mengangkat pandangannya.
"Silahkan masuk pak," ucap Ihsan.
"Assalamu'alaikum Prabhu, bagaimana kabarmu," ucap Anas sembari membuka pintu.
"Waalaikumsalam, baik, ada apa ini," tanya Ihsan.
"Cincinmu Prabhu, sudah rampung," ucap Anas sembari menyerahkan sebuah kotak kecil ditangannya.
"Ahh sudah jadi, aku bisa mengembalikan cincin ibu Rani sekarang," ucap Ihsan sambil menerima cincin tadi lalu membuka dan memandangi isinya.
"Maaf Prabhu, ini sisa bahannya," ucap Anas seraya menyerahkan sebungkus penuh perak dan permata.
"Lucu sekali kau pak, kan sudah kubilang sisanya ambil saja bersama orang-orang lain yang membuatnya," ucap Ihsan.
"Tapi Prabhu, ini banyak sekali," ucap Anas.
"Memang kulebihi bos, gaada ceritanya orang bikin cincin pake bahan sebanyak itu," ucap Ihsan.
"Terimakasih banyak kalau begitu Prabhu, tapi bolehkah aku bertanya Prabhu," ucap Anas.
"Ucapkan saja," ucap Ihsan.
"Mengapa engkau meminta untuk cincinmu tak ada permatanya, hanya cincin Parvati Devi yang engkau berikan permata," ucap Anas.
"Aku ingin menggunakan cincinku untuk menjadi stempel Maheshwara juga, bapak, coba jawab, manakah yang lebih mudah untuk dicetak menjadi cap, logam atau kristal," tanya Ihsan.
"Logam Prabhu," ucap Anas.
"Engkau benar, sekarang engkau mengerti mengapa aku meminta cincinku polosan tanpa shangkaramani kan," ucap Ihsan.
"Aku mengerti sekarang Prabhu, terimakasih," ucap Anas.
"Hehehe, sekarang engkau jalanilah aktivitas lain," ucap Ihsan.
"Baik Prabhu, terimakasih," sahut Anas sebelum beranjak pergi dari balkon keraton.
"Sekarang aku perlu menemui Shafa, oh sebentar, kurasa harus ada sedikit tambahan," gumam Ihsan sembari menyentuh kotak berisi kedua cincin tadi dan mulai mengalirkan energinya dengan lembut.
...
Sore harinya di griya Himavan.
"Eh, dia mau bertemu denganku, waduuh, gimana ini dia pasti sudah bergerak kemari, aku masih belum rapi," pikir Shafa sembari bergegas mengambil baju dan menuju kamar mandi.
"Ngapain anak itu, umek wae," gumam Rani.
"Kayaknya sih ada yang mau datang, " sahut Akhmad sembari memperlihatkan pesan Ihsan.