Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #83

Gendhing Welas

"Hmmh, eeeh, aku ketiduran, astaghfirullah, nangendi aku saiki," pikir Ihsan yang terbuka lebar matanya dan melihat segelas air disebuah meja.

Perlahan Ihsan duduk memperhatikan kamar tempatnya tidur yang rapi sebelum diambilnya segelas air tadi dan diminumnya sembari terus memperhatikan sisi kamar yang rapi dan wangi. Tak lama dia akhirnya menoleh kebelakang dan menyaksikan sepuluh pusaka yang terpajang rapi dalam lemari kaca dan kemudian dia memalingkan lagi wajahnya dan melihat meja rias dari kayu mahoni dimana sebuah kalung dengan permata merah berbentuk hati tertata rapi tepat disebelah kaligrafi kecil bertuliskan nama Shafa.

"Sudah bangun mas," tanya Shafa sembari memasuki ruangan.

"Iya Shafa," ucap Ihsan.

"Ayo sarapan dulu, nanti biar gak telat kamu kembali menuju keraton," ucap Shafa.

"Baik Shafa," sahut Ihsan seraya berjalan mengikutinya.

"Pagi ini ibu dan aku masak sop iga mas, kamu suka kan," tanya Shafa sembari menyiapkan meja.

"Sop ya, eh banyak juga makanan, yang lain mana," ucap Ihsan saat dia duduk.

"Kami biasanya gak sarapan di jam sahur sepertimu, paling hanya kopi dan roti isi seusai ibadah shubuh," ucap Shafa sembari mengambilkan makanan untuk Ihsan.

"Iya le, ini pagi sekali untuk makan berat, perutmu sudah biasa makan jam segini ya, kau nanti gak makan lagi kah, siang atau sore," tanya Rani seusai membereskan dapur.

"Iya bu, memang terbiasa jam segini, biasanya dari pagi sampai sore ada makanan selingan, mungkin buah atau daging yang dikeringkan, sama minum sih, biasanya air putih tapi kalau lagi pingin ya wedang," ucap Ihsan.

"Oooh, tapi jadwal makanmu ini bagus loh le, ada jeda setidaknya dua belas jam antara dua makan berat, kau bisa beraktivitas seharian kalau begini," ucap Rani.

"Iyaaa, aku cuma meniru pola makan saat puasa saja ibu," ucap Ihsan.

"Oooh gitu ya, bolehlah kucoba," ucap Rani.

"Silahkan saja ibu tapi ya sesuaikan dengan kebutuhan panjenengan juga," sahut Ihsan sebelum mulai makan.

"Oke, eishh mana bapak dan saudaramu itu Shafa, belum bangun juga," ucap Rani.

"Ooh bentar ibu, kubangunkan dulu," ucap Shafa sedikit terkejut.

"Hhh ngangong ae, udahlah ibu aja yang bangunkan bapakmu, kau bangunkan Rafi ya," ucap Rani.

"Iya bu," sahut Shafa sebelum akhirnya keduanya meninggalkan meja makan.

Tak berselang lama Akhmad dan Rafi akhirnya keluar menuju meja makan namun Ihsan saat itu sudah merapikan meja dan mencuci piring dan gelasnya.

"Loh udah selesai mas Ihsan, aku baru mau makan loh," tanya Akhmad.

"Ah itulah pak, agak kurang pagi kau kalau mau makan bareng mantumu," ucap Rani.

"Iya bapak, saya buru-buru, harus segera balik menuju keraton, terimakasih ya," ucap Ihsan sambil merapikan dirinya.

Lihat selengkapnya