Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #84

Silent Orchestra

"Nampaknya tawaran kalian belum menguntungkan bagi kami, kenapa pula bukan Shangkara sendiri yang datang kalau memang berbisnis dengan kami adalah hal yang menguntungkan, dan kalau memang memang menguntungkan kenapa harus diganti," ucap seorang lelaki yang tak menyadari dengan siapa dia berbicara.

"Maaf tuan, tapi sepertinya anda salah paham, saya tidak mengatakan model bisnis kalian ini menghasilkan banyak keuntungan, saya hanya memuji kelihaian kalian dalam berniaga, berapa celah kebijakan yang harus anda lalui untuk melakukan semua ini," tanya Yusuf yang sedang menyamar.

"Hahaha, itu mudah saja, Shangkara terlalu lembut dalam hal ini dan negeri ini juga penuh celah hukum, jadi bagaimana, engkau tertarik untuk melakukan investasi, bapak Basri," tanya pria tadi.

"Menarik, menarik, mengapa tidak segera memperdagangkan barang yang layak diperjualbelikan atau jasa yang layak untuk diberikan upah daripada eee apa tadi, koin virtual ya, itu tidak terlalu berguna dan nilainya terlalu fluktuatif, kau yakin ini menguntungkan," tanya Yusuf.

"Kalau kami batasi produksinya maka akan terhitung sebagai barang koleksi terbatas dan nilainya bisa melambung, tentu saja ini akan menguntungkan," ucap pria itu.

"Hhh atau begini saja, kalian setidaknya bisa untuk mencetak dan memberikan barang kalian kepada pemilik kalau memang sifatnya koleksi, tapi aku sama sekali tak tertarik jika barang yang kau maksudkan itu virtual, ini bisnis yang aneh dan tidak berfaedah," ucap Yusuf.

"Siapa sebenarnya engkau bapak Basri, kenapa engkau terus menuntut agar diriku mengikuti skema bisnis kolotmu itu," ucap pria tadi sambil mengumpulkan energi ditangannya.

"Untuk keuntungan bersama dan meningkatkan percaya antara pedagang dan konsumen harus terjadi transaksi dengan nominal yang terjaga dan itu bisa dilakukan hanya jika sebuah pertukaran manfaat terjadi, entah itu uang ditukar dengan barang atau dengan jasa, apabila engkau memang tidak sanggup untuk menyediakan keduanya dan koin virtual ini juga bukan barang, bukan pula jasa maka aku tak tertarik untuk berbisnis denganmu, tolong perbaiki saja sebelum semuanya hilang," ucap Yusuf tepat saat vayavastra melesat dari tangan pria tadi ke mukanya namun Yusuf terus melanjutkan berbicara tanpa terjadi apapun padanya.

"Huh!?, bagaimana caranya itu tidak berefek," gumam pria itu.

"Engkau tak seharusnya melemparkan astra pada tamumu tuan, itu agak kurang sopan, hmmh baiklah karena kurasa bisnismu ini hanya memelintir logika saja harusnya bisa dilawan dengan narasi yang bagus, tolong ubahlah skema bisnismu sebelum tipu muslihatmu ini hancur dimakan waktu," ucap Yusuf sembari berjalan keluar dan perlahan kembali ke wujud aslinya.

"Brahma!?, jadi selama ini aku berbicara dengan Brahma!?, jadi aku diawasi selama ini, ah tidak, orang itu mungkin hanya menyamar menjadi Brahma, dia mungkin hanya kebetulan tau mantra netralisasi vayavastra, takkan ada masalah," pikir pria itu.

Sementara itu diluar Yusuf yang sudah sampai luar akhirnya bertemu lagi dengan Sekar dan Gibran yang sudah menunggu.

"Bagaimana hasilnya Suf," tanya Gibran.

"Hhh agak repot bicara dengan orang serakah, semoga dia mengubah cara berbisnisnya," sahut Yusuf.

"Kalau dari yang kudengar sih akan sulit," ucap Sekar.

Lihat selengkapnya