"Apa aku sudah benar-benar layak jadi seorang suami, apakah aku sudah layak jadi seorang bapak, apa yang harus kulakukan nanti," pikir Ihsan saat dirinya berjalan menuju takhta miliknya untuk memberikan solusi bagi permasalahan banyak orang.
Saat itu juga ratusan gerbang menuju Suralaya dibuka. Kompleks keraton yang tersebar mengelilingi puncak Kailash, ratusan bangunan yang berdiri menembus awan dan dikelilingi taman-taman serta jantung peradaban manusia yang dipenuhi dengan pasar-pasar yang tak pernah sepi. Tempat yang penuh dengan saudagar, nelayan, petani, peternak, tabib, seniman, tentara dan manusia dengan segala urusan lainnya bertemu, menantang dan mengasah kemampuan mereka di lingkungan Suralaya yang memaksa kompetensi mereka meningkat ke tingkatan tertinggi. Disana jugalah para Ishvara dan jajarannya datang menghadap Ihsan, sang Maheshwara demi menyampaikan keadaan negara mereka, memohonkan bantuan dan arahan dari Sang Hyang Bhatara Guru yang dengan sabar mencoba memberikan apa yang bisa dia berikan untuk menolong keperluan mereka dengan senyum lembut dan sorot mata cerah yang menenangkan tamu-tamunya. Hari itu dalam hatinya yang berbunga-bunga beribu jalan mulai direncanakannya sembari membaca dan menyetujui berbagai dokumen dan berdiskusi dengan orang-orang yang ditemuinya. Dia dan berjuta-juta atmasenanya tersebar di seluruh kompleks keraton Suralaya serta juga disebarkannya ke seluruh dunia untuk memberikannya gambaran yang lebih luas atas umat manusia yang dipimpinnya. Dari situlah dia juga menjalani berbagai pertarungan, melakukan banyak diskusi dan hidup bersama dengan banyak orang untuk turut merasakan apa yang orang-orang yang dia pimpin rasakan dalam sebuah tabir penyamaran sebagai pengelana atau saudagar.
"Aku benar-benar ragu apakah aku bisa memberikan kasih sayang dan perlindungan padamu Shafa, mungkin apa yang engkau lihat dan harapkan dariku belum tentu bisa kuberikan. Ahh aku bingung, aku bingung sekali Shafa, mungkin aku memang harus bertemu, kalau terus begini akan terlalu banyak pertanyaan, aku ingin tau saja, apa yang dia pikirkan tentangku," pikir Ihsan sembari memandangi foto kecil Shafa sebelum akhirnya pintunya kembali diketuk.
Saat itulah Ihsan bangkit dari duduknya dan melepaskan sebuah atmasena yang segera mempersilahkan tamunya itu masuk sedangkan dirinya sendiri mengecil dan keluar dari ruangan sebelum kembali memperbesar dirinya dan dengan cepat berjalan menuju pelataran keraton. Begitu sampai di pelataran keraton Suralaya Ihsan segera melesat kelangit, menghilang dari pandangan orang-orang yang tak menyadari bahwa dirinya telah pergi.
...
Disaat yang sama Shafa sedang merawat kebun rumahnya, membersihkan daun-daun yang layu untuk kemudian dia masukkan ke wadah khusus untuk memprosesnya menjadi pupuk sebelum kemudian mengambil pupuk yang sudah siap dari wadah yang lain sebelum kemudian mengambil selang dan berjalan kembali menuju tamannya untuk memberikan pupuk dan menyiram tamannya.
"Hmm besok aku harus mencoba pakaian, parfum dan riasanku ya, mas Ihsan akan suka tidak ya, andai saja dia tidak sesibuk ini mungkin aku bisa bertanya langsung," pikir Shafa.
Dalam senyap itu senyum Shafa datang dan pergi, kadang berganti dengan air mata kecil, kadang berganti sedikit gerutu, kadang berganti dengan rona merah dari rasa malu, kadang berganti juga dengan ketakutan sebelum berganti dengan senyum lain, kadang manis, masam, getir. Sembari terus bergerak di tamannya dan kini menyemai tanaman Shafa terus bergumam, terus menggerutu dan mengoceh sendirian, kadang berbisik dan kadang lantang, kadang samar dan kadang jelas. Bahkan seusai menyelesaikan pekerjaannya di taman Shafa masih terus berusaha mencari jawaban dan mulai berbicara dengan kucing kecil, pipit, beo, semut, kupu-kupu, kumbang, kadal, ikan, bebek, ayam dan berbagai binatang lain yang ditemuinya saat itu sampai akhirnya Rani datang ke taman.
"Shafa, kemarilah nak," ucap Rani.
"Iya ibu, ada apa," tanya Shafa.
"Calon suamimu datang," ucap Rani.
"Eh, aku masih kotor, aduuh, gimana ini," ucap Shafa.
"Yasudah, kami bicara disini saja ibu, boleh kan," suara Ihsan terdengar sebelum akhirnya dirinya muncul.
"Boleh aja nak, silahkan," ucap Rani sembari beranjak pergi.