Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #86

Sundareshwar

"Mas Gifar, apakah semua persiapan untuk maha vivaha sudah lengkap," tanya Feni sembari menyusuri lorong kastil.

"Ketujuh Maharshi sudah mengabari akan segera tiba, kau siapkan saja riasan untuk kedua pengantin kita," sahut Gifar yang berjalan didepan Feni.

"Baiklah, kuharap mereka akan suka," sahut Feni tepat saat Gifar membuka gerbang istana miliknya.

Saat itu hembusan salju menerpa meski akhirnya rombongan pria akhirnya tiba didepan gerbang keratonnya.

"Persiapan untuk pernikahan sudah kami siapkan wahai Prajapati dan Prasuti," ucap pemimpin rombongan itu.

"Bawa semuanya masuk dan beristirahatlah dahulu Yudi," sahut Gifar.

"Terimakasih tuanku," ucap pemimpin rombongan bernama Yudi itu sembari melangkah masuk bersama rombongan itu kedalam keraton Mrajapati.

Tepat setelah rombongan masuk Gifar segera menutup kembali keratonnya dan memanggil ketujuh orang yang sangat dikenalnya dari rombongan tadi.

"Ada keperluan apa memanggil kami," tanya salah seorang pria yang dipanggil Gifar.

"Besok pagi kita harus siap, pengantin kita akan datang kesini, kita perlu mendiskusikan sesuatu mas Jack," ucap Gifar sembari terus berjalan.

...

Langit mulai memerah dari ufuk timur saat sang surya mengintip perlahan tepat saat sebuah vimana melayang diatas keraton Mrajapati. Dari dalam vimana itulah Ihsan keluar menghirup udara dingin diatas langit kastil Mrajapati diikuti Shafa yang sedang memegangi tangannya, dari belakang merekalah kedua orang tua beserta saudara dan saudari mereka mengikuti mereka yang perlahan turun, melayang menuju gerbang keraton Mrajapati dimana ada sembilan orang yang berdiri tegak menunggu mereka.

"Melihat kalian bersembilan berdiri tegak begini untuk menyambut diriku adalah hal yang terasa sedikit janggal, tapi gak masalah juga, Assalamu'alaikum, Gifar, Yudi, Jack, Zuhri, Yasha, Rizal, Malvin, Paul, Feni," ucap Ihsan.

"Waalaikumsalam," sahut kesembilan orang itu.

"Hmmh, waktu itu kami juga menyambut dirimu Prabhu, hanya saja konteksnya agak berbeda," ucap Gifar.

"Sudahlah, kita harus segera mencoba gaun sekarang," ucap Feni.

"Baik nyonya," sahut Shafa.

"Hehe, oke," sahut Ihsan sebelum masuk kedalam dan menarik tangan Shafa.

"Huh!?, jadi ini isi keraton Chakravarthy, indah sekali," pikir Shafa.

"Indah ya," tanya Ihsan begitu menyaksikan mata Shafa yang berbinar.

"Iya mas," sahut Shafa.

"Mau berkeliling setelah mencoba gaunmu," tanya Ihsan.

"Mau!!, ayo berkeliling nanti," sahut Shafa yang genggaman tangannya semakin erat.

"Ya, kita coba dulu ya," ucap Ihsan.

...

Tak lama kemudian Ihsan dan Shafa akhirnya sampai di sebuah ruangan dimana persiapan pernikahan mereka sudah dipasang. Disana tergambar dua lukisan Ihsan dan Shafa yang mengapit sebuah teater putih dimana barisan wayang kulit sudah tertata rapi dimana persiapan pernikahan lain berada didepan teater itu.

"Ini mahakaryamu ya mas Yudi," tanya Ihsan.

"Kuharap engkau suka Prabhu, saya hanya mendesain teaternya, ini bisa engkau gunakan untuk memutar film dan memainkan wayang yang ku desain bersama Rizal," ucap pria bernama Yudi itu.

"Ooh, sentuhan tanganmu memang khas mas Rizal, halus sekali," ucap Ihsan.

"Terimakasih Prabhu," ucap Rizal.

Lihat selengkapnya