Hening, suara angin bertiup malu menyapa Ihsan yang berdiri dari mimbarnya, melepas perlengkapan ibadahnya lalu menaruhnya di laci dan berjalan keluar bersama sinar surya yang menerobos masuk melewati pilar-pilar kayu masjid utama keraton Suralaya. Langkah demi langkah dilewati sang Prabhu menuju bagian luar dari rumah ibadah itu dan suara-suara manusia mulai terdengar. Saat keluar sang Prabhu memasukkan langkahnya ke terompah dan kembali berjalan dengan senyum cerah diwajahnya diikuti dengan orang-orang yang mulai menurunkan suaranya dan membungkukkan badannya, memberi salam hormat padanya serta mendoakannya.
Hari itu lebih ramai dari biasanya, lagu-lagu, syair, puisi dan do'a mulai terdengar dari berbagai penjuru disertai dengan orang-orang yang menari-nari di lereng Kailash dibawah langit yang dipenuhi vimana. Saat itu Ihsan hanya hening, terus berjalan menuju sebuah bagian di sudut Suralaya. Disana para koki berkumpul, dipenuhi dengan gelak tawa dan permainan kecil disamping pot-pot yang sudah penuh dengan berbagai macam makanan, gulai, kari, pindang, pepes, sate, steak, sayur sop serta berbagai makanan lain dalam gentong demi gentong yang membuat bangsa raksasa terlihat selayaknya semut. Anggukan kecil terlihat diwajahnya sambil menyusuri dapur sebelum akhirnya bertaut pandang dengan Sandi dan memberikan salam pada sang Jeeva Chakravarthy yang segera membalas salamnya dengan membungkukkan badannya seraya tersenyum. Saat itu begitu saling memberi salam Ihsan meneruskan perjalannya hingga keluar dari bagian dapur keratonnya.
Dalam langkahnya yang tenang Ihsan menyusuri lereng Kailash. Menyusuri gunung yang terus meninggi dan melebar dengan langkah kakinya yang mengantarkannya dalam sekejap menuju bagian lain keratonnya, sebuah laboratorium yang saat itu digunakan untuk meracik multivitamin dan obat. Disana Ihsan menyapa Kusuma yang saat itu dengan telaten meracik tablet penambah darah sembari memindahkan beberapa barang tak terpakai menuju tempat sampah melalui lorong yang penuh dengan herbal kering, kandang ular, botol-botol minyak ikan serta rak yang penuh dengan guci dan dijaga ketat oleh orang-orang yang sedang menumbuk mariyuana, menyaring kristal opioid dan berbagai hal lain hingga muncul bubuk putih yang segera dimasukkan dalam guci dan disegel rapat-rapat untuk memenuhi kebutuhan instalasi gawat darurat dan perawatan khusus.
Seusai dari laboratorium Ihsan kembali melangkahkan kakinya menyusuri lereng Kailash dengan kecepatan yang sulit diterka akal manusia dan kini mencapai studio. Disanalah Ihsan melihat layar-layar menyala, terhubung pada kamera-kamera yang diterbangkan ke seluruh Kailash untuk meliput pernikahannya. Melihat kabar-kabar berita dan menyapa Bhatara yang saat itu mengerjakan redaksi hari itu. Saat itu sembari terus berjalan Ihsan membaca beberapa berita termasuk beberapa rencana ekspedisi menuju wilayah Ananta Sunyata termasuk ditemukannya berbagai anomali di wilayah yang tak berujung itu. Sebuah senyuman kecil terlihat diwajahnya begitu melihat berita bahwa banyak wilayah baru yang kini bisa dihuni umat manusia namun sedikit rasa was-was juga menjalar dihatinya mengingat apa yang bisa dilakukan umat manusia saat dikuasai hawa nafsunya sebelum akhirnya berganti dengan senyuman lagi begitu mengingat ayat-ayat Tuhan atas segala rencana-Nya yang tak pernah bisa Ihsan bayangkan bagaimana hasilnya. Hari itu dengan senyuman kecil dia meninggalkan ruang media dengan harap-harap cemas tentang masa depan yang menyimpan banyak cerita, sesuatu yang mungkin akan membawa tawa atau derita, sesuatu yang bisa saja dia lihat atau mungkin saja tidak namun setidaknya hari itu dia senang menyaksikan umat manusia ingin berkembang.
Ihsan menghela napasnya dan meneruskan perjalanannya menyusuri jutaan kilometer benteng keratonnya hingga mencapai bagian lain keratonnya dimana Alan menyambutnya. Sebuah salam hangat dan beberapa do'a segera keluar dari mulut keduanya sebelum Ihsan kembali berkeliling. Disana Ihsan menyaksikan sendiri tungku-tungku energi serta beberapa lingga-yoni yang mulai mengalirkan energi bersih untuk seluruh penjuru planet yang ditinggalinya, sebuah mahakarya yang dia sendiri cetuskan sedari kecil dan kini sudah berkembang setelah beribu kegagalan dan berbagai peningkatan. Peningkatan terbarunya akan dirilis saat pernikahannya nanti, sebuah lingga-yoni yang akan dia nyalakan bersama istri tercintanya dan kini sedang dibawa menuju altar dipuncak Kailash. Perlahan dia menggeser pandangannya dan menyaksikan senjata-senjata yang tak terhitung jumlahnya dinyalakan dengan surplus energi yang melimpah ruah dari lingga-yoni miliknya, busur yang bisa melepaskan panah hingga ke angkasa, zirah yang sanggup menahan ledakan bintang, cakram yang akan mengejar musuh sampai ke ujung semesta, trisula yang sanggup menggetarkan benua dan berbagai senjata lain. Saat itu Ihsan terdiam sejenak sebelum kembali memandangi tangannya, mengingat hari dimana dirinya meruntuhkan langit saat berseteru dengan saudaranya dalam perang yang dikenang dunia sebagai harihara dharmayudha, peristiwa yang bagi umat manusia adalah titik balik peradaban, peristiwa yang juga membuatnya memikul gelar Maheshwara. Namun jauh didalam benaknya peristiwa itu adalah hal yang seharusnya bisa dia selesaikan dengan beberapa cangkir kopi, potongan pisang goreng dan beberapa mangkuk mie ayam bersama keempat saudaranya. Tak lama kemudian Ihsan segera mengeluarkan trisulanya sendiri untuk menemani langkahnya keluar dari ruang pembangkit energi.
Dengan tenang Ihsan melangkahkan kakinya menuju bagian lain dari keratonnya dimana saat itu sambil menyapa pohon-pohon di jalur perjalanannya Ihsan menyaksikan vimana-vimana yang melayang diatas Kailash sebelum akhirnya menyaksikan Faisal yang berdiri memandu vimana-vimana berlabuh di langit Kailash. Saat itu Ihsan terdiam sejenak memandangi pria itu. Seseorang yang tak seharusnya berdiri disana karena takdirnya seharusnya sudah berhenti diperang sebelum dirinya terlahir namun dia memanggilnya kembali dengan mahamrityunjaya seperti Kusuma, Bhatara dan para perwira perang lainnya yang dia panggil dari alam baka dan kini hidup lagi bersamanya sebelum akhirnya dia mengingat fakta bahwa kembar dari calon istrinya juga pernah mati dan kini hanya berdiri sebagai calon iparnya karena mantra yang sama yang digunakannya untuk memenangkan pertempuran yang telah mengobrak-abrik tatanan Dunia. Dalam putaran memori itulah Ihsan menyapa Faisal sembari sedikit membantunya memandu vimana berlabuh, sesekali dia juga mengecek isi ruang otomotif dan dengan cepat menangani beberapa gear, sasis, mesin pendorong dan pembakar disana sebelum kemudian keluar dari bagian bengkel keratonnya.
Ihsan kembali menyusuri keratonnya dan saat itu melihat sepohon ara yang sedang ranum. Melihat itu Ihsan segera menghentakkan sisi bawah trisulanya ke pohon itu dan dua buah ara jatuh tepat ketangannya yang dia bawa sampai menuju ruang opera di keratonnya dimana Gifar menyambutnya. Senyum tipis dan jabatan tegas dari Ihsan segera membalas sambutan itu sambil perlahan Ihsan masuk membawa dua buah ara itu kedalam ruangan dan disanalah dia menyaksikan Shafa duduk dipinggir kolam, sudah dalam keadaan separuh dirias.
"Apa yang engkau pikirkan Setyananda," tanya Ihsan sembari meletakkan satu buah ara ditangan Shafa.
"Tidak tau mas, duduklah dulu," sahut Shafa.
"Apa yang mengukir galau di rupa wanita yang membuat bidadari malu menampakkan wajahnya di Dunia," tanya Ihsan sembari duduk disebelah Shafa lalu memakan ara ditangannya.
"Engkau mengerti kalau ada tanaman yang tak bisa berbuah meski bunganya indah bukan, bagaimana kalau aku salah satunya," tanya Shafa.
"Kau pernah mengeceknya atau tidak," tanya Ihsan.