"Terimalah ini Prabhu, semoga busur ini bisa engkau jadikan pinakamu yang baru," ucap Anas sembari menyerahkan sebuah busur pada Ihsan.
"Terimakasih pak, engkau memang sangat perhatian padaku, maafkan aku ya, kurasa sebentar lagi aku tak bisa sesering sekarang bicara padamu," ucap Ihsan sembari mengambil busur itu dengan satu tangannya dan segera menalinya.
"Busur dan panah ini terlalu berat untuk manusia biasa, padahal aku merancang pinaka agar bisa digunakan pemanah pemula, ah mungkin aku bisa mengakalinya agar orang-orang menganggap ini busur suci dan menggunakannya hanya untuk acara seremonial," pikir Ihsan sembari mendentingkan tali busurnya saat kakinya mulai meretakkan bebatuan.
"Tidak apa-apa Prabhu. Nyai jauh lebih pantas menerima perhatianmu daripada diriku," ucap Anas.
"Hahaha, engkau memang orang yang tulus pak Anas, bagaimana kalau setelah ini engkau saja yang simpan busur ini," ucap Ihsan.
"Tapi saya tidak yakin saya bisa menggunakannya dengan baik Prabhu, tangan saya takkan sanggup merentangkan busur sekuat itu," ucap Anas.
"Kalau begitu simpan saja, gunakan saat acara-acara yang menurutmu penting saja," ucap Ihsan.
"Baik Prabhu, saya akan dengan senang hati menyimpannya," sahut Anas.
"Aku ingin melihatnya sekali lagi Prabhu, tolong tembakkan panahmu yang indah itu untuk memulai acara malam ini," pikir Anas yang terpaku memandangi Ihsan yang sedang memilih anak panah.
"Dengan ini aku akan mengakhiri masa lajangku, wahai Tuhan, apapun ujian yang akan engkau berikan padaku kelak tolong berikan juga kemudahan," pikir Ihsan sembari memilih dan mengambil salah satu anak panah dimeja.
Hari itu dibawah langit mendung Ihsan mulai mengambil ancang-ancang dan menyaksikan orang-orang berbaris disekitarnya. Keempat saudara seperjuangannya telah duduk melingkari altar ditengah gerimis dipuncak Kailash sementara orangtua dan mertuanya dia tempatkan pada singasana dibawah tudung kepala vasuki dan para tamu bersila dibawah gerimis dengan khidmat, berjajar membentuk jalan menuju Shangkara yang sedang membidik langit dipuncak Kailash. Saat itu juga muncul kedua wanita bertopeng dihadapan Bhairava dan berjalan menuju sebuah arena tepat didepan altar sebelum akhirnya mengambil ancang-ancang tepat dihadapan Nataraja yang saat itu segera menoleh langit yang menangis haru.
Saat itu Ihsan mengecek kembali tamu-tamunya, memandangi seluruh Kailash sebelum akhirnya menghirup napas dalam-dalam dan segera merentangkan busurnya dan menembakkan panah ke angkasa menjebol mendung agar purnama bisa menyaksikannya dengan jelas. Begitu awan mendung tersingkap dan cahaya rembulan menerangi arena itulah kedua wanita bertopeng itu mulai beradu serangan. Gadis bertopeng putih memulai serangan sengan menembakkan beberapa roket kearah gadis bertopeng kelabu yang menerjang kedepan menerobos roket-roket itu menuju si topeng putih sembari menembakkan meriam angin dengan tinjunya dan memperlihatkan gelang-gelang tempurnya yang menyala biru serta sahasrakavacha yang baru didapatnya yang menunjukkan identitasnya, Kaumari Rasha. Begitu Meriam angin Rasha ditembakkan itulah si topeng puting segera menahannya dengan membuat kedua sayap untuk menahan serangan itu meski masih juga sayap itu robek dibuatnya. Siputih belum mencoba untuk berhenti dan saat itulah zirah perangnya berubah menjadi zirah mekanik dan saat itu juga dia memperbaiki sayapnya dan membentangkan sisanya untuk melengkapi ketiga pasang sayapnya sebelum melepaskan cahaya yang membutakan sembari menembakkan bulu-bulu sayapnya yang menjelma menjadi pedang pada Rasha sembari mengeluarkan pedang dan perisainya sebelum berjalan menuju Rasha sembari menyalakan cahaya jingga bhaktanetra untuk menatap Rasha yang masih separuh hati bertarung.
"Kau jangan menahan dirimu disini mbak, kita perlu menunjukkan pertandingan yang seru pada orang-orang ini," bisik siputih yang merupakan Sekar.
"Hmm kurang mencolok ya, maaf Sekar, aku tak punya banyak serangan yang mencolok," sahut Rasha seraya menyalakan gelang tempurnya.
"Hehehe, baiklah kalau begitu," sahut Sekar sebelum mengalirkan listrik ke pedangnya dan mulai menyerang Rasha.
Saat itu juga Rasha segera menepis serangan Sekar yang langsung melanjutkan dengan beberapa tembakan bulu sayapnya yang memaksa Rasha untuk menghindari serangan itu dan membelah beberapa dengan tebasan angin yang membuatnya meledak. Dalam gejolak debu itulah Sekar bergerak, terus memodifikasi persenjataan zirahnya untuk menyerang dari jarak jauh sementara Rasha dengan anggun menepis serangan demi serangan dengan tangannya sembari mulai menggerakkan tangan dan pinggulnya serta memainkan pandangan matanya ditengah gempuran serangan Sekar sebelum akhirnya menyerang balik dengan melepaskan beberapa angin ke angkasa.
...