"Sendhika dhawuh Prabhu."
Lantun suara Shafa terdengar samar mengalir syahdu ke telinga Ihsan sebelum semerbak melati merambat keluar dari tenda sang ratu yang saat itu mulai menampakkan rupanya. Jemari kecilnya mulai terlihat memegangi pintu tenda sebelum ujung sepatunya keluar menginjak Kailash dan akhirnya wajahnya keluar menerobos tirai tendanya, menyampaikan senyumnya pada Ihsan yang saat itu terdiam menyaksikan sang ratu berdiri di hadapannya dengan baju kurung hitam pekat dengan bordir butiran permata dan jubah hitam panjang berhiaskan mutiara membungkus rapi pundak sampai mata kakinya sementara kakinya sendiri saat itu dibungkus jarik sutra yang ditenun dan dibubuhkan batik yang telah ditulis sebelumnya oleh penyanting pilihan dan diikat dengan selendang merah panjang yang berada di pinggulnya serta sebuah kalung permata merah berbentuk hati yang terlihat didadanya, sebuah kalung yang sudah ada disana semenjak Jonggring Saloka belum terbersit dihati Shangkara.
"Ahhh sungguh indah," pikir Ihsan di tengah degup suara jantungnya yang berpacu.
"Tenangkan dirimu putraku," ucap Rani yang bisa mendengar suara jantung menantunya.
Mendengar itu hanya membuat senyum Ihsan semakin lebar sebelum akhirnya Akhmad memegang pundaknya dan menjabat tangannya sementara Ikal merangkul putranya itu dari belakang.
"Sebelum ku nikahkan engkau dengan putriku wahai Shangkara tolong musnahkan keraguanku," ucap Akhmad sambil menjabat tangan Ihsan didepan pilar cahaya dipuncak Kailash.
"Sampaikanlah ayah," sahut Ihsan.
"Sanggupkah engkau menjaga putriku dari lapar dan dahaga," tanya Akhmad.
"Dengan izin Tuhan, takkan kubiarkan lapar dan dahaga menyentuh putrimu sebelum habis daging ditubuhku dan kering tenggorokanku," sahut Ihsan.
"Sanggupkah engkau melindungi putriku dari kebusukan hati manusia, sengaja atau tak disengaja," tanya Akhmad.
"Dengan izin Tuhan akan kujaga kesuciannya saat dia berkelana dibumi Tuhan, akan ku potong tangan-tangan yang berusaha menjamah kesuciannya dan akan ku bungkam mulut-mulut yang membicarakan keburukannya," sahut Ihsan.