Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #92

Kok Iso

"Hoaaaaahmm, alhamdulillah, eh kok, oiyo wes dadi garwaku ya, Setya, mbak Setya, tangi, ah sek ngantuk koyok e, ojo lah, mesakne," gumam Ihsan yang perlahan mulai berdiri dan kembali menyelimuti Shafa.

"Uhhhhmm, alhamdulillah, eh mas!?, heeeeh!!!?, ndi wonge, huaaaa aku ditinggal, aduduh, huuk, aduuh kok rodok mumet yo, ah kesuwen mambengi kayak e," gumam Shafa sembari mencari-cari Ihsan.

"Oh udah bangun, minum dulu gih," ucap Ihsan sembari membawakan segelas air putih.

"Nuwun kangmas, panjenengan sejak kapan bangun," tanya Shafa.

"Barusan, hmmh bojoku jek ngantuk ya, mau tidur lagi mbak Tya," tanya Ihsan sembari mengusap mata Shafa.

"Ihhh nggak kok mas, aku juga bisa kok bangun sepagi dirimu," sahut Shafa sedikit kesal.

"Hahaha, yaudah, mau sarapan apa," tanya Ihsan.

"Aku saja yang siapkan sarapan mas, panjenengan siapin yang lain mawon," ucap Shafa.

"Oh okelah kalau begitu, ayo kuantar ke dapur dulu, biar tau. Nanti aku siapkan baju buat shubuhan lalu lanjut keatas ya," ucap Ihsan sembari menggenggam tangan istrinya itu.

Mendengar itu Shafa hanya mengangguk kecil sebelum akhirnya Ihsan berdiri menuntunnya menuju dapur dan menunjukkan tempat-tempat penyimpanan bahan makanan dan alat memasak sebelum akhirnya pergi untuk menyiapkan sepasang set pakaian untuk dipakai masing-masing sebelum akhirnya mandi, meninggalkan Shafa didapur.

"Eeeeh, pusiiing, kenapa banyak sekali, terus badanku ini kenapa, kok rasanya ada yang aneh," pikir Shafa sembari menyiapkan sarapan.

...

Pagi itu semuanya akhirnya sudah siap, Ihsan dan Shafa baru saja membersihkan diri dalam keadaan taman yang sudah disiram dan ternak yang sudah diberi pakan, kini mereka duduk bersila diruang makan dimana dua mangkuk sup hangat beserta potongan steak dan kentang rebus serta sayur dan buah-buahan sudah tersaji beserta seketel jahe hangat. Setelah berdo'a mereka berdua mulai makan namun begitu keduanya memulai makan Ihsan segera menyadari wajah Shafa yang masam.

"Ada apa, apa yang membuat Setyanandaku tak enak hati," tanya Ihsan.

"Gapapa mas, gimana masakannya, enak kan," sahut Shafa balik bertanya.

"Tentu saja, nampaknya kamu khawatir sekali aku gak suka sampai masam gitu, enak kok, udah ya, lanjut makan dulu," sahut Ihsan sebelum melanjutkan makannya.

"Iya mas," sahut Shafa yang juga melanjutkan makannya.

"Ahhh aku cerita atau tidak ya, mas Ihsan kayaknya udah capek ngurusin banyak hal, kalau kangmas kepikiran gimana, masak baru sehari udah gak enak badan, tahan dulu lah paling cuma masalah adaptasi ke lingkungan baru, kalau belum sembuh juga baru ke dokter, ah nanti aku tanya Shifa aja mungkin ya, duuh semoga bukan penyakit yang susah diobati," pikir Shafa sembari makan.

...

Beberapa saat setelah itu Ihsan dan Shafa berangkat untuk melakukan ibadah shubuh bersama orang-orang dari berbagai sudut semesta. Disana setelah menuju bagian jamaah putri Shafa menerima selamat dari banyak orang dan setelah beberapa waktu dia akhirnya bertemu Shifa yang sedang bersama Sekar dan karyawatinya dulu. Setelah menyapa mereka akhirnya memposisikan shaf mereka sebelum akhirnya ibadah shubuh dimulai.

Beberapa saat kemudian mereka akhirnya selesai dan Shafa segera merapikan dirinya saat kerumunan jamaah putri mulai merapat, berusaha bersalaman dengannya meski wajah lesu Shafa memang tak bisa disembunyikan sehingga akhirnya ibu dan ibu mertuanya melihat dan memisahkannya dari kerumunan.

"Kamu kenapa nduk Shafa, kamu diapain sama anakku tadi malam," tanya Nita.

"Nggak kok bu, nggak papa, mungkin lemas karena baru pindah aja," ucap Shafa.

"Yaudah, kamu istirahat aja dulu. Ihsaaan!!!, Shafa gak ikut keatas yaaa!!!," ucap Nita sebelum memanggil putranya.

"Nggih ibuu," ucap Ihsan yang bergegas tiba setelah berbincang dengan temannya.

"Duuh kenapa anakku ini. Eh sek tah, kok kayaknya, ah gak juga kayaknya, gak mungkin secepat itu," pikir Nita.

Lihat selengkapnya