"Pie rasane rabi dek," seru Alim sembari melemparkan sudarshana kearah Ihsan.
"Jajalen dewe cak, susah dijelaske," sahut Ihsan sembari menepis sudarshana.
"Kayaknya seru, rupamu gak iso ngapusi, mantep yo," ucap Yusuf sembari menembakkan brahmastra.
"Mantep lah bos, rumah dah gak sepi," ucap Ihsan sembari menetralisir brahmastra.
"Aseek, dadi pingin rabi pisan," sahut Alim sembari mulai bertukar tinju dengan Ihsan.
"Haha, bulan depan ya cak, mantap lah," sahut Ihsan sebelum mendorong Alim menjauh dengan meriam angin.
"Yoi," sahut Alim seraya mengeluarkan busur sharanga dan membidik Ihsan.
"Suf, kau kira pusaka apa yang cocok untuk anakku nanti," tanya Ihsan sembari mengeluarkan busurnya sendiri.
"Emang kau sudah punya anak?, baru juga sehari," sahut Yusuf sembari mengeluarkan gandiwa miliknya.
"Hehehe, bersiap aja," sahut Ihsan sembari menghindari serangan Alim dan membidik balik.
"Coba tanya dulu ke Shafa, dia udah dapat apa belum," ucap Alim sembari terus membombardir Ihsan dengan anak panah.
"Kayaknya terlalu pede bisa punya anak dalam sekali coba tapi kurasa berhasil deh, gak tau lagi sih," sahut Ihsan seraya mengimbangi hujan tembakan sharanga dan gandiwa dengan panahnya.
"Ihsaaaaan!!!, Shafa pingsan!!!," suara Steve membelah cakrawala dan seketika menghentikan latihan.
"Heh!?, Shafa kenapa mas!!," sahut Ihsan.
"Udah ayo berangkat aja, pestanya juga udah selesai toh!!!, aku sama Lintang duluan kesana ya," sahut Steve dari kejauhan.
"Hmm nampaknya aku harus pulang," gumam Ihsan.
"Kita ikut," sahut Alim.
"Iya, kayaknya serius," ucap Yusuf.
"Ayolah," sahut Ihsan seraya meredam tekanan energinya menyudahi latihan hari itu.
...
Sesampainya dirumahnya, Ihsan bersama Alim dan Yusuf melihat Steve, Lintang dan orang-orang lain berjajar didepan pintu, menundukkan pandangan.
"Shafa kenapa mas!!," seru Ihsan.
Semua orang diam.
"Shafa kenapa mas!!!!," teriak Ihsan.
"Masuk le, jangan teriak-teriak, yang lain tunggu diluar," ucap Akhmad sembari membuka pintu.
"Shafa kenapa pak," sahut Ihsan seraya menghampiri mertuanya yang diam saja.
Disaat bersamaan Ikal juga keluar lalu mengisyaratkan pada Ihsan untuk menutup mulut lalu mempersilahkannya masuk dan meminta yang lainnya keluar dari ruangan agar Ihsan dan Shafa bisa bicara berdua.
"Oi Shifa, ada apa sebenarnya," tanya Alim berbisik.
"Ssshh diam dulu, nih," bisik Shifa sembari memberikan catatannya.
"Heeeh, cepat juga, kau kok gak langsung bilang, dia jadi panik gitu looh, tapi baguslah," bisik Alim.
"Biar Shafa sendiri yang beritahu, jangan ganggu momennya lah mas," ucap Shifa.
"Oooh oke," sahut Alim yang mulai tersenyum.
"Aah gabisa nih, masak aku diam aja, bawa apa kek," pikir Alim sebelum akhirnya melesat pergi.
"Hei, aduhh mau pergi kemana dia," panggil Shifa.
"Heealah mau ngasih hadiah duluan dia, kampret, aku juga mau," pikir Yusuf sebelum juga melesat pergi.
"Ya Allah, main ngacir ae," gumam Sekar.
"Mboh lah, gak mau nunggu sebentar aja," sahut Shifa.
...
Sementara itu didalam rumahnya Ihsan segera mengambil air, mencuci tangannya dan segera memperbaiki posisi Shafa. Setelah itu Ihsan kembali menuju kebelakang untuk memetik beberapa bunga lalu menyalakan lilin dan mengambil sebuah wadah kaca serta sebuah dudukan kayu sebelum akhirnya dia meletakkan lilin lalu memasang dudukan kayu tadi dan meletakkan wadah kaca diatasnya dan mengisinya dengan air lalu memasang saringan kain kecil yang dia gantungkan dengan tali diatas wadah kaca, membiarkannya menyebarkan bau segar ke ruangan.
...
Satu jam berlalu dengan cepat, kini sinar mentari sudah menerobos jendela kamar tepat kepada Ihsan yang masih menunggu mata Shafa terbuka.
"Harusnya tak kutinggalkan dia sendiri, mungkin dia harusnya punya pembantu disini tapi siapa yang sempat melakukannya ya," gumam Ihsan.