"Loohhh masih sejam lagi waktu dzuhur, aku bisa agak santai jalan kebawah," pikir Ihsan saat memperhatikan jam.
Tak lama Ihsan segera bersiap, merapikan kausnya dan menyisir rambut sebelum akhirnya berjalan ke dapur dan melihat bekal sudah disiapkan.
"Ibu yang buatkan kah," pikir Ihsan sembari berjalan ke teras samping.
"Ibu, panjenengan yang buatkan bekal kan, terimakasih ya," ucap Ihsan begitu sampai diteras samping.
"Hah!?, nggak le, kami berempat disini daritadi," sahut Nita.
"Oooh," sahut Ihsan sebelum berpaling.
"Hmmmh, masih mencoba bikinkan aku bekal disaat seperti ini ya, bukannya dia masih lemas," pikir Ihsan sebelum berjalan ke kamarnya untuk mengambil baju.
Begitu sampai dikamar Ihsan akhirnya melihat istrinya yang sedang menyetrika dan baju-bajunya yang biasa dia pakai di keraton sudah rapi.
"Setyaa?, ngapain disitu," tanya Ihsan.
"Eee lagi menyetrika mas, kenapa memangnya," sahut Shafa.
"Kamu yang buatkan bekal juga," tanya Ihsan yang diikuti sebuah anggukan.
"Kamu gak capek melakukan ini," tanya Ihsan yang diikuti gelengan kecil.
Melihat itu Ihsan hanya menghela napasnya sebelum tersenyum tipis pada Shafa yang saat itu mencoba memalingkan mukanya saat Ihsan berjalan keluar sebentar lalu kembali membawakan air dan pisang untuk Shafa.
"Setidaknya kalau kamu mau kerja gini bawalah air, minum yang banyak, ini ada pisang juga, makan ya," ucap Ihsan sebelum dirinya memakai baju dan jubahnya.
"Iya mas," sahut Shafa.
"Jaga dirimu, aku berangkat dulu," ucap Ihsan sebelum mencium kening Shafa dan beranjak pergi.
"Aaaah, maniseee," jerit Shafa saat Ihsan beranjak pergi.
...
Sore hari telah tiba dan saat itu Shafa sedang membersihkan rumah sambil membawa botol air ditangannya yang sesekali dia minum sambil bersenandung dan membersihkan perabotan.
"Kenapa mantumu itu bu," tanya Rani yang sedang membersihkan langit-langit.
"Anakmu kui," sahut Nita yang sedang mengelap jendela.
"Hahaha, biarin ajalah buk, emang lagi lucu, dulu kan kita begini juga," sahut Ikal yang sedang memberi pakan ternak.
"Jelas, namanya aja manten baru, moga aja akur terus, eh sek ini kopi ya," ucap Akhmad yang sedang menyiangi taman.
"Iya pak," sahut Ikal.
"Mantep tenan putrane pak," ucap Akhmad.
"Lhooo makane itu putrine panjenengan mau," sahut Ikal.
"Betul itu pak," ucap Akhmad.
"Oiya katane kalau mau kita bisa ambil," ucap Ikal.
"Alah nunggu mas Ihsan pulang aja kalau mau ngambil," ucap Akhmad.
"Byoooh, isya' paling isuk baline pak, malah biasane luwih wengi," ucap Ikal.
"Oiyoo, mungkin ini buat tamu juga, ah biarin lah kapan-kapan aja," sahut Akhmad.
"Sampean kok kaget pak, mantumu kan raja," sahut Rani dari dalam.
"Hahaha bukan kaget bu, cuma ini bau kopinya enak banget, kayaknya ini kopi ganjur, pahitnya lembut dan agak asem dikit, bagus juga selera anakmu pak," ucap Akhmad.