Ardanareshwar

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #95

Konco Gesah

"Mas," ucap Shafa diatas ranjang.

"Iya," sahut Ihsan sembari menyalakan lampu minyak lalu mematikan lampu didinding kamarnya.

"Boleh aku memohon sesuatu," tanya Shafa.

"Apa Setya," sahut Ihsan.

"Biarlah aku saja yang menyiapkan makan dan baju, setidaknya yang dari keluarga kita saja," ucap Shafa.

"Dari keluarga kita saja kan," tanya Ihsan.

"Iya mas," sahut Shafa.

"Yaudah kalau memang itu membuatmu senang, aku akan beritahukan pada yang lain," ucap Ihsan sebelum membaringkan tubuhnya, memeluk Shafa dan memejamkan matanya.

"Kayaknya pelayananku agak berkurang dari kemarin, ini tidak bagus, aku harus bisa memuaskan suamiku, batasannya hanya saat datang bulan saja kan, selain itu aku harus bisa memberikan performa terbaikku, hhh aku perlu melatih lagi staminaku," pikir Shafa sebelum juga memejamkan matanya sembari memeluk balik suaminya itu.

...

Pagi-pagi buta mata Ihsan sudah terbuka. Terdiam sejenak melihat langit-langit rumahnya sebelum menoleh kearah Shafa yang masih terlelap sambil memeluk erat tubuhnya.

"Ahh aku perlu menahan nafsuku, dia sedang mengandung anakku sendiri, kok bisa aku termakan rayuannya, kenapa pula dia mengajakku, kalau sampai dia keguguran bagaimana, ahhh gimana sih, kok dia merayuku tadi malam, kok bisa pula aku lupa kalau dia, ahhh, harus cek kesehatan nampaknya," pikir Ihsan sembari mencoba menegakkan badannya, mengangkat pelukan Shafa dari tubuhnya yang pada akhirnya membuat istrinya itu terbangun.

"Pagi kangmas, sudah bangun dari kapan," ucap Shafa sebelum mencium pipi suaminya.

"Pagi Setya, barusan sebenarnya, ehh aku mau ambil minum, cuci muka dan ibadah dulu," sahut Ihsan sebelum beranjak pergi.

"Ah mak, gagal lagi, kok sulit banget ngomongnya, hhh bapak dan ibu udah pulang juga tadi malam, kok malah kicep ki lho aku," pikir Ihsan.

"Hmmh, dia masih belum terbiasa dengan keberadaanku ya, gapapa, harus bisa membuatnya terbiasa, semangat Shafa," pikir Shafa sebelum mengikuti Ihsan.

Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah, kemudian keduanya bersuci dan mengawali hari mereka dengan melakukan ibadah bersama. Ihsan berjalan keluar menuju sebuah asrama kecil dimana para pembantunya tinggal untuk membangunkan mereka sementara Shafa segera menuju dapur untuk mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas.

"Hari ini mungkin lemuru bakar dan sambal akan cocok, sedikit sayur kelor juga bisa menyegarkan, ah itu sajalah," pikir Shafa seraya mengeluarkan beberapa ekor ikan, sayur kelor dan bumbu-bumbu.

"Eh Nyai, kenapa panjenengan yang masak, biar saya saja," ucap Hani begitu memasuki dapur.

"Sampeyan nanti siapkan makan untuk teman-teman lainnya, aku tetap akan masak untuk mas Ihsan dan diriku sendiri, setelah itu bantu aku membersihkan rumah, sekarang kalian bersihkan diri dulu," sahut Shafa tanpa memalingkan pandangannya dari ikan di talenan miliknya.

"Baik Nyai," sahut Hani seraya beranjak menuju kamar mandi asramanya.

"Bagaimana bu," tanya Ihsan begitu Hani berjalan keluar dari dapur.

Lihat selengkapnya