"Setya," panggil Ihsan seusai dirinya sarapan.
"Iya mas," sahut Shafa.
"Sekitar tiga hari aku tidak bertugas di keraton," ucap Ihsan.
"Oh ya!?, kamu libur," tanya Shafa dengan riang.
"Bukan, lebih kearah tugas keluar, ya juga bisa digunakan untuk jalan-jalan, ya anggaplah liburan, hmm kamu mau ikut jalan-jalan," tanya Ihsan.
"Mau mas," ucap Shafa.
"Baiklah, rapikan dirimu, setelah ibadah shubuh di keraton kita jalan-jalan," ucap Shafa.
"Dijalan sajalah aku bilang ini kunjungan, lagipula Manikabuana dan Satyabala juga lumayan bagus, aku menuju keraton Chiranjivi dulu setelah itu bisa jalan-jalan," pikir Ihsan sembari bersiap.
"Maaas," panggil Shafa.
"Iya Tya," sahut Ihsan.
"Mau bawa baju berapa," tanya Shafa.
"Tiga pasang saja, nanti kita disana beli baju," sahut Ihsan.
"Okeee," sahut Shafa.
...
Tak berselang lama seusai ibadah shubuh berjamaah Ihsan dan Shafa bergegas membawa barang mereka menuju lapangan terbang.
"Mas, bukannya kita hanya boleh menggunakan barang pribadi untuk kepentingan pribadi," tanya Shafa.
"Uhh sebenarnya ini juga barang milik kita," sahut Ihsan sembari menenteng koper.
"Hah!?, gimana maksudmu, kamu menaruh vimana milikmu di keraton," tanya Shafa.
"Gini mungkin Setya, seluruh barang dari grup bisnis Kailash itu secara teknis adalah hak milik kita, hal ini termasuk properti, kekayaan intelektual dan lahan yang pada akhirnya dijadikan Jongring Saloka," ucap Ihsan.
"Seluruh negeri ini milikmu seorang!?," tanya Shafa.
"Sekarang milik kita, tapi tolong jangan sembarangan menggunakan hakmu disini, sebanyak apapun yang kupegang sekarang itu adalah titipan dari Tuhan, tugas kita adalah menggunakannya untuk berbuat kebaikan," ucap Ihsan.
"Iya mas, lalu kalau begitu mana saja yang bisa kugunakan," tanya Shafa.