GEMA DZIKIR DI HULU BATANG LUBAI
"Air beriak tanda tak dalam, kabut di hulu petanda perang; jika iman sekecil sekam, binasalah negeri diinjak orang."*— Seloko Kuno Hulu Batanghari Sembilan, Terpatri pada Tiang Penyangga Surau Rengas
═══ ❀ ❀ ❀ ═══
Bagian 01 : Bait Wirid Penjaga Rimba
❀ ❀ ❀
Malam di pedalaman Batanghari Lubai tidak pernah benar-benar tidur; ia bernapas melalui desah dedaunan rengas yang pekat oleh getah beracun, melata bersama kabut tebal yang merayap turun dari punggung Bukit Barisan, dan berdenyut di dalam rongga dada Nata Kherti.
Di atas balai panggung surau tua beratap sirap kayu ulin yang menghitam dimakan lumut zaman, udara terasa beku dan tajam seperti mata keris yang baru dicelup bisa warangan. Lantai papan rengas yang direntang tanpa sebutir paku pun—hanya dipasak oleh pasak-pasak liat kayu nibung yang telah mengeras laksana besi—berderit halus setiap kali angin menyelinap dari celah dinding pelupuh bambu. Di sanalah, beralaskan sehelai purun yang telah menipis hingga ke jalinan jerami dasarnya, Nata Kherti duduk bersila. Tubuhnya tegap bagai cadas yang tak gentar dihempas riak jeram, namun di dalam rongga dadanya, ada gelora yang jauh lebih liar daripada pusaran Lubuk Mandi Mayat di hilir sana.
---
"Lā ilāha illallāh... Lā ilāha illallāh... Lā ilāha illallāh..."
---
Irama zikir itu keluar bukan sekadar dari getaran pita suara di tenggorokan, melainkan dihunjamkan dari dasar lambung, menyusup ke hulu hati, lalu dilepaskan menuju ubun-ubun seturut jalan napas Tarikat Syathariyah. Dalam setiap tarikan napas masuk yang hening dan panjang, ia mengunci rasa: *Nafi*. Menyingkirkan segala lintasan angan duniawi yang fana, meluruhkan rasa gentar, dan membakar sisa kesombongan darah muda yang kerap meronta. Pada setiap hembusan napas keluar: *Isbat*. Mengukuhkan ketetapan Yang Maha Wujud, tempat di mana sebutir pasir maupun sebuah kesultanan besar berdiri atas titah dan keridhaan yang sama.
Sudah tiga jam ia melarutkan diri dalam suluk malam itu. Butiran tasbih kayu arang hitam di jemari kirinya bergeser teratur, mengiringi detak jantung yang melambat hingga ke titik terendah. Di sekelilingnya, surau panggung yang dibangun oleh puyang buyutnya empat generasi silam itu seolah ikut bernapas. Tiang-tiang kayu rengas berdiameter sepemelukan orang dewasa itu tidak sekadar menopang atap; kayu itu konon ditebang dengan puasa pati geni di hutan larangan, kayunya liat tak mempan rayap, dan getahnya yang merah pekat dapat membutakan mata musuh yang berniat khianat.
Namun malam ini, ada yang cacat dalam sunyi itu.
Ada riak halus yang menabrak benteng keheningan batinnya. Ketika kening Nata menyentuh papan rengas dalam sujud tahajud yang panjang dan dingin, tanah ulayat Marga Lubai seolah mengirimkan gelombang kejut yang ganjil melalui tiang-tiang pancang surau yang tertancap di lumpur tebing sungai. Nata Kherti menahan napasnya di ujung diafragma—sebuah jurus dasar dari *Pukulan Hening Napas* warisan gurunya, Syekh Daud Karang Anyar. Dalam hening mutlak itu, indra penciumannya yang terlatih menangkap bau asing yang terselip di antara wangi getah damar, asap kemenyan tua, dan humus basah rimba perawan.
Bau mesiu.
Bukan mesiu kasar pengusir babi hutan yang kerap diramu para peladang Lubai dari kotoran kelelawar gua dan belerang mentah, melainkan mesiu halus beraroma garam sendawa Eropa—tajam, kering, berhawa belerang murni yang dibakar dalam tabung laras baja, membawa firasat kehancuran yang dingin dan tak kenal ampun. Angin hilir yang berembus pelan di atas permukaan air Batanghari Lubai membawa aroma itu sejauh belasan pal, merangkak melewati kelokan-kelokan sungai yang dijaga pohon merbau raksasa, lalu menyelinap masuk melalui kisi-kisi pelupuh surau.
Nata mengangkat kepalanya perlahan dari sujud. Pelita minyak jarak yang tergantung di tiang seri berkedip-kedip gelisah, melemparkan bayang-bayang panjang yang bergoyang tak beraturan di dinding kayu. Di luar jendela tanpa daun penutup, Sungai Batang Lubai mengalir hitam legam laksana lelehan aspal purba, berkilat di bawah selubung halimun tipis laksana punggung naga raksasa yang sedang mengeram menahan amarah. Di kejauhan, lolongan anjing hutan di kaki bukit mendadak senyap terputus—sebuah pertanda bahwa binatang-binatang rimba pun merasakan kedatangan bayang-bayang asing yang melanggar batas wilayah mereka.
Dada Nata berdenyut nyeri. Di balik selempang kain songket lusuh bermotif pucuk rebung yang membebat pinggang rampingnya, ada rasa hangat yang menjalar perlahan. Bukan hangat hawa tubuhnya sendiri, melainkan panas samar yang berasal dari sebongkah batu mustika lonjong berwarna ungu lumut yang diikat bingkai tembaga tua: *Pusaka Gemeling Shakti*.
Batu itu tidak pernah hangat tanpa sebab. Selama tiga generasi marga, sejak puyang buyutnya mengikat sumpah darah di tebing Batanghari dengan para Tumenggung Uluan Batanghari Sembilan, batu itu tidur dalam kerahasiaan batu cadas. Bila urat-urat mineralnya mulai berdenyut hangat, itu pertanda satu hal: tanah ulayat tempat ia bertumpu sedang dituntut balas oleh darah, atau ikatan janji kuno penahan bala telah retak dari dalam oleh pengkhianatan kerabat sendiri.
*‘Apakah mereka sudah sedekat ini?’* batin Nata Kherti bertanya-tanya, jemarinya meremas butiran tasbih kayu arang yang melingkar di telapak tangannya hingga buku-buku jemarinya memutih. *‘Kapal-kapal layar bertiang tiga milik serdadu berkulit pucat itu... bagaimana mungkin lambung kayu jati mereka yang gemuk dan berat bisa melewati dangkalan pasir Muara Enim dan jeram ganas Lematang, jika tidak ada lidah pribumi yang menjual rahasia kedalaman arus air?’*
Tenggorokannya terasa pahit bagai menelan getah empedu. Dalam kesendirian yang menindih itu, ingatan Nata terseret mundur melintasi waktu, ratusan pal ke hilir, menuju riuh kota pelabuhan Palembang Darussalam yang pernah ia singgahi dua musim silam.
Retrospeksi itu datang tanpa permisi, membawa kembali aroma bunga sedap malam dan melati keraton yang bercampur bacin lumpur Muara Musi. Kala itu, senja sedang meremang merah tembaga di Dermaga Tangga Raja, tepat di depan benteng keraton Kuto Besak. Nata sedang bertugas mengawal perahu ketek kajang yang membawa ratusan pikul balok getah lada hitam dari Uluan ketika kekacauan pecah di dermaga kehormatan bangsawan. Sebuah perahu jukung sarat muatan gabah terhempas arus pasang yang berputar ganas, menabrak tiang jermal lapuk tempat iring-iringan perempuan ningrat kesultanan hendak melangkah naik ke atas tandu berukir emas.
Nata masih ingat bagaimana jerit panik para dayang memecah keriuhan sore itu, dan bagaimana seorang gadis berkerudung sutra hijau lumut tergelincir ke pusaran air berputar yang kelam di bawah undakan tangga raja. Para pengawal kesultanan terpaku membeku, terhalang baju zirah dan selubung tata krama istana yang kaku. Tanpa berpikir panjang tentang hukum adat keraton yang mengharamkan orang dusun menyentuh bangsawan, Nata menerjunkan diri ke dalam arus keruh Musi.
Dengan satu sambaran tangan bersendikan tenaga dalam *Pukulan Hening Napas*, ia membelah pusaran air tanpa cipratan busa, menyambar pinggang ramping yang hampir ditelan kolong perahu, lalu mengangkat tubuh seringan kapas itu dari cengkeraman maut. Dengan loncatan seringan kepakan burung bangau, ia mendaratkan kakinya di undakan batu tangga raja sebelum perahu-perahu patroli sempat mengacungkan tombak.
Saat itulah mata mereka bertaut untuk beberapa helaan napas yang terasa kekal melebihi usia dunia.
Gadis itu adalah Raden Ayu Siti Zulaikha, putri bangsawan yang mengalir di tubuhnya darah para adipati pesisir dan kemenakan dari Pangeran Arya Kesuma yang disegani. Sepasang mata jernih laksana telaga gunung itu tidak memancarkan ketakutan orang yang nyaris tenggelam, melainkan memancarkan sebuah kedalaman jiwa yang ganjil—campuran antara keanggunan darah biru yang terpasung aturan adat dan kepedihan liar yang diam-diam memohon pembebasan. Dari balik kerudung basahnya yang melekat pada pipi pualam yang pucat, bibir Zulaikha sempat berbisik lirih sebelum ia direnggut paksa oleh tangan-tangan dayang yang histeris:
*"Siapakah namamu, Penjaga Rimba yang bertangan dingin dan bermata elang?"*
Nata tak sempat menjawab. Ia menunduk khidmat, menyadari jurang tak terperi yang memisahkan mereka berdua: ia hanyalah seorang anak rimba pedalaman berbau lumut dan getah rengas dari marga sunyi di hulu sungai, sementara perempuan itu adalah permata terpingit keraton yang debu tanah mentah pun diharamkan menyentuh telapak kakinya. Tetapi wangi bunga kenanga dan getaran tatapan mata Zulaikha hari itu tidak pernah benar-benar sirna dari ingatan Nata. Bayangan itu selalu kembali setiap kali Nata bersujud di malam sunyi—sebagai pengingat akan keindahan yang fana, sekaligus racun manis yang mengoyak ketenangan batinnya.
Sebab tiga pekan lalu, seorang kurir rahasia yang melarikan diri dari hilir membawa kabar yang menyesakkan dada: nama Raden Ayu Siti Zulaikha telah diletakkan di atas meja perundingan sebagai barang taruhan diplomasi antara keraton dan loji dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Demi mengamankan hak monopoli rempah-rempah dan mencegah armada meriam Belanda memblokade muara Sungai Musi, para pembesar istana merencanakan pernikahan politik Zulaikha dengan Kapitan Tan Jin Sing—saudagar kaya sekutu kompeni—atau bahkan menyerahkannya sebagai sandera kehormatan bagi perwira tinggi militer Belanda di loji Sungai Rendang.
*‘Ya Dzal Jalali wal Ikram...’* desah Nata dalam kepedihan batinnya yang paling purba. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke papan lantai surau yang dingin. *‘Mengapa di saat tanah ulayat leluhurku di ambang kehancuran, wajah perempuan yang tak mungkin kumiliki itu yang justru terus membelah sujudku? Apakah ini cobaan bagi jiwa yang belum tuntas melepaskan dunia, ataukah isyarat bahwa takdirku kelak akan bermandikan darah di pelataran Kuto Besak?’*
Nata menarik napas panjang, menekan gejolak asmara dan amarah itu ke dasar ulu hatinya dengan tarikan napas zikir penutup: *Hu... Allah*. Hawa dingin kembali merayapi sekujur tubuhnya, mematikan kepanikan sebelum sempat melahirkan keraguan.
Tepat saat zikir batin itu tuntas, suara desau semak di pelataran surau terpecah oleh derap langkah-langkah kaki tergesa yang menginjak ranting dan dedaunan basah.
Langkah kaki itu lebih dari tiga orang. Nata mengenali derapnya tanpa perlu menoleh: ketukan tumit yang mantap namun sarat beban milik Ki Rio Demang Lubai, disusul bunyi dentang ujung sarung parang yang membentur lutut milik Pendekar Dul Karim.